Peneliti Turki Ini Habiskan 10 Tahun Teliti Aceh, Ingin Membangkitkan Kembali Hubungan Aceh-Turki

Mehmet Ozay mengatakan, buku ini pada awalnya dimaksudkan untuk terbit dalam tiga bahasa, namun karena berbagai alasan, impian ini belum bisa terwujud

Peneliti Turki Ini Habiskan 10 Tahun Teliti Aceh, Ingin Membangkitkan Kembali Hubungan Aceh-Turki
Facebook.com/Mehmet Ozay
Mehmet Ozay dan cover buku "Kesultanan Aceh Darussalam". 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Mehmet Ozay, peneliti berkebangsaan Turki, menghabiskan waktunya selama 10 tahun untuk meneliti kehidupan dan sejarah masyarakat Aceh.

Selama 10 tahun itu, Mehmet Ozay, bolak balik Turki, Aceh, Jakarta, Kuala Lumpur, hingga Singapura untuk mengumpulkan segala bahan yang berkaitan dengan Aceh, terutama yang terkait hubungan antara Aceh dan Turki.

“Bacaan-bacaan dan percakapan pribadi dengan beberapa teman di Banda Aceh menuntun saya untuk terus menulis tentang Aceh. Meskipun ada keterbatasan bahasa, saya tetap bisa mengakses karya karya dan sumber-sumber penting sepanjang keberadaan saya di Aceh, Jakarta, Kuala Lumpur, dan Singapura dalam kurun waktu 10 tahun,” tulis Mehmet Ozay, dalam sebuah surat elektronik (email) kepada Serambinews.com, baru-baru ini.

Mehmet Ozay menuangkan semua hasil penelitiannya dalam buku berjudul “Ace Darusselam Sultanligi” atau Kesultanan Aceh Darussalam.

Dalam buku itu, Mehmet mengulas tentang sejarah Aceh, mulai dari masa Pra Islam hingga awal abad ke-20.

Dalam email kepada Serambinews.com, Mehmed Ozay menceritakan ia mulai tertarik terhadap Aceh sejak membaca tentang Aceh yang terbit dalam majalah Islam di Turki tahun 1980an.

“Saya dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang besar mengenai segala sesuatu terkait Aceh. Saat tsunami menghentak Aceh pada akhir tahun 2004, bagaikan sebuah keharusan bagi saya untuk mengunjungi negeri ini,” tulis Mehmet Ozay.

Baca: Puji Turki dan Erdogan, Ketua PKR Malaysia Anwar Ibrahim Sepakat Kurangi Ketergantungan pada Dolar

Baca: Dubes Turki Merasa Sangat Dekat dengan Aceh

“Bulan September tahun 2005 barangkali adalah masa ketika pemantauan saya secara berangsur turun ke media cetak di Turki dan Aceh,” lanjut dia.  

Mehmet Ozay mengatakan, buku ini pada awalnya dimaksudkan untuk terbit dalam tiga bahasa, namun karena berbagai alasan, impian ini belum bisa diwujudkan.

“Sederhananya buku ini diprioritaskan bagi pembaca-pembaca Turki yang tidak lagi mengenal Aceh. Ini disebabkan faktor alpanya buku sejarah Aceh yang lengkap di negara Turki, meskipun persaudaraan antara Aceh dan Turki terus menerus diagung-agungkan,” ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Zainal Arifin M Nur
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved