Citizen Reporter

Malaysia, Murid yang Melampaui Guru

Warga negara Indonesia tersebar luas di sini, mulai dari yang menjadi pengusaha sukses

Malaysia, Murid yang Melampaui Guru
IST
MUHAMMAD ZHAFRAN

OLEH MUHAMMAD ZHAFRAN, Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, sedang mengikuti Program Pertukaran Pelajar di Universiti Teknologi MARA, melaporkan dari Shah Alam, Malaysia

MALAYSIA pernah memiliki hubungan kuat di masa lampau dengan kita, terutama Aceh. Warga negara Indonesia tersebar luas di sini, mulai dari yang menjadi pengusaha sukses, pengelola kedai runcit, hingga yang bekerja sebagai tukang bangunan. Latar belakang mereka pun sangat beragam, mulai dari yang putus sekolah hingga yang bergelar doktor mengadu nasib di negeri jiran ini mengharapkan kehidupan yang lebih baik.

Penduduk Malaysia mayoritas etnis Melayu. Salah satu syarat mutlak untuk dikatakan Melayu adalah karena ia beragama Islam. Institusi tempat saya belajar di sini (Universiti Teknologi MARA -red) hanya dikhususkan kepada bumiputera, meliputi ras Melayu serta Sabah dan Serawak (pribumi). Dalam kehidupan sosial, mereka cenderung tertutup dan malu-malu dalam pergaulan, baik di dalam maupun di luar kelas. Para insan di sini umumnya sangat menjunjung tinggi nilai moral. Mereka santun dan bersahaja.

Sejauh yang saya amati, etnis Melayu memegang kendali dalam pemerintahan. Mereka mampu mengontrol etnis lainnya. Bahkan dalam keseriusannya ingin menerapkan syariat Islam, mereka pernah belajar ke Aceh yang berhasil menerapkan syariat Islam di negara yang notabene bukan berlandaskan syariah ini. Nilai-nilai Islam dijunjung tinggi dan diamalkan dalam keseharian. Namun, di sisi lain toleransi tetap diutamakan, mengingat ada aneka etnis tersebar di penjuru negeri ini. Saya menyebut realitas khas Malaysia ini dengan label “negeri yang sukses secara ekonomi dengan dibalut toleransi yang indah”.
Malaysia melalui Petronas mampu membangun Twin Tower sebagai simbol kesuksesan perekonomian negara dan sempat menjadi bangunan tertinggi di dunia. Petronas sebenarnya pada awalnya sempat berguru pada Pertamina, namun bersihnya manajemen dan baiknya pengelolaan membuat mereka melampaui gurunya dan menjelma menjadi salah satu perusahaan raksasa minyak dan gas di dunia.

Dari segi ekonomi mereka rasanya lebih maju dibandingkan kita. Tetapi mengapa mereka bisa lebih maju? Bukankah kita memiliki penduduk yang lebih banyak? Bukankah kita memiliki sumber daya alam yang juga lebih melimpah? Apakah yang membedakan kita dengan mereka? Toh serumpun, mulai dari fisik, budaya, hingga lingkungan pun punya kesamaan.

Ternyata, fondasi ekonomi serta daya tahan yang kuat menjadi kunci pesatnya kemajuan dalam pembangunan di Malaysia. Memberantas kemiskinan dan membuka lapangan kerja menjadi sasaran utama pemerintah negeri ini dalam memperbaiki kesejahteraan rakyatnya. Strategi pengurangan kemiskinan di negeri jiran ini difokuskan pada pembangunan sumber daya manusia dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Janji bukan sekadar janji, kegigihan dalam mewujudkan target itu hasilnya bisa kita lihat saat ini. Mereka mampu memproduksi mobil sendiri dan diekspor ke berbagai belahan dunia.

Sebenarnya, bangsa kita memiliki kreativitas yang lebih tinggi dibanding mereka. Buktinya, di era Habibie Indonesia mampu membuat pesawat terbang. Beberapa teman saya yang pernah pergi ke Aceh berpendapat bahwa Aceh itu kreatif, Indonesia adalah bangsa yang inovatif dan mereka mengakui kita punya karya yang bahkan bangsa Malaysia sendiri tak pernah terpikir untuk mencipta atau melakukannya.

Namun, kelemahan kita adalah mudahnya rakyat terprovokasi sehingga membuat rentan terjadi perselisihan, pergesekan, atau bahkan intoleransi. Saling klaim budaya, makanan, sampai pada pakaian pun menjadi objek perselisihan.

Ketika saya tanya satu per satu teman-teman saya di sini mereka sebenarnya respek kepada kita dikarenakan label ‘serumpun’ yang sarat akan kesamaan. Juga ketika saya mengisi event sebagai pembicara, mereka terlihat antusias mendengarkannya. Namun, terkadang mereka juga bertanya-tanya, “Mengapa kesannya Indonesia sangat memusuhi Malaysia?” Padahal, jika ada bencana yang melanda tanah air kita, negeri jiran pulalah yang terdekat yang bisa dengan cepat memberikan bantuan. Justru karena serumpunlah seharusnya bisa membawa perdamaian dalam semangat persaudaraaan.

Jika kedua negara bersatu dan nantinya dapat membuat suatu inovasi yang berguna untuk masa depan sehingga memajukan perekonomian negara, siapa lagi jika bukan kita yang merasakan manfaatnya? Apakah kita siap untuk berubah menjadi bangsa yang lebih maju? Tanyakanlah jawabannya pada hati nurani kita masing-masing. Dan, jangan pula malu berguru kepada murid. Ya, apa boleh buat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved