Citizen Reporter

Makna Desember bagi Orang Jepang

PRINSIPNYA hanya kerja, tidak peduli akan sekitar dan tertutup ( ) itulah beberapa hal yang dahulu saya pikirkan

Makna Desember bagi Orang Jepang
IST
NIVA ADILLAH

OLEH NIVA ADILLAH, Siswi SMA Negeri 1 Jeumpa Puteh, Banda Aceh, sedang mengikuti Program Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya/Kakehashi Project, melaporkan dari Nagoya, Jepang

PRINSIPNYA hanya kerja, tidak peduli akan sekitar dan tertutup ( ) itulah beberapa hal yang dahulu saya pikirkan tentang orang Jepang. Ternyata saya salah, anggapan tentang hal itu berubah setelah saya menetap di sini selama empat bulan sebagai murid pertukaran pelajar yang bertujuan untuk mengenalkan budaya Indonesia serta mempelajari budaya asing. Banyak budaya baru serta kebiasaan-kebiasaan yang saya dapatkan di sini. Beberapa hal tersebut justru saya temukan pada Desember ini.

Desember ialah bulan di mana banyaknya hari-hari perayaan bagi orang Jepang, seperti perayaan menyambut tahun baru. Tradisi Jepang yang bernama Mochitsuki ialah tradisi yang berarti membuat mochi untuk perayaan tahun baru yang setidaknya telah ada sejak periode Heian (794-1185). Mochitsuki atau membuat mochi tidaklah mudah, begitu juga saat mengunyah dan menelannya yang membutuhkan tenaga. Bagi masyarakat Jepang, mochi diharapkan bisa membawa kekuatan serta harapan di tahun yang baru.

Mochi, kue berbentuk bulat yang terbuat dari beras ketan biasanya dibuat warga di lingkungan sekitarnya. Setelah direndam satu malam, beras pun ditempatkan pada sebuah wadah yang terbuat dari batu, kayu, atau beton. Tentunya kerja sama diperlukan dalam pembuatan ini. Satu orang bertugas untuk membolak-balik beras, sedangkan beberapa orang lainnya bertugas mengalunkan palu yang terbuat dari kayu atau kine dan memukulkannya secara bergiliran. Yang lainnya pun ikut serta dengan memberikan semangat teriakan “yoisho” pada setiap pukulannya.

Kebersamaan sangat nyata pada adegan pembuatan mochi, apalagi ini merupakan pengalaman pertama bagi saya untuk memukul mochi dengan palu yang terbilang cukup besar dan berat. Akan tetapi, rasa berat itu hilang saat mendengar orang lain menyemangati saya.

Setelah berpatisipasi langsung pada pembuatan mochitsuki, saya mempresentasikan Indonesia serta beberapa sapaan bahasa Aceh kepada anak-anak TK dan SD. Setiap anak yang dapat menyebutkan bahasa Aceh tersebut akan saya berikan stempel karena mereka diberikan games untuk mengumpulkan stempel sebanyak-banyaknya sehingga pemenangnya akan diberikan hadiah. Tak hanya anak-anak, beberapa orang tua pun ikut berpatisipasi dengan permainan tersebut. Hal inilah yang sangat menghangatkan suasana. Saya merasakan kebersamaan yang erat.

Tak hanya itu, bulan Desember juga bulan di mana adanya liburan musim salju yang terbilang panjang. Orang Jepang memanfaatkan waktu ini untuk berkumpul dengan keluarga sambil mengadakan makan besar. Beberapa pergi ke perkemahan, beberapa lainnya mengadakan takoyaki party dan masih banyak lagi. Di samping itu, murid SMA dan kuliah juga memanfaatkan waktu ini untuk melakukan arubaito atau kerja paruh waktu yang bertujuan untuk berinteraksi dengan banyak orang sehingga bisa menambah relasi. Dari sini saya dapat melihat bahwa memang benar mereka ialah orang yang pekerja keras. Akan tetapi, bukan berarti mereka tidak peduli, melainkan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin.

Anggapan tentang mereka tidak peduli akan sekitar juga seketika berubah saat saya masuk ke toilet rumah maupun umum. Jepang termasuk negara yang toiletnya berupa toilet kering karena itu setelah menggunakannya mereka selalu membersihkannya. Apalagi penggunaan tisu yang setelah dipakai langsung dibuang di closetnya sehingga dapat mengurangi sampah. Awalnya saya takut akan toiletnya tersumbat, tetapi ternyata tisunya sudah didesain agar lebih rapuh sehingga tidak menyumbat toilet. Begitu juga dengan bathroom yang setelah digunakan selalu dilap air-air yang terjiprat. Mereka sangat peduli dengan orang setelahnya yang akan memakai toilet atau bathroom yang sama. Tak heran jika Jepang ialah negara yang kebersihannya sangat bagus.

Banyak kebiasaan lainnya yang sangat mengejutkan saya. Beberapa hal yang saya sebutkan di atas ialah hal-hal yang mengubah pemikiran saya tentang orang Jepang. Mereka sangat peduli akan sekitar bahkan bagi mereka keluarga ialah prioritas bagi mereka. Semakin banyak pengalaman baik yang saya dapatkan disini, saya berharap sepulangnya ke Aceh dapat berubah menjadi lebih baik lagi dan tidak menaruh pemikiran stereotype kepada suatu kelompok yang belum saya kenal dan tahu akan hal itu sehingga dapat lebih mudah untuk mencintai perbedaan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved