Opini

Momentum Islam Inklusif

APA yang kita lihat dari aksi reuni 212 kedua, pada Ahad (2/12/2018) lalu, di Jakarta, memberikan pelajaran penting

Momentum Islam Inklusif
Kolase Serambinews/Instagram @oyi_k
Lautan massa memadati lapangan Monas, Jakarta Pusat, dalam acara Reuni akbar 212, Minggu (02/12/2018). 

Oleh Saifuddin A. Rasyid

APA yang kita lihat dari aksi reuni 212 kedua, pada Ahad (2/12/2018) lalu, di Jakarta, memberikan pelajaran penting kepada kita. Yakni, pelajaran di mana bangsa ini mulai menyadari betapa umat Islam bila telah terakumulasi menjadi kekuatan, maka tidak menyisakan sedikit pun ancaman bahaya, bahkan sebaliknya menjadi rahmat yang dinanti oleh segenap komponen bangsa ini. Kesadaran ini terindikasi dengan minimnya pengawalan aksi dari aparat keamanan, tidak tampak kecurigaan berlebihan dari pemerintah, di samping menguatnya dukungan bahkan dari nonmuslim terhadap aksi reuni itu.

Kesadaran serupa tidak terjadi pada aksi bela Islam 411 dan 212 dua tahun silam. Padahal mungkin jumlah peserta aksi diperkirakan lebih kecil kala itu, sekitar 7 juta orang. Jumlah peserta aksi yang hadir di Monas, Bundaran HI dan kawasan sekitarnya kali ini diperkirakan mencapai 11 juta orang (data TV One). Terbukti bahwa perhelatan damai itu tidak menyisakan ekses anarkisme dan intimidasi, baik bagi manusia maupun alam sekitar.

Hal seperti ini menjadi menarik, terutama ketika perjalanan bangsa ini bergerak semakin dekat dengan pesta politik, Pileg dan Pilpres 2019. Bukankah ini satu pertanda baik bahwa telah terjadi satu proses pendewasaan demokrasi dan mulai mencairnya eksklusivitas kelompok dominan dari komponen bangsa menjuju satu kepentingan berbangsa dengan dasar satu common platform, yaitu satu pandangan untuk mempersempit ruang perbedaan dan membuka ruang kebersamaan dengan prinsip-prinsip yang dapat diterima dari berbagai sudut pandang baik sosiologis bahkan ideologis (kalimatun sawa, QS. Al-Baqarah: 62 dan Al-Maidah: 69).

Dari perspektif itu maka menarik kita cermati perjalanan “kebangkitan” umat Islam di Indonesia pasca-perjuangan kemerdekaan dan penetapan sistem bernegara. Perjalanan yang telah mengalami setidaknya tiga momentum, sejak era 1980-an sampai saat ini, yaitu momentum penataan identitas Islam (insan kamil), ekonomi Islam (antiriba), dan terakhir politik Islam (antimakar).

Insan kamil
Era delapan puluhan merupakan saat dimana Indonesia sedang memacu pembangunan oleh karena baru terlepas dari rangkaian cengkeraman penjajahan dan pola pikir bangsa yang masih tertinggal. Umat baru saja terlepas daari satu pola perjuangan struktural dalam mencari bentuk komunitas yang aman dan nyaman bagi mereka. Masih ada hantu kolonial, kuasa menguasai. Pola ini seringkali dipersepsi menjadi ancaman bagi negara. Karena itu negara kala itu cenderung represif. Penetapan asas tunggal Pancasila pada 1985 dan UU Subversi merupakan diantara bentuk cara pemerintah mengendalikan kemungkinan terjadinya semacam kebangkitan islam struktural itu.

Pada sisi lain kualitas pendidikan dan kepribadian umat Islam yang rendah menjadi fokus para pemimpin umat. Maka pada era ini mulailah berkembang lebih pesat lembaga lembaga pendidikan islam, seperti pondok pondok pesantren terpadu, di samping pesantren (dayah) salafiyah tentunya. Semakin berkiprahnya ormas-ormas Islam dalam pelatihan pengkaderan dan dakwah. Intinya umat menemukan momentum penguatan sumber daya manusia agar menjadi umat dan bangsa yang memiliki kepribadian tangguh (insan kamil).

Identitas kemusliman tak lagi tersembunyi secara malu malu pada era ini. Kalau di era sebelumnya mengenakan jilbab bagi kaum muslimah dengan berbagai alasan bolehjadi mendapat pandangan negatif maka di era ini sudah berbeda. Bahkan pakaian muslim (dan muslimah) mendapat ruang berkembang menjadi industri.

Simbul simbul keislaman sebagai individu dan komunal non politik seperti mendapat angin segar, dan negara dalam hal ini tidak merasa terancam. Ini tidak jauh sesuai dengan jalan pikiran Snouck Hurgronje dengan konsep Politik Etis-nya. Bagi kita ini adalah momentum yang sangat penting dalam membangun pribadi muslim (syakhsiyah islamiyah) sebagai modal dasar dalam perjuangan jangka panjang umat Islam di Indonesia.

Antiriba; momentum kedua ini menguat sejak era 1990-an ketika kesadaran umat melalui berbagai diskursus berkembang untuk melihat ketimpangan ekonomi (kaya miskin) terjadi di masyarakat. Gap yang terjadi kala itu telah demikian nyata dan berpotensi mengancam stabilitas kehidupan bernegara.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved