BKSDA Tangkap Gajah Liar

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh berhasil menangkap seekor gajah liar yang selama ini

BKSDA Tangkap Gajah Liar
SERAMBI/KHALIDIN
TIM Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengawasi seekor gajah liar yang berhasil ditangkap di kawasan Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Sabtu (8/12). 

* Di Simpang Kiri, Subulussalam

SUBULUSSALAM - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh berhasil menangkap seekor gajah liar yang selama ini kerap masuk ke areal perkebunan masyarakat dan merusak tanaman di Kota Subulussalam. Gajah berjenis kelamin betina itu ditangkap di hutan dekat areal perkebunan masyarakat Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Sabtu (8/12).

Kepala BKSDA Provinsi Aceh, Sapto Aji Prabowo yang dikonfirmasi Serambi, kemarin, membenarkan penangkapan seekor gajah liar tersebut. Gajah liar itu, jelasnya, selama sebulan belakangan sempat masuk ke perkampungan penduduk. Upaya penangkapan yang melibatkan lima ekor gajah jinak itu berhasil dilakukan sekitar pukul 12.30 WIB, setelah tim bekerja sejak Jumat (7/12). “Benar, gajah yang selama ini masuk ke perkebunan masyarakat sudah berhasil ditangkap dengan tembak bius,” kata Sapto.

Dijelaskannya, hewan berkuping besar dan berbelalai panjang itu berbobot 2,5 ton. Rencananya, gajah yang ditaksir berusia sekitar 20 tahun ini akan segera dipindahkan atau direlokasi ke hutan wilayah Bengkung, perbatasan antara Kecamatan Sultan Daulat dengan Aceh Tenggara, berjarak sekitar 15 kilometer dari areal PT Indo Sawit Perkasa (ISP). “Relokasi gajah liar ini kita rencanakan Minggu (9/12) besok pagi sekitar puku 06.00 WIB,” ujarnya.

Lebih jauh, Sapto menerangkan, Bengkung menjadi satu-satunya lokasi pelepasan gajah liar, mengingat semua hutan di Kota Subulussalam telah terkonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan data BKSDA Aceh, sebutnya, sejauh ini terdapat sekitar 8-10 ekor gajah di kawasang Bengkung. “Kalau di Bengkung, kita monitor ada sekitar delapan sampai sepuluh ekor gajah. Sedangkan, di Subulussalam sudah habis karena hutannya kan telah dikonversi semua ke perkebunan,” ungkap Sapto.

Dia mengungkapkan, gajah liar itu memang harus dipindahkan ke habitat yang lebih baik dan masih ada kelompoknya. Nantinya, tim BKSDA akan terus memantau perkembangan gajah tersebut hingga beberapa bulan ke depan. “Selama ini, gajah yang semula disebut-sebut warga berjumlah dua ekor, namun ternyata hanya satu ekor. Dia berada di wilayah yang didominasi semak belukar dan hidup terisolir karena terkepung areal perkebunan. Apalagi, juga berada dekat dengan permukiman masyarakat,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, Sahrial menambahkan, upaya penangkapan gajah liar yang telah dilakukan sejak Jumat itu, melibatkan tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, DLHK, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta bantuan dana dari NGO.

Diungkapkannya, setelah dilumpuhkan, selanjutnya gajah liar itu dipasang GPS collar, dan diangkut menggunakan truk untuk selanjutnya digiring ke kawasan Hutan Souraya Bengkung. Pemasangan GPS collar untuk memudahkan tim BKSDA memantau dan mengetahui lokasi titik koordinat gajah liar tersebut berada.

Berdasarkan catatan Serambi, konflik antara gajah dengan manusia di Kota Subulussalam, khususnya di Kecamatan Sultan Daulat dan Simpang Kiri, sudah berlangsung sejak belasan tahun lalu dan telah merenggut sejumlah korban yang beberapa di antaranya meninggal dunia. Gajah liar ini bahkan sempat menguasai perkebunan warga di Kecamatan Penanggalan, tepatnya Desa Jontor yang perbatasan dengan Sumatera Utara pada tahun 2007 lalu.

Aksi serangan gajah liar terhadap manusia juga sudah berulangkali terjadi. Penyerangan pernah terjadi pada tahun 2000-an terhadap warga Jambi Baru. Aksi keganasan kawanan gajah liar juga terjadi pada 9 April 2006 silam, di mana seorang warga bernama Nisar (43), tewas mengenaskan akibat diamuk hewan berbadan besar tersebut.

Penyerangan lagi-lagi terjadi tahun 2015 lalu. Seorang warga yang sehari-hari bekerja sebagai penjaga kebun, Hariyadi (50), dilaporkan tewas akibat diinjak gajah di areal perkebunan Desa Bawan, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam.

Untuk menanggulangi kasus itu, BKSDA telah berulangkali menerjunkan gajah penjinak, sehingga beberapa ekor berhasil digiring dan ditangkap. Namun, upaya itu tetap saja tidak mampu meredam konflik karena hingga saat ini, sang gajah masih saja nekat masuk ke permukiman penduduk seputaran Kota Subulussalam.(lid)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved