Pengungsi Rohingya Kesulitan Air Minum

Pengungsi Rohingya yang ditampung di Kompleks Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bireuen, mengeluh kekurangan air minum

Pengungsi Rohingya  Kesulitan Air Minum
SERAMBI/ SENI HENDRI
SEBANYAK 20 warga Rohingya saat dibawa dengan truk ke Kantor Imigrasi Langsa, untuk di datadan diverifikasi identitasnya, Selasa (4/12) pukul 08.10 WIB 

BIREUEN - Pengungsi Rohingya yang ditampung di Kompleks Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bireuen, mengeluh kekurangan air minum. Mereka mengaku kesulitan memperoleh air minum sejak ditutupnya dapur umum.

Selain itu, makanan pun semakin menipis. Bahkan beberapa di antara pengungsi mengaku tidak makan, seperti sarapan pagi. Selain itu, air minum juga tidak ada. Mau memasak pun susah, karena gas elpiji habis dan kayu bakar tidak ada.

“Hari ini (kemarin-red) kami tidak makan, karena kami tidak memasak, lantaran gas atau elpiji untuk memasak tidak ada lagi. Kami masak pakai kayu, tapi karena hujan, kayu jadi basah sehingga tidak bisa digunakan. Kami juga kesulitan air minum,” kata Muhammad Zubir, pengungsi Rohingya yang sudah bisa berbahasa Indonesia didampingi beberapa pengungsi lainnya saat ditemui Serambi di kompleks SKB, Jumat (7/12).

Mereka juga mempertanyakan kapan dipindahkan ke Langsa sebagaimana yang telah dijanjikan oleh pemerintah beberapa waktu lalu. Para pengungsi mengaku sudah tidak tahan terus-menerus di SKB, karena stok makanan juga minipis. “Selain tidak ada makanan, kami juga harus tidur di ruang terbuka, kapan kami dipindahkan ke Langsa,” tanya M Zubir kembali dan kawan-kawannya.

Pantauan Serambi kemarin, para pengungsi Rohingya tampak menyebar di beberapa lokasi dalam kompleks. Ada yang duduk di kantin sambil membantu pemilik kantin, ada pula yang tidur-tiduran di lokasi parkir. Ada juga yang menjemur pakaian di pagar gedung SKB. Beberapa bocah pengungsi asyik bermain bersama teman-temannya.

Sebagaimana diketahui, sebanyak 79 pengungsi muslim Rohingya sejak terdampar ke Laut Kuala Raja, Bireuen, beberapa bulan lalu, mereka ditampung di kompleks SKB Cot Gapu.

Makin Meresahkan
Sementara itu, keberadaan pengungsi Rohingya di kompleks SKB semakin meresahkan. Kondisi itu dikeluhkan oleh pegawai di SKB dan pegawai di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bireuen yang berada di kompleks SKB Desa Cot Gapu, Kota Juang.

Informasi yang dihimpun Serambi dari berbagai sumber di kompleks SKB kemarin menyebutkan, para pengungsi Rohingya itu membuang sampah dan kotoran sembarangan. Selain itu, mereka mengambil kayu proyek pembangunan SKB untuk dijadikan kayu bakar. Beberapa pengungsi itu juga merusak sejumlah mobiler seperti kursi milik kantor Disdikpora.

Plt Kepala Disdikpora Bireuen, Drs M Nasir MPd kepada Serambi, kemarin mengatakan, keberadaan pengungsi Rohingya di kompleks SKB itu sudah sangat meresahkan. Katanya, pengungsi yang tidak kunjung direlokasi itu, membuang kotoran, seperti tinja dan lain secara sembarangan.

“Keberadaan pengungsi Rohingya itu sudah sangat meresahkan kami dan warga sekitar. Kami berharap mereka segera dipindahkan ke Langsa, sebagaimana rencana Pemerintah Aceh dalam beberapa pertemuan antara Pemkab Bireuen dan Pemkot Langsa,” harap M Nasir.

Ditambahkan M Nasir, yang sudah sangat meresahkan lagi, katanya, pengungsi Rohingya itu memakai air PDAM sesukanya, tanpa menutup kran air dan membiarkan air terbuang. Akibatnya, tagihan air PDAM membengkak hingga Rp 15 juta selama lima bulan lebih.

“Dua hari lalu petugas PDAM mengirimkan surat dan bukti tagihan rekening PDAM kepada kami yang mencapai Rp 15 juta. Jika dalam beberapa hari ini kami tidak melunasi tunggakan itu, jaringan PDAM untuk Rohingya akan diputuskan. Kami tidak ada uang untuk membayarnya,” tegas M Nasir.(c38)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved