BPOM Awasi Produk Kosmetik

Pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Banda Aceh akan melakukan pengawasan terhadap promosi

BPOM Awasi Produk Kosmetik
KAPOLRESTA Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto didampingi Kasat Reskrim, M Taufik menggelar konferensi pers terkait penangkapan puluhan kosmetik ilegal di Mapolresta Banda Aceh 

* Yang Diendorse di Medsos

BANDA ACEH - Pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Banda Aceh akan melakukan pengawasan terhadap promosi berbagai produk kecantikan di media sosial (medsos) dengan menggunakan artis maupun selebgram Aceh menarik konsumen agar membeli kosmetik yang sedang diendorse.

“Saya mohon informasinya dari masyarakat, memang promosi yang dilakukan berbagai macam di media sosial sekarang ini. Bagaimana masyarakat mendapatkan informasi yang benar, apabila informasi yang didapatkan itu tidak sesuai dengan ketentuan maka pasti akan kita awasi,” kata Kepala BPOM Banda Aceh, Drs Zulkifli Apt menjawab wartawan terkait maraknya artis maupun selebgram yang mempromosikan produk kosmetik di medsosnya masing-masing, disela kampanye cerdas menggunakan kosmetik untuk generasi millenial, di Aula BPOM setempat, Selasa (11/12).

Ia menambahkan, pengawasan iklan di media sosial maupun cetak merupakan bagian dari pengawasan yang dilakukan pihaknya. Menurut Zulkifli, pembelian produk kosmetik melalui online lebih banyak dilakukan oleh generasi millenial. Maka itu, dia mengimbau sebelum membeli secara online konsumen harus teliti terhadap produk itu terdaftar atau tidak di BPOM.

“Kadang penjual tidak menyebutkan produknya terdaftar atau tidak di BPOM. Apabila sudah terdaftar di BPOM, generasi millenial bisa melihatnya di aplikasi Cek Klik BPOM yang kita punya, cek disitu betul atau tidak sudah terdaftar,” sebutnya.

Sebaiknya, kata Zulkifli, sebelum membeli produk kosmetik, konsumen harus mempertanyakan hal tersebut kepada penjual. “Itu harus ditanyakan, kalau iya katanya. Minta terdaftar di BPOM nomor berapa, ini kita harapkan. Memang peredaran sekarang sudah dunia digital semua,” tegasnya.

Dikatakan, kasus kosmetik di Aceh menjadi kasus paling banyak yang ditangani pihaknya disamping kasus-kasus lain. Dari 11 kasus yang sedang diproses di pengadilan, 9 diantaranya adalah kasus kosmetik ilegal atau tanpa izin edar. “Artinya begitu banyak kasus kosmetik yang ada di Aceh. Penjualan kosmetik ini ketika kita sedang proses yang ini, maka muncul lain yang baru,” ujarnya.

Agar peredaran kosmetik ilegal ini berkurang, maka pihaknya selalu melakukan pengawasan di lapangan secara rutin dan tiap hari. Dan apabila masih ada yang menjual kosmetik ilegal akan dilakukan tindakan administratif hingga ke proses hukum.

Kepala BPOM Banda Aceh, Zulkifli, juga menyampaikan terkait krim wajah berbahaya menurut BPOM, yaitu tidak ada izin BPOM atau lembaga kesehatan, warna krim mengkilap, tidak tercampur rata dan lengket, bau menyengat, panas dan perih saat dipakai, kulit merah saat terkena sinar matahari, kulit tampak putih pucat, serta hasil yang instan dan sangat cepat, dan ketergantungan.

“Ketergantungan pada krim sangat jelas, saat memakai krim wajah akan terlihat putih bersih. Namun setelah pemakaian dihentikan pada wajah akan mulai tumbuh bintik-bintik, kemerahan bahkan berwarna hitam,” demikian Zulkifli. Kampanye ini diikuti oleh mahasiswa, dan pelaku usaha kosmetik dengan juga menghadirkan pemateri lainnya.(una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved