Kupi Beungoh

Milad Ke-42 GAM, Mengenang Teungku Chik Maat di Tiro: Sang Martir Aceh Merdeka

Sebelum memburu Teungku Chik Maat, Schmidt yang menjadi komandan dalam mencari para Ulama Tiro yang terakhir berupaya membujuknya.

Milad Ke-42 GAM, Mengenang Teungku Chik Maat di Tiro: Sang Martir Aceh Merdeka
Hand Over for Serambinews.com
Haekal Afifa, peneliti Pemikiran Teungku Hasan di Tiro, saat menerima kunjungan Dr Husaini Hasan ke Stan The Hasan Tiro Center di arena Museum Aceh, Banda Aceh, dalam rangkaian PKA-7, Agustus 2018. 

Oleh: Haekal Afifa*

DENGAN sengaja dan penuh nilai, Teungku Hasan Muhammad di Tiro mendeklarasi ulang Aceh sebagai negara merdeka pada tanggal 4 Desember 1976, tepatnya 42 tahun silam di Gunung Tjokkan, Pidie.

Bagi Teungku, tanggal ini sarat makna dan mampu melegitimasi perjuangannya di mata hukum internasional. 

Adalah Teungku Chik Maat di Tiro bin Tengku Chik di Tiro Muhammad Amin bin Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.

Pemuda yang masih berumur 16 tahun yang menggantikan posisi pamannya; Teungku Chik di Tiro Mahjeddin yang syahid dalam pertempuran di Gunung Halimon pada 5 September 1910. 

Sebelum memburu Teungku Chik Maat, Schmidt yang menjadi komandan dalam mencari para Ulama Tiro yang terakhir berupaya membujuknya.

Schmidt membangun hubungan dengan bibi Teungku Maat (Istri Tengku Chik di Ulee Tutue) agar mau membujuk Teungku Maat menyerah dengan baik-baik.

Tanpa sepengetahuan Belanda, puteri dari Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman ini pergi ke pegunungan Tangse menemui Teungku Chik Maat hanya sekedar ingin menyampaikan pesan Belanda, bahwa ia akan diburu.

Sepulang dari hutan Tangse, ia berujar; “Hana jalan. Djih leubéh dipiléh syahid lagé Du iéh!”

Lantas Schmidt menjawab “Jika demikian berarti ia akan menyusahkan dirinya”.

Halaman
1234
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved