Batu Pemecah Ombak di Panteraja Turun

Batu pemecah ombak di kawasan Keude Panteraja, Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya (Pidie) yang dibangun pada 2006

Batu Pemecah Ombak di Panteraja Turun
SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pidie Jaya, Ir H Muhmmad Bentara (Kiri) bersama salah satu nelayan di bibir pantai Gamping Keudee, Kecamatan Panterja, memperhatikan batu pemecah ombak yang telah terbenam dalam permukaan pasir, Jumat (7/12/2018). 

MEUREUDU - Batu pemecah ombak di kawasan Keude Panteraja, Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya (Pidie) yang dibangun pada 2006 sudah turun ke dalam pasir. Dampaknya, setiap air laut naik, rumah warga yang berada di pinggiran pantai tergenang air.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pijay, Ir HH Bentara kepada Serambi, Jumat (7/12) mengatakan pemasangan batu pemecah ombak pada 2006 lalu. “Dalam tiga tahun terakhir ini, batu gajah pemecah ombak sepanjang 700 meter turun ke dalam pasir, sehingga hanya permukaan saja yang terlihat,” sebutnya.

Dia mengatakan turunnya permukaan batu penahan ombak, menyebabkan air laut masuk pemukiman warga yang dihuni 300 kepala keluarga (KK), sebagian besar nelayan. Disebutkan, saat air pasang purnama, genangan air laut sampai setinggi lutut orang dewasa.

“Sebagai warga pesisir, kami meminta dinas terkait untuk turun tangan menangani persoalan ini demi menyelamatkan pemukiman warga dari ancaman terjangan ombak laut,” harapnya.

Menanggapi desakan tersebut, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pijay, Ir H Kamaluddin MSi mengatakan meminta masyarakat untuk menyampaikan surat usulan kepada pemerintah agar dapat dilakukan penanganan kembali batu pemecah ombak tetsebut.

Disebutkan, dengan surat tersebut, maka pimpinan daerah yakni bupati dapat menunjukkan tim, baik dari DKP dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk melakukan penggalian batu yang telah tertanam guna dilakulan perbaikan kembali. Dia menyatakan surat warga menjadi dasar pemerintah melakukan tindakan, termasuk memperhitungkan anggaran.(c43)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved