Opini

PT dan Era Industri 4.0

JUMLAH perguruan tinggi (PT) di Indonesia terbesar di dunia. RRC dengan jumlah penduduk 1.371 miliar jiwa

PT dan Era Industri 4.0
SERAMBINEWS.COM/M NASIR YUSUF
Dr Muhd. Najib Muhammad Yasin ketika memberikan materi pada seminar internasional bertajuk Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan bisnis digital di STIES Banda Aceh 

Oleh Mahyuddin

JUMLAH perguruan tinggi (PT) di Indonesia terbesar di dunia. RRC dengan jumlah penduduk 1.371 miliar jiwa (2015) hanya memiliki 2.500 PT. Sementara Indonesia dengan jumlah penduduk 261,1 juta jiwa (2016) memiliki 4.539 PT dengan disparitas mutu pendidikan tinggi yang sangat mencolok. Jumlah ini sudah termasuk di Aceh yang berpenduduk 5.096.248 jiwa, memiliki 117 PT, dengan rincian 7 perguruan tinggi negeri (PTN) dan 110 PTS (2018).

Jumlah PT tersebut tentunya menghasilkan jumlah lulusan yang besar. Namun, melimpahnya jumlah lulusan perguruan tinggi tidak berbanding lurus dengan terpenuhinya kualitas lulusan dengan persyaratan dunia kerja. Kondisi di atas paling tidak disebabkan empat permasalahan utama, yakni: kualitas sumber daya manusia (SDM), kualitas perguruan tinggi, relevansi kualifikasi lulusan perguruan tinggi dengan dunia kerja, dan karakter manusia Indonesia.

Dalam konteks global, ukuran kualitas PT saat ini ditentukan berdasarkan standar QS University (Quacquarelli Simonds) yang merupakan ranking universitas dunia yang saat ini diakui di Amerika, Eropa, dan Asia. Dalam hal ini, standar atau parameter yang diukur meliputi penelitian, pengajaran, kepegawaian, internasionalisasi, fasilitas, online/distance learning, tanggung jawab sosial, inovasi, seni budaya, inkusivitas, dan keunikan khusus lainnya.

Dalam konteks penelitian, satu indikator utamanya adalah jumlah publikasi ilmiah dosen dan mahasiswa pada jurnal internasional yang terindeks scopus. Hal ini menandakan tingkat kepercayaan dunia internasional terhadap kualitas dan kemampuan penelitian dosen, juga sejauh mana dosen mampu berperan dalam komunitas ilmuwan dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Sedangkan kualitas PT nasional mengacu pada standar akreditasi; baru 72 PT yang memiliki akreditasi A. Demikian pula program studi (prodi), dari 20.254 prodi yang ada, hanya 2.512 prodi yang terakreditasi A. Data BAN PT sebagai acuan standar pengelolaan PT menyebutkan bahwa yang terakreditasi: A = 72, B = 576, C = 936, sementara ribuan lainnya belum terakreditasi. Padahal akreditasi PT dan prodi memiliki korelasi erat dengan kompetensi lulusan perguruan tinggi.

Kompetensi lulusan
Relevansi kompetensi lulusan PT menunjukkan ketidaksesuaian dengan kebutuhan dunia kerja, tidak linier dengan latar belakang pendidikannya. Hal ini menjadikan mereka tidak terserap, sehingga timbul pengangguran terdidik lulusan PT yang setiap tahun cenderung meningkat. Hal ini menjadi stigma buruk bagi dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. Sebagai ilustrasi, mahasiswa Indonesia hanya sekitar 5% menempuh bidang pertanian, 16% bidang teknik, sedangkan yang terbanyak bidang sosial dan politik mencapai lebih dari 50%.

Seharusnya PT menghasilkan lulusan yang siap terjun mengelola potensi bumi Indonesia. Semisal potensi bumi Indonesia terbesar di bidang pertanian dan kelautan. Potensi ini sangat memerlukan para pengelola berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, yang tentunya telah mengecap pendidikan tinggi.

PT juga dituntut merumuskan proses pendidikan yang dapat mengembangkan karakter para peserta didik. Karakter merupakan satu modal penting menopang kesuksesan mereka. Lulusan yang unggul, harus memiliki karakter positif dan berkualitas. Berkaca dari Jepang yang mampu bangkit setelah hancur karena perang dunia II, dan Korea yang memperjuangkan kemerdekaannya 72 lalu, mampu bangkit menjadi negara maju dan produktif.

Hal lain, padatnya tuntutan akademik yang menyebabkan mahasiswa kekurangan waktu meningkatkan kemampuan di luar kampus dan aktivitas organisasi. Sehingga kurang menjamin kematangan mahasiswa secara wawasan, keorganisasian, maupun kelincahan mahasiswa. Untuk menunjang kualitas mahasiswa, PT perlu memberi keleluasaan mahasiswa berekpresi, kritis menyikapi problema kemasyarakatan dalam pendekatan keilmuan secara inovatif.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved