Opini

Kesadaran Kolektif dan Eksistensi Wali Nanggroe

TIDAK banyak dalam kasus para revolusioner, pejuang pembebasan atau gerakan pemberontak yang telah berhasil

Kesadaran Kolektif dan Eksistensi Wali Nanggroe
SERAMBI/SENI HENDRI
MANTAN kombatan GAM Pereulak, Aceh Timur, Nasrul alias Tekong Nahon saat menyampaikan desakan agar Tgk Malik Mahmud Alhaytar mundur dari jabatannya sebagai wali nanggroe, Jumat (16/11). 

Oleh Iqbal Ahmady M. Daud

“Jika anda membuat rumit hidup anda secara berlebihan dalam hal materi, maka sebagian besar waktu Anda hilang untuk memenuhinya. Itulah sebabnya kenapa kami masih hidup hari ini seperti yang kami lakukan 40 tahun yang lalu, di lingkungan yang sama, dengan orang yang sama dan hal yang sama. Anda tidak berhenti menjadi orang sama hanya karena Anda menjadi presiden.” (José Mujica, Presiden Uruguay 2010-2015)

TIDAK banyak dalam kasus para revolusioner, pejuang pembebasan atau gerakan pemberontak yang telah berhasil dalam perjuangannya lalu meraih kekuasaan, memilih jalan hidup seperti José Mujica. Kebanyakan dari para “pahlawan masyarakat” di masa konflik tersebut, berubah perangainya ketika mencapai posisi tertentu dalam tataran politik maupun pemerintahan. José Mujica adalah pimpinan pemberontak Tupamaros, kelompok bersenjata berhaluan kiri yang terinspirasi revolusi Kuba dan sangat terpengaruh dengan pemikiran Che Guevara. Mujica pernah enam kali tertembak dan mendekam 14 tahun di penjara.

Giles Tremlett, menulis sebuah ulasan menarik di The Guardian (Kamis, 18 September 2014), di mana pada saat itu pamor Mujica sedang dipuncak, sosok mantan kombatan yang telah menjadi presiden namun masih memegang teguh ideologi dasar pemberontakannya. Seorang revolusioner dengan pemerintahan yang mewakili koalisi sayap kiri dengan segala implementasi kebijakan bahkan hingga ke dalam kehidupan pribadinya. Saat itu, Mujica benar-benar menjadi ikon baru layaknya seorang Che Guevara.

Apa yang paling terkenal dari Mujica? Adalah cara hidupnya. Pada saat menjadi kepala negara Uruguway ia masih mengendarai Volkswagen Beetle berusia 25 tahun. Lalu menolak tinggal di kompleks istana kepresidenan yang mewah dengan memilih tetap tinggal di sebuah rumah kecil di sebuah perkebunan kecil pedesaan, dan memberikan 90% dari gajinya untuk amal. Apakah itu pencitraan? Bukan, karena sistem Pemilu di Uruguay, presiden hanya bisa dipilih untuk satu periode. Ia benar-benar berusaha mempertahankan kehidupannya, layaknya pejuang dan rakyat biasa, tanpa terpengaruh dengan pin presiden di dadanya.

Revolusioner Aceh
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dipimpin oleh Hasan Tiro adalah satu pemberontakan yang termasuk ikonik. Selain karena durasi waktu konfliknya, juga karena faktor perjuangan GAM dibangun atas sebuah konstruksi berpikir filsafat pembebasan ala Hasan Tiro. Gerakan perlawanan ikonik di belahan bumi manapun selalu menyisakan sebuah nalar berpikir kritis sebagai landasan perjuangan.

Berbagai tulisan, buku dan ide yang dilahirkan oleh Hasan Tiro menunjukkan visi seorang revolusioner Aceh. Sampai dengan gaya hidup sederhananya yang tanpa melupakan kesan necis nan rapi-Hasan Tiro sebagai Wali Nanggroe Aceh versi pemerintahan calon negara baru yang sedang diperjuangkannya, seakan menunjukkan contoh ke pengikutnya bahwa kesederhanaan tidak akan menutup sebuah sifat elegan yang prestise dari seorang pemimpin. Kesederhanaan merupakan modal khas kaum pejuang untuk menggugah kesadaran kolektif masyarakat dalam beberapa kasus gerakan perjuangan pembebasan pada berbagai tempat di belahan dunia manapun.

Aceh pascadamai, sebagaian besar “para pengikut wali nanggroe” mengalami penyakit amnesia. Mungkin Aspinal adalah peneliti pertama sekali yang melemparkan data ke permukaan jika ada sisi lain dari proses transformasi mantan kombatan di Aceh. Ia menyoroti parade kemewahan mobil dan megahnya rumah dari para elite pemberontak GAM, dalam penelitiannya yang bertajuk Combatants to Contractors (2009). Walaupun laporannya terkesan terlalu tendensius, namun fakta yang dipaparkannya sesuai dengan yang sesungguhnya, dimana masyarakat dipaksa menyaksikan bangkitnya pola konsumerisme pada mantan kombatan.

Satu hal lagi yang terjadi setelah damai Aceh yang mungkin sangat kontras dengan kehidupan keseharian Hasan Tiro pada apartemen kecilnya di Swedia, Istana Wali Nanggroe yang diresmikan pada April 2016 dengan menghabiskan biaya hampir 100 miliar rupiah tersebut berdiri dengan angkuhnya di kawasan Lampeuneurut. Fasilitas istana mewah yang anggarannya sama dengan pembangunan 1.600 lebih rumah bagi duafa tersebut sekarang dinikmati oleh YMP Malik Mahmud Al Haytar, sebagai pemangku jabatan Wali Nanggroe versi Qanun Aceh No.8 Tahun 2012.

Tidak hanya itu, sejak mulai berjalannya Qanun, Wali Nanggroe juga dibekali dengan anggaran hingga ratusan milyar dengan minimnya aspek transparansi dana publik. Besarnya anggaran dan masih lemahnya kinerja lembaga Wali Nanggroe menurut persepsi masyarakat, memunculkan pecahnya sebuah pertanyaan besar bagi masyarakat Aceh mengenai eksistensi dari Wali Nanggroe. Apakah menjadi penting untuk mempertahankan lembaga ini?

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved