Apa Karya: Jangan Selalu Jual MoU

Mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Zakaria Saman alias Apa Karya mengapresiasi sikap Tgk Malik Mahmud Al-Haythar

Apa Karya: Jangan Selalu Jual MoU
SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
Zakaria Saman (Apa Karya) 

BANDA ACEH - Mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Zakaria Saman alias Apa Karya mengapresiasi sikap Tgk Malik Mahmud Al-Haythar yang berencana mencalonkan diri kembali sebagai Wali Nanggroe periode 2018-2023. Namun, Apa Karya meminta Malik tidak menjadikan isu ‘perjuangan’ atau tugas yang belum selesai sebagai alasan dirinya mencalon lagi.

“Jadi, nyang ka limong thon nyoe peu chit geupeuget, beklah peubloe-peubloe MoU Helsinki sabee, padahai peubuet hana le. (Jadi, yang lima tahun ini apa juga yang dikerjakan, janganlah selalu jual MoU Helsinki, padahal tidak berbuat lagi,” kata Apa Karya dalam bahasa Aceh khasnya, saat diwawancarai Serambi kemarin.

Serambi mewancarai Apa Karya untuk menanggapi isu Malik Mahmud yang berencana mencalon lagi sebagai Wali Nanggroe. Malik Mahmud menegaskan kembali mencalonkan diri sebagai Wali Nanggroe Aceh periode 2018-2023 seusai acara Milad Ke-42 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di kompleks makam Dr Hasan di Tiro di Kemukiman Meureue, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Selasa (4/12).

Apa Karya meminta, isu MoU Helsinki atau pun perjanjian damai agar tidak selalu dijadikan isu untuk kepentingan pribadi di saat-saat tertentu. “Sudah sekian tahun apa yang dihasilkan dengan MoU Helsinki, nggak ada apa-apa. Jangan sudah begini sudah bilang MoU Helsinki, sudah bilang perjuangan,” kata Apa Karya.

Tentang persoalan sosok Wali Nanggroe ke depan, Apa Karya berpendapat, biarkan saja berjalan sebagaimana mestinya, sesuai aturan dalam qanun dan siapa yang dikehendaki oleh masyarakat Aceh. Memang, kata Apa Karya, pemilihan Wali Nanggroe tidak dipilih secara umum, ada mekanisme pemilihan sebagaimana disebut dalam qanun.

Seharusnya, kata Apa Karya, Tgk Malik Mahmud tidak menyatakan diri mencalon kembali, lebih baik menyebutkan kembali maju jika memang dikehendaki oleh masyarakat Aceh. Artinya, biar orang di sekeliling yang menilai apakah dirinya masih layak atau tidak untuk menjadi Wali Nanggroe.

“Lam bahasa Aceh geukheun lage nyoe, bek tapeulemah napsu dikeu makanan, malee teuh dikalon le gob, ditepue that tanyoe deuk. (Jangan terlalu bernafsu di depan makanan, malu kita pada yang lain, kelihatan sekali kita lapar,” kata Apa Karya.

Soal memperjuangkan semua MoU Helsinki atau butir-butir perjanjian damai yang belum terealisasi, kata Apa Karya, semua masyarakat Aceh punya hak untuk itu. Jadi, memperjuangkan itu bukan hanya tugas seorang Wali Nanggroe. “Bek geupeugah karena perjuangan MoU Helsinki gohlom lheuh, makajih geu’ek lom. (Makanya jangan bilang karena perjuangan MoU Helsinki),” kata Apa Karya.

Menurut mantan menteri Pertahanan GAM ini, selama ini tidak sedikit orang yang terus menggoreng isu perjuangan yang belum selesai atau isu perjanjian damai (MoU Helsinki) untuk kepentingan pribadi. “Bandum peubloe MoU Helsinki, peubloe perjuangan, watei takalon ureung tuwoe keu perjuangan, laloe ngon peng. (Semua jual MoU, jual perjuangan, pas kita lihat orangnya, sudah lupa perjuangan, lalai dengan uang),” ujarnya.

Terakhir, ditanya Serambi apakah dirinya berniat mencalonkan diri sebagai Wali Nanggroe ke sepuluh? Apa Karya mengatakan “Tacalon lubha, tatulak cilaka. Jadi kiban chit, ta iem kudroe teuh, na ureung Aceh yang kalon. (Kalau kita mencalonkan diri itu tamak, kalau kita tolak saat dicalonkan itu celaka. Jadi, kita diam saja, ada masyarakat Aceh yang melihat ini),” pungkas Apa Karya. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved