Sejarah Gedung BI Aceh Dibahas

Dalam rangka memperingati 100 tahun Gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia (Aceh) yang jatuh pada 2 Desember

Sejarah Gedung BI Aceh Dibahas
IST
KEPALA Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh, Zainal Arifin Lubis, foto bersama dengan 16 perwakilan delapan pesantren binaan BI sebelum bertolah ke Surabaya untuk mengikuti Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2018, 10-12 Desember 2018. 

BANDA ACEH - Dalam rangka memperingati 100 tahun Gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia (Aceh) yang jatuh pada 2 Desember lalu, pihak BI mengadakan kegiatan bertema ‘Kiprah Bank Indonesia dalam Perekonomian Aceh’, di kantor BI setempat, selama dua hari (8-9 Desember). Dalam kegiatan itu juga diadakan seminar yang salah satu materinya membahas tentang sejarah gedung BI Aceh.

Kepala Kantor Perwakilan BI Aceh, Zainal Arifin Lubis dalam siaran pers yang diterima Serambi, Senin (10/12) menyampaikan gedung BI Aceh yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya (heritage) sejak 1999 kini genap berusia 100 tahun. Gedung tersebut menjadi bagian dari bangunan bersejarah di Banda Aceh.

“Bentuk dan nilai sejarah yang dimilikinya menjadikan gedung ini sebagai ikon wisata, dan sering dijadikan objek pengambilan foto oleh masyarakat, terutama untuk keperluan foto pra wedding,” ujarnya.

Zainal Arifin Lubis menjelaskan khusus di bidang ekonomi, Aceh juga memiliki peranan strategis bagi perekonomian bangsa. Sumber daya alam yang dimilikinya, menjadikan Aceh sebagai salah satu daerah yang berkontribusi bagi kemajuan ekonomi nasional. Pada zaman penjajahan, hasil perkebunan Aceh seperti lada, pala, cengkeh, dan karet, menjadi incaran Belanda. Kontribusi hasil perkebunan Aceh tetap berlanjut pasca kemerdekaan RI, dimana ekspor Indonesia untuk komoditas seperti karet, lada, pala, dan cengkeh, dihasilkan dari Aceh.

Selanjutnya di era 70-an, penemuan migas di Aceh Utara sudah menjadikan Aceh sebagai penyumbang devisa yang besar bagi Indonesia. Saat itu tercatat ekspor Aceh yang didominasi oleh migas, rata-rata mencapai USD 2,45 miliar selama kurun waktu 1980-1985. Kontribusi migas Aceh dalam perekonomian nasional terus berlanjut selama kurang lebih 40 tahun, hingga pada akhirnya tahun 2014 kilang LNG Arun berhenti beroperasi.

“Salah satu bukti nyata yang menunjukkan peran strategis Aceh dalam perekonomian Indonesia adalah gedung Bank Indonesia Provinsi Aceh. Gedung yang awalnya milik De Javasche Bank ini mengindikasikan perekonomian Aceh saat itu dianggap penting, sehingga De Javasche Bank yang merupakan bank sirkulasi milik pemerintahan Hindia Belanda membuka kantornya di Kutaradja, nama Banda Aceh kala itu,” jelasnya.

Dikatakan, tidak semua provinsi di Indonesia memiliki gedung peninggalan De Javasche Bank. Selama 125 tahun beroperasi di Indonesia (1828-1953), De Javasche Bank sudah membuka 24 kantor yang tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Khusus di Sumatera, kantor De Javasche Bank hanya ada di Aceh, Medan, Padang dan Palembang.(una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved