Salam

Uang Aceh Masih akan Terus Mengalir ke Luar

Seorang pejabat bidang perencanaan dan pembangunan Aceh mengatakan, pertumbuhan ekonomi Aceh

Uang Aceh Masih akan Terus Mengalir ke Luar
IST
Rustamm Effendi 

Seorang pejabat bidang perencanaan dan pembangunan Aceh mengatakan, pertumbuhan ekonomi Aceh saat ini masih jauh dari harapan. Tidak tumbuhnya industri menjadi salah satu penyebab Aceh masih bergantung pada Sumatera Utara (Sumut). Semua kebutuhan, mulai dari kebutuhan pokok, perkantoran, hingga bahan proyek didatangkan dari provinsi tetangga tersebut. “Ekonomi kita bocor. Aceh ini mengalami defisit perdagangan yang luar biasa. Tiap tahun ada Rp 35 triliun uang Aceh di bawa ke luar,” kata Kabid Perencanaan Pembangunan Ekonomi dan Ketenagakerjaan Bappeda Aceh, Martunis.

Sang pejabat menegaskan, Aceh mengalami bocor secara ekonomi, bukan bocor anggaran. Setiap tahun uang Aceh mengalir ke provinsi lain hampir 26 persen. Hal ini dikarenakan Aceh tidak memproduksi sendiri barang-barang yang menjadi kebutuhan masyarakat, termasuk beras, telur, dan sayur.

Kontribusi industri di Aceh yang berpengaruh pada pembangunan Aceh hanya 5 persen. Berbanding jauh dengan kontribusi industri di Sumatera Barat yakni 11 persen, dan Indonesia secara nasional hampir 21 persen. “Aceh mengalami deindustrilisasi,” katanya.

Tentang ekonomi Aceh yang sulit tumbuh, akademisi Unsyiah, Rustam Effendi, mengatakan karena Aceh tidak meriset atau menganalisis kondisi secara mendalam dalam menentukan strategi pembangunan. Pemerintah selalu membuat analisis kondisi secara umum tanpa data yang kuat. “Dalam dokumen RPJM Aceh saya lihat tidak pernah ada analisis kondisi dengan betul. Dokumen yang dibuat sangat umum, data sektoral tidak digunakan,” ungkapnya.

Kita melihat, bukan hanya pemerintah dan pedagang yang terpaksa membelanjakan uangnya ke luar Aceh, tapi masyarakat kelas menengah dan atas di Aceh juga kini sudah sangat “getol” membelanjakan uangnya ke luar Aceh. Masyarakat Aceh kini lebih memilih berbelanja dan berobat ke luar Aceh. Kota yang paling dituju, jika di dalam negeri adalah Medan dan Jakarta. Yang nggak kalah serunya, kini masyarakat Aceh juga sudah sangat tertarik ke Malaysia, terutama Kuala Lumpur dan Penang.

Di luar Aceh, mereka bukan hanya dapat berbelanja banyak pilihan serta berobat dengan pelayanan yang baik, tapi juga sekaligus dapat menikmati banyak hiburan, khususnya untuk anak-anak dan keluarga.

Kota-kota di Aceh seolah tak mempunyai daya tarik lagi bagi musim liburan sebagian masyarakat Aceh. Ini terlihat pada musim libur sekolah, berduyun-duyun warga Aceh yang menghabiskan masa liburan bersama keluarganya ke Kuala Lumpur, Penang, Medan, dan Jakarta. Apalagi, tiket pesawat ke Kuala Lumpur dan Penang jauh lebih murah dibanding ke Jakarta. Di kota-kota itu umumnya mereka menghabiskan waktu untuk berbelanja, jalan-jalan, dan makan-makan di pusat-pusat perbelanjaan mewah yang tak pernah mereka dapatkan di Aceh. Ingat, sekitar 30 persen masyarakat kita memang konsumtif dan semua orang butuh hiburan. Maka, mengalirlah uang Aceh ke luar karena yang mereka butuhkan tak bisa mereka dapatkan di sini. Nah!?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved