Opini

‘Parenting’ Qurani

ANAK merupakan titipan Tuhan kepada setiap orang tua. Keberadaannya di samping sebagai perhiasan (zinah)

‘Parenting’ Qurani
Aktivis perempuan yang tergabung dalam Balai Syura Ureung Inong Aceh melakukan orasi dengan tema "Solidaritas Aceh Untuk Korban Kekerasan Seksual" di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Rabu (11/5/2016). Data dari Jaringan Pantau Aceh (JPA) mencatat ada 231 kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan dan anak di Aceh. Yang mana sebagian besar pelakunya adalah orang terdekat. SERAMBI/M ANSHAR 

Oleh Adnan

Meunyoe jeut tapeulaku, boh labu jeut keu asoe kaya. Meunyoe hanjeut tapeulaku, aneuk teungku jeut keu beulaga. (Hadih Madja)

ANAK merupakan titipan Tuhan kepada setiap orang tua. Keberadaannya di samping sebagai perhiasan (zinah) dan keindahan mata (qurratu a’yun), anak juga sebagai pelanjut cerita dan pewaris sejarah keluarga di masa depan. Pendidikan merupakan solusi untuk mewujudkan lahirnya generasi terbaik (khairu ummah) di masa depan. Maka pendidikan sangatlah urgen untuk diberikan kepada anak agar berilmu, mandiri, beradab, memiliki keterampilan mumpuni (skill), dan berdaya guna. Tanpa pendidikan, anak akan terjerumus dalam kehidupan destruktif dan amoral. Sehingga keberadaan mereka menjadi masalah baru (patologis) dalam kehidupan rumah tangga dan lingkungan sosial. Sebab itu, untuk mengurai masalah anak harus diawali dari rumah tangga sebagai lembaga pendidikan pertama bagi anak.

Kini bermunculan anak yang berperilaku destruktif dan amoral, semisal pergaulan bebas (free sex), clubbing, vandalisme, narkoba, bullying, tawuran dan perkelahian, dan berbagai perilaku kenakalan lainnya. Mereka tiba-tiba menjadi beringas, menakutkan, dan berbuat tidak senonoh dalam lingkungan pergaulan. Maka jika menilik secara holistik, ditemukan sejumlah penyebab seorang anak berperilaku demikian, semisal terpengaruh teman sebaya, internet, pencarian jati diri, hingga kekeliruan pola asuh orang tua di rumah. Padahal, rumah harusnya menjadi tempat ternyaman dan dirindukan oleh anak. Anak harusnya mampu membangkitkan motivasi, keceriaan, ekspresi diri, mencari solusi atas setiap masalah yang dihadapi, dan memiliki kedekatan emosional dengan orang tua.

Akan tetapi, realitasnya berkata lain. Harapan itu jauh panggang dari api. Banyak anak menjadikan rumahnya sebagai rumah kedua, dan orang tua kandung laksana orang tua kedua. Pun, belbagai masalah yang dihadapi sering dikonsultasikan kepada teman dekat, semisal pacar, dibandingkan kepada keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua belum mampu menjadikan rumah dan dirinya sebagai tempat pengembangan diri dan kemampuan anak. Pola asuh yang diterapkan orang tua keliru. Akibatnya, banyak anak terjerumus dalam perilaku destruktif dan amoral. Maka penting bagi orang tua untuk mengkaji, menelaah, menggali, dan membaca berbagai literatur bacaan tentang pola asuh anak. Lebih-lebih bagi orang tua muslim sangat berkewajiban untuk menelaah pola asuh yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah.

Kekeliruan
Berikut diungkap beberapa kekeliruan pola asuh (parenting) orang tua dalam mendidik anak, di antaranya: Pertama, meremehkan potensi anak. Perilaku ini merupakan sebuah perilaku tercela yang tidak boleh dilakukan orang tua. Setiap anak harus dihargai dan dikembangkan potensinya, bukan diremehkan dan dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Kedua, mencaci-maki anak. Setiap manusia memiliki kesalahan dan kesilapan, tanpa kecuali anak. Jika anak bersalah, maka kewajiban orang tua untuk mengedukasi dan mengarahkan ke jalan kebenaran. Pendekatan orang tua dalam mengedukasi anak secara persuasif. Jadi, anak tidak boleh dicaci dan dihina, sebab cacian, makian, dan hinaan akan menghancurkan potensi anak. Semarah apapun orang tua kepada anak, haram baginya untuk mencaci maki mereka.

Ketiga, hanya mengingat keburukan anak. Kekeliruan pola asuh orang tua kepada anak juga di mana orang tua hanya mengingat keburukan anak. Jika anak punya kebaikan tak pernah diberikan reward, semisal memberi hadiah dan memuji. Tapi, kadang saat anak berbuat jahat tak perlu menunggu lama untuk mencatat keburukan mereka.

Keempat, mendidik dengan manja berlebihan. Anak manja itu baik. Tapi, jika anak manja secara berlebihan akan mengganggu proses pendidikan anak. Yakni mereka akan takut tantangan dan resiko kehidupan, tidak berani dalam memberikan pendapat, jika keinginan tak terpenuhi akan marah, lupa diri, dan egois. Maka orang tua tidak boleh mendidik anak dengan manja berlebihan. Karena manja berlebihan dapat menghambat tumbuh-kembang anak di masa depan.

Kelima, keteladanan tercela. Setiap perilaku orang tua akan ditiru (imitasi) anak. Jika perilaku itu baik, semisal disiplin, rapi, lemah-lembut, taat beribadah, maka anak akan meniru keteladanan baik dari orang tua. Sebaliknya, jika perilaku itu buruk, semisal malas, merokok, enggan beribadah, egois, kikir, maka anak akan meniru perilaku buruk orang tua. Maka pola asuh seperti di ini patut ditinggalkan oleh orang tua. Sebab, anak yang dididik dengan perilaku tercela akan tercela. Jika anak dididik dengan perilaku mulia, akan mulia. Laksana hadih madja di atas.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved