Opini

Stigma ODHA dan Perlunya Peran Ulama

HIDUP dan kehidupan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di tengah masyarakat, bukanlah hal mudah

Stigma ODHA dan  Perlunya Peran Ulama
India.com
HIV/AIDS 

Oleh Ibrahim dan Sri Mulyati Mukhtar

HIDUP dan kehidupan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di tengah masyarakat, bukanlah hal mudah. Walaupun saat ini upaya-upaya edukasi untuk meningkatkan pemahaman tentang HIV/AIDS semakin gencar dilakukan oleh berbagai pihak, baik dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga pihak swasta. Namun masyarakat masih belum sepenuhnya memahami atau mau menerima keberadaan ODHA di lingkungannya.

Stigma negatif dan diskriminatif dari masyarakat sejatinya memperburuk kondisi penyakitnya. Masyarakat menstigma ODHA dengan prasangka buruk pada perilaku mereka, seperti melakukan seks menyimpang, pengguna narkoba dan kehidupan mereka tidak sesuai dengan tuntunan agama. Label sosial buruk itu seakan menjadi pembenar untuk mendiskreditkan ODHA dari interaksi sosial bersama masyarakat.

Seakan ODHA pembawa petaka dengan cara menularkan penyakit itu. Padahal, faktanya, stigma terhadap ODHA ini bisa menimbulkan masalah baru, semisal penderita ODHA tidak memberitahukan kondisi penyakitnya yang sebenarnya pada masyarakat. Karena menutupi identitas dan penyakit itu, besar kemungkinan terjadi penularan secara masif untuk masyarakat lewat cara pernikahan atau tatanan sesuai hukum lainnya.

Stigma dan diskriminasi masih sering terjadipada ODHA disebabkan mereka dianggap adalah orang yang berperilaku tidak baik. Hal ini disebabkan di awal penemuan kasus umumnya terjadi pada orang-orang yang berperilaku yang salah. Kondisi ini semakin buruk muncul dari adanya opini negatif dari masyarakat pada HIV/AIDS yang berlebihan. Masyarakat masih sering menghubungkan HIV/AIDS dengan seks, penggunaan narkoba dan perilaku buruk lainnya, sehingga banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima, bahkan takut terhadap penyakit ini.

Stigma bahwa ODHA adalah orang-orang yang pantas menerima kutukan Tuhan karena dosa-dosa mereka. Sementara itu, tidak semua penderita HIV-AIDS berperilaku menyimpang, akan tetapi justeru sebagai penerima efek dari orang-orang berperilaku menyimpang seperti suami/isteri, dan bahkan ada yang didapat dari kurang safety saat tindakan medis.

Memaknai HAS
Memaknai Hari AIDS Sedunia (HAS) yang baru saja diperingati pada 1 Desember lalu, mari kita refleksi sejenak tentang AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), diartikan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus HIV ini menyerang sel darah putih (CD4), sehingga mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh atau sistem imun, bahkan juga dapat merusak otak dan sistem saraf pusat.

Sampai saat ini, belum ditemukan vaksin dan obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Namun langkah medis yang dilakukan saat ini sangat efektif dengan sistem pengobatan dan perawatan bagi penderita yang dilakukan sebagian besar dapat memperpanjang hidup penderita HIV, sehingga bisa menjalankan kehidupan normal sebagaimana mestinya. Tanpa pengobatan dan perawatan, sistem kekebalan tubuh penderita yang terserang HIV akan menurun drastis. Obat yang ada adalah ARV (Antiretroviral) hanya berfungsi untuk menekan dan menghambat pertumbuhan dan replikasi virus HIV yang sudah ada dalam tubuh.

Virus HIV/AIDS ini memerlukan waktu 5-10 tahun untuk membuat pengidap HIV masuk ke kondisi AIDS. Ini berarti, ada sejumlah besar pengidap HIV yang belum masuk ke kondisi AIDS, dan mereka berada di antara masyarakat dan terlihat normal sama, seperti orang sehat lainnya. Menurut perkiraan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk setiap 1 kasus infeksi HIV, maka kasus HIV yang “tersembunyi” adalah 100-200 orang.

Mereka berada bersama-sama masyarakat yang sehat lainnya. Mereka tidak mencari pertolongan, bahkan mungkin tidak sadar jika mereka mengidap HIV, dan masih berperilaku yang berisiko untuk menularkannya kepada orang lain. Permasalahan utamanya adalah rendahnya persentase penduduk yang mengetahui tentang HIV/AIDS secara benar dan rendahnya masyarakat umum yang tahu tentang tersedianya pelayanan untuk konseling dan testing HIV.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved