Sjamsul Kahar: ISBI Laboratorium Budaya

Mantan ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA), H Sjamsul Kahar yang juga Pemimpun Umum Harian Serambi Indonesia

Sjamsul Kahar: ISBI Laboratorium Budaya
SERAMBI/ SUBUR DANI
REKTOR Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Dr Ir Mirza Irwansyah MBA, MLA didampingi Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar, Budayawan Aceh, H Harun Keuchik Leumik, dan sejumlah pejabat lainnya memotong pita saat pembukaan pameran seni rupa dalam rangka Dies Natalis Ke-4 ISBI Aceh di kampus itu, Jantho, Aceh Besar, Senin (10/12). 

BANDA ACEH - Mantan ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA), H Sjamsul Kahar yang juga Pemimpun Umum Harian Serambi Indonesia menjadi dies reader dalam acara peringatan Hari Jadi (Dies Natalis) Ke-4 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Seni pertunjukan ISBI Aceh di Kota Jantho, Aceh Besar, Senin (10/12) pagi.

Dalam orasi ilmiahnya, H Sjamsul Kahar menyampaikan beberapa hal terkait keberadaan ISBI di Aceh. Meski baru empat tahun, namun menurutnya, kehadiran ISBI Aceh sangat penting di tengah kecanggihan teknologi yang merupakan sebuah keniscayaan mengikuti arus perkembangan zaman.

“Kehadiran ISBI di Aceh adalah anugerah Tuhan dengan momentum perkembangan sosial budaya di Aceh dengan segala implikasinya. ISBI sangat penting, sebagai lembaga strategis dalam pengembangan kebudayaan, baik dalam konteks pendidikan, penelitian, perencanaan, maupun penyiapan sumber daya manusia” kata Sjamsul di awal orasinya.

Sjamsul mengatakan, saat ini kecanggihan teknologi tak dapat dibendung. Revolusi industri 4.0 yang dikenal sebagai tren automasi teknologi kian maju dan futuristik serta memudahkan setiap penggunanya. Semua bisa didapatkan di sana, tak ayal, kecanggihan ini diyakini bisa mengubah dunia.

Meski semua sepakat kecanggihan teknologi untuk memositifkan dunia, tapi tetap dikhawatirkan di sisi lain bisa menggerus budaya, peradaban, dan adat istiadat masyarakat, tak terkecuali di Aceh. Oleh sebab itu, Sjamsul Kahar berpendapat, ISBI Aceh adalah sebuah gerakan yang dilakukan atas dasar budaya keacehan yang progresif, tidak hanya berorientasi pada waktu, dan kerja keras.

“Dalam konteks itulah kita harus melihat eksistensi ISBI ini sangat strategis. ISBI harus

disiapkan untuk bertindak sebagai pagar budaya, ISBI harus mampu mencegah terjadinya abrasi budaya yang akan segera datang,” ujar Sjamsul Kahar.

Menurut Sjamsul, selain sebagai sebuah lembaga pendidikan, ISBI Aceh juga punya andil besar mengawal dan merawat akar tradisi Aceh, mulai dari budaya, kesenian, dan adat istiadat. ISBI ia minta untuk memetakan keberadaan jenis kesenian Aceh, menggali sumber daya kesenian daerah, menyeleksi, hingga membakukan semua temuan dalam format digital, baik berupa software, maupun hardware.

“Itulah makanya, peranan ISBI menjadi penting. Banyak hal yang harus dilakukan ISBI, tidak hanya menyiapkan skills SDM, tetapi ISBI juga menjadi laboratorium seni budaya, menjadi episentrum seni dan budaya Aceh,” kata Sjamsul disambut tepuk tangan hadirin.

Salah satu studi yang harus digali, menurut Sjamsul Kahar, adalah alat musik tradisional Aceh, seurune kale. Menurutnya, seurune kale masuk dalam kategori terompet, tapi berkualifikasi nada pentatonic, yakni tangga nada dengan lima not per oktaf yang umumnya digunakan pada musik tradisional. Menurutnya, serune kalee susah berkolaborasi dengan alat musik tiup kontemporer lain yang umumnya berkualifikasi diatonic (tujuh not).

 “Jika dimainkan dengan alat musik kontemporer, sering disharmonisasi atau fals. Nah, hal-hal beginilah yang harus terus dikaji dalam laboratorium ISBI, dan masih banyak hal lainnya yang juga perlu dikaji,” demikian Sjamsul Kahar dalam orasi ilmiahnya tentang budaya dan perkembangan teknologi.

Akreditasi
Sementara itu, Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Dr Ir Mirza Irwansyah MBA dalam sambutannya mengatakan, Kampus ISBI Aceh sudah menginjak usia empat tahun dan ikut mewarnai dunia pendidikan tinggi, khususnya bidang seni dan budaya. “Selama empat tahun, kita telah melewati suka duka,” kata Mirza.

Dia menuturkan, dies natalis ke-4 merupakan momentum penting bagi ISBI Aceh untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan selama ini. “Hal ini harus menyadarkan semua civitas akademika ISBI Aceh bahwa kampus harus terus bergerak ke depan dan mengukir banyak karya dan prestasi seiring usianya yang semakin matang,” ujarnya.

Satu hal yang difokuskan dalam rangka milad ke-4 tahun ini adalah upaya ISBI Aceh untuk menjemput akreditasi BAN-PT. “Dies ini juga merupakan refleksi kreativitas kita dalam kesenian menjadi evaluasi terhadap kegiatan yang telah kita laksanakan dalam rangka evaluasi diri menuju akreditas BAN PT,” kata Mirza.

Pantauan Serambi, acara Dies Natalis Ke-4 ISBI Aceh kemarin dihadiri sejumlah tamu undangan dari kalangan pemerintah JUGA sejumlah pegiat budaya dan kesenian Aceh. Hadir juga budayawan Aceh, H Harun Keuchik Leumik, Ketua DKA, Nurmaida Atmaja, dan sejumlah tokoh lainnya. Acara berlangsung meriah dengan berbagai seni pertunjukan mahasiswa ISBI Aceh. Sejak kemarin hingga hari ini di Gedung Pertunjukan ISBI juga dilaksanakan pemeran seni rupa. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved