Husaini Hasan: Pemilihan Wali Ditutup-tutupi

Pro-kontra terkait Lembaga Wali Nanggroe (LWN) terus bergulir menjelang berakhirnya masa jabatan Tengku Malik Mahmud Al-Haythar

Husaini Hasan: Pemilihan Wali Ditutup-tutupi
SERAMBI/HARI MAHARDHIKA
HUSAINI HASAN, Mantan Sesneg GAM 

PENGANTAR - Pro-kontra terkait Lembaga Wali Nanggroe (LWN) terus bergulir menjelang berakhirnya masa jabatan Tengku Malik Mahmud Al-Haythar pada 16 Desember mendatang. Hingga saat ini belum diketahui pasti bagaimana kelanjutan jabatan sosok pemangku adat Aceh ini untuk lima tahun ke depan.

Malik sendiri sudah menegaskan maju lagi, karena menurutnya banyak tugas yang belum selesai, banyak persolan dari butir-butir MoU Helsinki yang belum tuntas. Oleh karena itu, dia berkeinginan kuat untuk menyelesaikannya melalui jabatan Wali Nanggroe. Di sisi lain, Malik dikritisi, dia dituding tidak menjalankan fungsinya selama lima tahun menduduki jabatan tersebut.

Di tengah isu ini, salah satu mantan pendiri GAM, Dr Husaini Hasan angkat bicara. Mantan sekretaris negara di masa awal perjuangan bersama almarhum Teungku Hasan Muhammad di Tiro ini mengatakan, keberadaan LWN pada dasarnya sangat penting karena wujud dari simbol Aceh.

Namun, dia mengatakan, saat ini keberadaan lembaga pemangku adat ini belum menunjukkan eksistensinya yang begitu baik, sehingga muncul sikap apatis dari masyarakat terkait keberadaannya.

Lalu, siapa sosok Wali Nanggroe yang tepat menurut Husaini Hasan? Bagaimana pula dengan ‘dekrit’ Hasan Tiro yang tertulis dalam bukunya The Price of Freedom dan menyebutkan nama-nama yang akan melanjutkan kepemimpinan jika dirinya sudah tiada? Berikut cuplikan wawancara eksklusif Serambi Indonesia dengan Dr Husaini Hasan di Banda Aceh, Selasa (11/12).

Apa kabar Anda selama ini?
Baik, alhamdulillah.

Ada agenda apa Anda pulang lagi ke Aceh?
Iya agenda pribadi. Saya pulang ke Aceh karena ingin nostalgia ke kampung halaman, nostalgia ke masyarakat gampong dan juga ingin saweu jeurat ureung syik.

Terakhir pulang kapan?
Sudah sering saya pulang sejak masa pemerintahan Irwandi kali ini. Alhamdulillah, saya lebih leluasa dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Selama ini Anda warga negara mana?
Sejak ke Swedia saya diterima sebagai warga Swedia, warga negara di sana. Tapi saya tidak lagi tinggal di Swedia, sekarang saya tinggal di Australia. Saya tetap warga Swedia. Mereka tidak ada masalah mau berapa warga negara tak masalah. Mereka multinational, mau jadi warga negara apa saja tidak ada masalah.

Apa ada rencana menetap kembali di Aceh?
Iya, tentu. Saya juga sudah memohon ke presiden sekitar dua bulan lalu. Tapi, belum ada jawaban. Saya juga heran kenapa masih berlarut-larut, padahal saya memang warga negara Indonesia, tapisaya ke luar negeri dulu karena konflik.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved