Salam

Pemberdayaan Ekonomi Jangan Parsial

Pemerintah Aceh melalui Dinas Peternakan kembali melakukan terobosan yang bernilai ekonomis di sektor peternakan

Pemberdayaan Ekonomi Jangan Parsial
IST
WAKIL Ketua DPRA, Sulaiman Abda, sedang tinjau lokasi Close House, peternakan ayam tertutp, di Saree, Aceh Besar, Rabu (5/12). 

Pemerintah Aceh melalui Dinas Peternakan kembali melakukan terobosan yang bernilai ekonomis di sektor peternakan. Kali ini dengan pola padat modal, membangun satu unit gedung peternakan ayam petelur dengan sistem tertutup atau close house. Sistem tertutup itu--seperti diungkapkan Kadis Peternakan Aceh, Ir Rahmandi, dinilai lebih efesien dan produktif serta ramah lingkungan.

Sementara sistem terbuka lebih besar terjadi potensi pencemaran lingkungan, melalui bau dari kandang ayam. Jika dalam sistem terbuka, produktifitas telur hanya 70 persen dari akumulasi ayam, pada pola close house, produktifitas telur mencapai 95 persen. Hanya saja pada pola tertutup itu membutuhkan biaya yang lebih besar atau padat modal.

Khusus untuk peternakan ayam close house milik Pemerintah Axceh itu ditempatkan di kawasan peternakan di Saree, Aceh Besar, dengan prediksi produksi telur mencapai 25.000 butir/hari.

Kita sambut baik gebrakan Pemerintah Aceh dengan kembali merealisasikan industri peternakan ayam petelur. Karena sebelumnya, pada Tahun Anggaran 2014-2015 Pemerintah Aceh juga membangun kawasan peternakan ayam terbuka di pegunungan Blang Bintang, dengan jumlah ayam yang diakui mencapai 100.000 ekor, namun produksi telurnya jauh dari jumlah ayam yang diakui.

Ini adalah untuk kesekian kalinya Pemerintah Aceh membangun industri peternakan, baik itu jenis unggas hingga hewan ternak besar. Termasuk membangun pabrik pakan ternak yang ujung ujungnya karut marut tak jelas.

Terlepas dari semua itu, kita harus mengakui Pemerintah Aceh terus mencoba agar daerah ini berdaya dan harus punya ketahanan ekonomi yang kuat. Karena semua kita tahu, ketahanan ekonomi Aceg terhitung rapuh dan mudah dikotak katik oleh ‘tetangga’ sebelah.

Fenomena itu makin tak terbantahkan, dengan sinyalemen ‘terbang’nya uang Aceh ke luar Aceh senilai Rp 35 triliun setiap tahunnya.

Kondisi itu tak lepas dari rapuhnya ketahanan ekonomi Aceh, akibat tergantung penuh dengan propinsi tetangga. Merekalah yang dengan segala daya upaya termasuk berusaha keras agar ekonomi Aceh terus bergantung dengan pihakj luar.

Kita akui jika Pemerintah Aceh punya komitmen untuk mengurangi kergantungan dengan mafia ekonomi luar tersebut. Namun upaya yang dilakukan terkesan parsial atau setengah setengah. Kita tidak membuat pertahanan ekonomi sejak dari hulu hingga ke hilir, akibatnya terus bergantung.

Pembangunan komplek ayam petelur yang telah beberapa kali dilakukan, tidak diikuti dengan pengadaan sumberdaya pakan hingga pengolahannya. Akibatnya, kita terus jadi bahan permainan mafia ekonomi. Walhasil bisnis telur itu juga berujung maut, karena dibantai dari luar lewat hegemoni pakan ternak, serta bibit ayam itu sendiri.

Karenanya mari kita bangun ketahanan ekonomi dengan mampu berdiri di atas kaki sendiri, mulai dari hulu hingga ke hilir, untuk perberadayaan ekonomi di semua sektor. Jadi tidak terkesan parsial dan hanya untuk menghabiskan anggaran.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved