Salam

E-Parking, Proyek Berat di Ongkos

Pemerintah Kota Banda Aceh akhirnya mengevaluasi kembali proyek lokasi parkir berfasilitas elektronik (E-Parking)

E-Parking, Proyek Berat di Ongkos
KENDARAAN keluar dari area electronic parking yang pertama dibangun di Jalan T Nyak Makam, Banda Aceh

Pemerintah Kota Banda Aceh akhirnya mengevaluasi kembali proyek lokasi parkir berfasilitas elektronik (E-Parking) menyusul banyak protes masyarakat yang menganggap keberadaan fasilitas itu sangat mengganggu. Dan, yang paling protes lokasi E-Parking itu adalah para pemilik rumah toko serta pemilik toko-toko tempat usaha yang terkena lokasi parkir elektronik perdana partama di Jalan TP Nyak Makam. Jika pun kelak Pemko Banda Aceh membangun lagi lokasi-lokasi E-Parking, direncanakan tanpa menggunakan palang pintu (barier gate).

Pejabat Dishub Banda Aceh menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi pihaknya, warga Banda Aceh belum siap dengan sistem e-parking. “Sebenarnya penggunaan barrier gate (e-parking) ini sangat baik untuk mendisiplinkan kita semua. Tapi kalau masyarakat belum bisa menerima ya kita tidak bisa paksakan,” ujar sang pejabat mengisyaratkan kompromis dengan keluhan warga.

Untuk itu, Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh sedang menyiapkan konsep baru dengan membuat enam kawasan parkir ke depan tanpa barrier gate. “Target pemerintah sendiri yakni menciptakan kawasan parkir yang tertib. Kalau kawasan sudah tersedia, maka masyarakat tidak parkir lagi di badan jalan, itu intinya,” jelas dia.

Jadi, lokasi-lokasi parkir ke depan hanya bersifat penertiban lahan. Artinya, lahan-lahan parkir yang selama ini telanjut terserobot untuk lapak usaha, nantinya akan diambil dan dibersihkan kembali oleh pemerintah guna dijadikan lokasi parkir.

Dan, kawasan parkir yang akan dibuat nantinya tidak lagi menggunakan sistem elektronik, tapi hanya menggunakan pintu masuk dan keluar, tanpa palang pintu dan pos penjagaan. Jadi, sama dengan parkir manual, yang dijaga oleh para juru parkir. “Rencananya akan dibangun sekitar April tahun 2019 mendatang. Kami tetap akan sosialisasi ke masyarakat sebelum membangun kawasan itu nanti,” tambah pejabat Dishub Banda Aceh.

Sesungguhnya, lokasi pertama di Jalan TP Nyak Makam itu bukan hanya tidak diterima oleh masyarakat, tapi pembangunan lokasi E-Parking itu memang tidak ekonomis. Proyek itu berat di ongkos. Investasi pemerintah untuk palang pintu dan pos penjaganya saja mencapai Rp 200 juta. Ditambah lagi biaya penjaga dan pemeliharaan, maka berapa duit yang bisa didapat pemerintah jika lokasi parkir itu hanya bisa menampung sekitar 100 mobil perhari?

Karena itulah, kita sangat setuju jika Pemko Banda Aceh untuk saat ini lebih menargetkan penertiban parkir agar tak mengganggu arus lalu lintas. Jadi, lahan-lahan parkir yang sudah telanjur jadi lapak usaha harus dikembalikan peruntukannya menjadi tempat parkir mobil dan sepeda motor.

Dan, penertiban ini juga tak harus dilakukan secara menyeluruh dulu, sebab sesungguh gangguan arus lalulintas hanya terjadi di lokasi-lokasi yang banyak warung kopinya. Di sanalah badan jalan sering terampas untuk parkir kendaraan para pengunjung warung kopi.

Dan, program penertiban lahan untuk penyediaan lokasi parkir ini kita harap dilakukan secara terus-menerus dengan menggunakan skala prioritas. Yang paling mendesak tentu di Jalan TP Nyak Makam mulai dari Lampineung sampai jembatan Pango, jalan Batoh mulai Simpang Surabaya hingga dekat terminal bus, serta sejumlah kawasan lainnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved