Jembatan Pirak Timu Telantar

Pembangunan jembatan gantung penghubung dua kecamatan, Desa Asan Krueng Kreh, Kecamatan Pirak Timu

Jembatan Pirak Timu Telantar
SISWI melintasi jembatan gantung yang menghubungkan Desa Asan Lhoksukon Barat Kecamatan Lhoksukon dengan Desa Asan Krueng Kreh Kecamatan Pirak Timu Aceh Utara dengan hati-hati, Sabtu (21/11). 

LHOKSUKON - Pembangunan jembatan gantung penghubung dua kecamatan, Desa Asan Krueng Kreh, Kecamatan Pirak Timu dengan Desa Asan Arakeumudi Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara sudah dua tahun telantar. Padahal, jembatan tersebut mulai dibangun pada 2016 dengan dana APBA.

Informasi yang diperoleh Serambi, sebelum dibangun abutment pada 2016, jembatan penghubung konstruksi kayu dirubuhkan pemerintah karena selain tak layak lagi. Selain itu juga untuk pembangunan jembatan baru. Lalu, pada 2016 dibangun abutment dengan dana yang bersumber dari APBA. Namun, pada tahun 2017 tak dilanjutkan lagi. Demikian juga pada 2018. Eksesnya, warga di kawasan itu harus melalui jalur alternatif, dengan jarak yang lebih jauh lagi.

“Jarak tempuh Pirak Timu ke Lhoksukon melalui jembatan tersebut hanya berjarak satu kilometer, sehingga sebagian besar masyarakat melintasi jembatan tersebut. Namun, selama dua tahun terakhir, warga di kawasan kami harus melewati jalur alternatif, sehingga semakin jauh,” lapor warga Pirak Timu, Abdullah kepada Serambi kemarin.

Disebutkan, persoalan jembatan tersebut sudah pernah diusulkan kepada Pemkab Aceh Utara setahun lalu, tapi tidak ada respon. Sehingga sampai sekarang belum dilanjutkan pembangunannya. “Untuk itu, kami berharap supaya jembatan itu segera dibangun. Karena bukan hanya warga yang menggunakan jembatan itu, tapi juga pelajar yang pergi sekolah ke Lhoksukon,” ujar Abdullah.

Sementara itu, Keuchik Asan Krueng Kreh, Abdul Aziz kepada Serambi menyebutkan, jembatan itu merupakan akses utama masyarakat yang dilewati dua kecamatan yaitu Pirak Timu dan Cot Girek. Terlebih, sebagian warga Cot Girek lebih dekat melalui jembatan tersebut. “Ekses jembatan belum selesai, banyak siswa pindah sekolah dari Lhoksukon ke Pirak Timu. Akibatnya, sekolah di Lhoksukon mulai dari SD, SMP dan SMA kekurangan murid,” katanya.

Wakil Ketua DPRK Aceh Utara, H Abdul Mutaleb MAP mengungkapkan, pembangunan lanjutan jembatan tersebut tak diusulkan dalam APBK Aceh Utara, karena kondisi keuangan daerah pada 2017 dan 2018 sedang defisit. Apalagi, sedang fokus membayar utang. “Karena itu, saya akan berupaya agar jembatan itu bisa dilanjutkan. Jika tak memungkinkan di APBA murni, maka pada saat pembahasan perubahan harus diplot anggaran. Sehingga pada 2019 sudah dapat dilanjutkan pembangunan jembatan itu kembali,” katanya.

Kepala Bidang Jembatan dan Jalan Dinas Bina Marga Aceh Utara, Muhammad MT kepada Serambi kemarin mengakui, pihaknya belum mendapat laporan terkait telantarnya jembatan selama dua tahun. Akibatnya, mereka tak mengusulkan pembangunan lanjutan jembatan tersebut ke Dinas Bina Marga Aceh. “Belum ada laporan kepada kita terkait telantar jembatan itu. Karena itu, nanti kita akan menyampaikan ke Dinas Bina Marga Provinsi untuk mempertanyakan lanjutan pembangunan,” ujar Muhammad.

Selain itu, pihaknya juga akan mengusulkan pembangunan jembatan tersebut pada APBA perubahan 2019 mendatang dan jika tak memungkinkan akan diusulkan pada 2020 mendatang. “Ketika dibangun pada 2016 lalu, kita tidak mendapat laporan karena mereka tak memberitahukannya,” katanya.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved