Arsip Pribadi Bisa Disimpan di Arpus

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Arpus) Aceh kini sedang giat-giatnya membenahi arsip pemerintah

Arsip Pribadi Bisa Disimpan di Arpus
SERAMBI/YARMEN DINAMIKA
DR Ir Dyah Erti Idawati MT menyaksikan pameran arsip Pemerintah Aceh di Gedung Arsip dan Perpustakaan, Rabu (5/12), dipandu oleh Ikhsan, Kabid Arsip pada dinas tersebut. 

BANDA ACEH - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Arpus) Aceh kini sedang giat-giatnya membenahi arsip pemerintah yang disimpan dan dirawat di dinas tersebut oleh para arsiparis. Untuk tahun-tahun mendatang, Dinas Arpus Aceh bahkan akan menerima penyimpanan arsip pribadi di dinas tersebut, misalnya ijazah, akta kelahiran, kartu keluarga (KK), dan surat nikah.

Hal itu diungkapkan Kadis Arpus Aceh, Dr Wildan MPd, saat talkshow dalam rangka Hari Kunjungan Arsip yang berlangsung di halaman kantor dinas tersebut, Rabu (5/11) pagi. Narasumber lainnya dalam talkshow yang dihadiri 450 peserta itu adalah Dr Ir Dyah Erti Idawati MT (Arsitek, Dosen Fakultas Teknik Unsyiah, dan juga istri Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT), Kamaruddin Andalah MSi (Asisten Administrasi Umum Sekda Aceh), dan Drs Bakhtiar Ishak (mantan kepala Dinas Pendidikan Aceh).

Secara umum, kata Wildan, arti penting sebuah arsip, termasuk arsip pemerintah, kurang dipahami oleh publik. Padahal, arsip itu berfungsi historis, sebagai pusat ingatan, dan pusat informasi, bahkan bernilai ekonomis. “Ke depan kita akan simpan dan rawat arsip milik pribadi dan lembaga di sini dan kita jamin keamanan serta keselamatannya. Dengan demikian, arsip bisa menjadi sumber income bagi daerah. Ayo berbondong-bondong ke arsip,” kata Wildan sembari menambahakan bahwa tahun depan pihaknya akan merancang draf Qanun Kearsipan di Aceh.

Sementara itu, Kamaruddin Andalah mengatakan arsip itu menjadi urusan wajib daerah, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota. Pemerintah Aceh menganggap arsip itu sangat penting sehingga statusnya ditingkatkan dari badan menjadi dinas. “Setiap arsip harus diselamatkan oleh arsiparis yang cakap dan inovatif. Mulai sekarang Aceh juga perlu arsip digital, bukan cuma pustaka digital,” kata Kamaruddin Andalah yang juga hadir pada saat launching pustaka digital Aceh pada Senin (3/11) malam di AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh.

Kamaruddin mengingatkan bahwa arsip pun harus dipandang memiliki nilai ekonomis, artinya bisa dijual dengan harga mahal. Arsip itu juga sangat penting dalam rangka akuntabilitas pemerintahan, mempertinggi nilai bargaining pemerintah dalam kasus-kasus tertentu, misalnya, dalam sengketa batas daerah, dan arsip terkait pula dengan Sistem Informasi Administrasi Terpadu (SIAT).

“Karena penting dan strategisnya nilai arsip, maka apa pun yang dibutuhkan oleh Dinas Arpus terkait penyelamatan arsip, maka tetap akan disediakan biayanya,” kata Kamaruddin Andalah.

Sementara itu, Drs Bakhtiar Ishak mengingatkan bahwa salah satu kewajiban PNS adalah menjaga arsip pemerintah. Orang yang sengaja menghilangkan arsip pemerintah diancam hukuman pidana delapan tahun penjara.

PNS yang membocorkan informasi pemerintah yang sifatnya rahasia kepada pihak lain yang tidak berhak juga diancam hukuman pidana, yakni lima tahun penjara. “Jadi, jangan main-main dengan arsip dan informasi rahasia,” kata Bakhtiar yang juga pernah menjabat Asisten Sekda Aceh.

Sementara itu, Dr Dyah Erti Idawati MT, arsitek yang juga istri Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah, menceritakan arti penting arsip dalam kehidupan dengan mencontohkan kasus yang menimpa dirinya.

Sebagai Dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, ia pernah dua kali terhalang kenaikan pangkat karena arsip (dokumen) pengusulan pangkatnya hilang saat banjir besar tahun 2000, kemudian saat tsunami 2004.

Atas dasar itu, Dyah mengajak semua pihak agar serius dan berhati-hati menyimpan arsip pribadi maupun lembaga. “Di era digital ini segeralah mendigitalkan semua arsip pribadi. Silakan repro atau scan, lalu simpan di jaringan internet atau sosial media lainnya. Insyaallah akan awet dan terbebas dari banjir atau kebakaran,” ujarnya.

Ia juga mengajak warga Aceh untuk menghargai arsip karena perannya yang sangat urgen dan strategis. Arsip di setiap kabuten/kota pun ia sarankan harus terintegrasi dengan arsip pemerintah provinsi. “Arsip juga bernilai akademik, karena bisa menjadi bahan kajian dan penelitian,” katanya.

Seusai talkshow tentang arti penting arsip, Dyah didampingi Kadis Arpus Aceh, Dr Wildan memasuki ruang arsip di Gedung Arpus Aceh untuk melihat dari dekat bagaimana para arsiparis merawat dan menyimpan arsip-arsip berharga milik Pemerintah Aceh.

Dipandu Ikhsan, Kabid Arsip pada Dinas Arpus Aceh, Dyah Erti juga melihat Pameran Arsip Pemerintah Aceh di lantai satu gedung itu. Di situ dipamerkan, antara lain, foto-foto Gubernur dan Sekda Aceh dari masa ke masa. Tapi sebagai seorang arsitek, Dyah lebih tertarik pada sebuah foto perumahan orang Belanda di Aceh pada awal abad 20 yang ikut dipamerkan. “Wah, foto ini sangat berguna bagi saya sebagai arsitek dan bisa menjadi bahan diskusi dengan para mahasiswa saya. Mohon direprokan satu untuk saya ya?” kata istri Nova Iriansyah itu. (dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved