Opini

Ijtihad Bid’i

KETERBUKAAN ilmu pengetahuan, pemikiran dan informasi yang dialami kaum muslimin saat ini merupakan

Ijtihad Bid’i
Ibadah di Gereja St Mary dan salat jumat di salah satu masjid di London Timur, Inggris. (Londonmedia) 

Oleh Muhazzir Budiman

KETERBUKAAN ilmu pengetahuan, pemikiran dan informasi yang dialami kaum muslimin saat ini merupakan satu kondisi unik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keadaan tersebut disebabkan oleh beragamnya media informasi tertonton dan terbaca, serta mudahnya akses. Pengaruh dari situasi itu sehingga saluran-saluran arahan, nasihat, fatwa dan penerimaan fatwa tidak dapat dibatasi dan diatur lagi.

Kaum ekstremis memanfaatkan situasi tersebut untuk menyebarkan fatwa-fatwa keagamaan dari hasil ijtihad mereka kepada masyarakat Islam. Sayangnya sebagian mereka belum memiliki kompetensi untuk berfatwa atau berijtihad hukum Islam. Pernyataan ini akan terlihat jelas, jika kita mentelaah hakikat ijtihad, syarat-syaratnya dan etikanya. Ijtihad adalah kerja istinbat hukum-hukum syariat dari dalil-dalilnya yang tafsiliyyah.

Di Aceh sudah mulai muncul juga kaum ekstremis tersebut yang berbicara masalah-masalah agama dengan corak berfatwa. Sebelum fatwa-fatwa mereka itu menyebar luas dan menjadi pegangan bagi masyarakat Islam, maka hegemoni mereka itu harus diredupkan segera dengan kajian-kajian ilmiah. Antaranya dengan tulisan artikel, opini dan lain-lain atau dengan lisan seperti dalam majelis taklim, ceramah dan lainnya.

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis, “Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggerokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Muslim, Sahih Muslim No.2511).

Metodologi istinbat
Ringkasan makna istinbat berdasarkan definisi-definisi istinbat yang digunakan oleh fukaha dan usuliyyin adalah mengeluarkan hukum atau ‘illah dengan cara ijtihad apabila keduanya tidak ada dalam nash dan ijma’. Hukum tersebut dikeluarkan dengan qiyas, istidlal, istihsan, dan dalil-dalil lain. Sedangkan ‘illah dikeluarkan dengan taqsim, munasabah atau lainnya daripada jalan-jalan menemukan ‘illah.

Seorang yang ber-istinbat hukum-hukum syariat harus lebih dulu mengenal dalil-dalil fikih, metode istinbat hukum dari dalil-dalil itu dan syarat-syarat mujtahid. Untuk zaman sekarang, menurut Ali Jumah (seorang ulama besar al-Azhar Kairo dan mantan Mufti Mesir), harus ditambah satu lagi, yaitu harus mengetahui realita dan keterkaitan antara realita dan dalil.

Dalil-dalil hukum syariat itu ada yang muttafaqun ‘alaih (disepakati) dan ada yang mukhtalaf fiha (diperselisihkan). Yang muttafaqun ‘alaih adalah Alquran, sunnah, ijma dan kias. Adapun yang mukhtalaf fiha, yang populer ada tujuh dalil, yaitu istihsan, masalih al-mursalah, istishab, ‘urf, mazhab al-sahabi, syar’u man qablana dan zara’i‘.

Selain itu, ada tiga dalil lain yang tidak populer tapi digunakan pada sebagian mazhab, yaitu al-aslu fi al-asyya’, al-istiqra’, dan al-akhzu bi aqalli ma qila. Bahkan ada juga dalil (sumber) hukum Islam yang tidak disandarkan kepada syariat, yaitu al-tasyri’ atau al-‘aqal, al-tafwid atau al-‘asmah, al-ihalah, dan al-qanun al-rumani. Tetapi para fukaha menganggapnya juga sebuah sumber fikih, sekalipun masih dalam status diperdebatkan.

Semua sumber hukum Islam itu diaplikasikan melalui dalil-dalil kulliyyah. Misalnya, Alquran, sunnah, ijma’ dan qias adalah hujjah, dan al-amr (perintah) menunjukkan wajib dan al-nahyu (larangan) menunjukkan haram dan sebagainya yang dibahas dalam kitab-kitab Ushul Fiqh. Tentunya dalam semua itu dengan menggunakan metode istinbat yang telah digariskan ushuliyyin. Seperti mendahulukan al-nas atas al-zahir, mendahulukan al-mutawatir atas al-ahad, dan sebagainya. Jika mengadopsi pemikiran Ali Jumah, maka semua itu dilakukan setelah mentelaah dan mengenal dengan baik realita yang terjadi. Kemudian di-istinbat-kan hukumnya melalui istidlal yang sah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved