Opini

Ekonomi Syariah di Era Industri 4.0

MAJALAH mingguan The Economist yang terbit Amerika Serikat, pada 6 April 2018 menulis “prihatin” bahwa era Revolusi

Ekonomi Syariah di Era Industri 4.0
SERAMBINEWS.COM/M NASIR YUSUF
Dr Muhd. Najib Muhammad Yasin ketika memberikan materi pada seminar internasional bertajuk Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan bisnis digital di STIES Banda Aceh 

Oleh Adnan Ganto

MAJALAH mingguan The Economist yang terbit Amerika Serikat, pada 6 April 2018 menulis “prihatin” bahwa era Revolusi Industri 4.0 dapat menyebabkan hilangnya privasi seseorang, akibat penyebaran data digital secara mudah. Tiada tempat lagi bagi data untuk disembunyikan.

Satu hal yang sudah pasti bahwa Revolusi Industri 4.0 telah datang di tengah-tengah kita dan kita tidak mungkin lagi menolak untuk menghindarinya. Proses ini akan terus berjalan dan kita pun harus berupaya selektif untuk menepis dampak negatifnya.

Ekonomi syariah
Ekonomi syariah adalah sistem ekonomi bagi hasil tanpa menggunakan bunga. Sistem ekonomi syariah berbeda dengan sistem ekonomi konvensional (Ekonomi Kapitalis dan Ekonomi Sosialis).

Krisis ekonomi yang sering terjadi di dunia seperti: Great Depression (1929), Black Monday (1987), Asian Financial Crissis (1997) yang sering disebut di Indonesia dengan Krisis Moneter (Krismon), dan Krisis Keuangan Global 2008 adalah disebabkan oleh sistem ekonomi konvensional yang mengedepankan sistem yang merupakan sistem bunga di pasar uang sebagai instrumen profitnya atau dengan manipulasi harga saham dan obligasi di pasar modal.

Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah di Indonesia sekarang ini sedang menjadi perhatian masyarakat. Banyak bank besar, baik bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun bank swasta, telah membentuk Unit Usaha Syariah (UUS) atau mendirikan bank syariah.

Lembaga keuangan, baik perbankan maupun perusahaan asuransi, dalam beberapa tahun terakhir memberikan atensi yang luar biasa terhadap ekonomi syariah. Sampai 30 November 2018 lalu, Aceh adalah satu-satunya daerah dari 34 provinsi di Indonesia yang telah mengonversikan Bank Pembangunan Daerah (BPD)-nya secara utuh menjadi Bank Aceh Syariah.

Statistik perbankan syariah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa aset bank syariah di Indonesia pada akhir 2017 tumbuh dengan 12,6% menjadi Rp 401,45 triliun dibandingkan dengan posisi akhir 2016. Jumlah tersebut terdiri atas aset Bank Umum Syariah (BUS) sebesar Rp 278 triliun dan aset Unit Usaha Syariah (UUS) senilai Rp 123,45 triliun. Saat ini terdapat 34 BUS dan 21 UUS dengan jumlah pekerja hampir 58 ribu pegawai.

Tampaknya sebagian masyarakat telah sadar dan beralih ke perbankan syariah untuk menghindari sistem riba dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Saya kira, ekonomi Islam atau ekonomi syariah akan terus menjadi satu pilihan kebutuhan di masa depan.

Perkembangan ekonomi Islam dalam bentuk bank syariah mulai terasa pada 2004, setelah resmi berdiri sebuah bank Islam, yakni IBB (The Islamic Bank of Britain) di Inggris dan menjadi bank syariah pertama di Eropa yang diikuti dengan prestasi yang cukup memuaskan. Aset perbankan syariah di Inggris pada akhir 2016 mencapai US$ 18 miliar (sekitar Rp 276 triliun), melebihi aset perbankan syariah di beberapa negara lain seperti Pakistan, Turki, dan Mesir.

Sebagai perbandingan, total aset Bank Aceh Syariah pada akhir 2017 mencapai Rp 22,6 triliun, sedangkan bank syariah di Inggris dengan penduduk yang beragama Islam hanya 4,9 juta orang total aset bank syariahnya mencapai Rp 276 triliun. Total aset perbankan syariah dunia pada akhir 2014 sebesar US$ 778 miliar (Rp 11.981 triliun).

Negara-negara yang memakai sistem ekonomi Islam dalam pengoperasian usaha perbankan syariah, sudah cukup banyak, di antaranya: Arab Saudi, Mesir, Turki, Pakistan, Sudan, United Arab Emirate, Malaysia, Indonesia, Inggris, dan masih banyak lagi, baik di Eropa maupun di Asia. Di seluruh dunia total aset bank syariah diproyeksikan tumbuh menjadi US$ 3,5 triliun (Rp 53.900 triliun) pada 2021 dibandingkan dengan saat ini yang total asetnya sebanyak US$ 2 triliun (Rp 30.800 triliun).

Menunjukkan minat besar
Laporan Thompson Reuter’s Islamic Finance Development dengan judul Resilient Growth yang dipublikasikan pada akhir 2016, telah ada sekitar 600 institusi di seluruh dunia yang menyediakan pendidikan ekonomi Islam dan keuangan syariah. Negara-negara di Eropa menunjukkan minat yang besar pada pendidikan keuangan syariah.

Demikian paparan singkat ini, semoga dapat memberikan tambahan wawasan dan inspirasi untuk mempelajari lebih dalam mengenai Revolusi Industri 4.0 dan Ekonomi Syariah serta keterkaitan antarkeduanya.

* Dr. H. Adnan Ganto, M.B.A., Dewan Komisaris Morgan Bank dan Penasihat Menteri Pertahanan RI Bidang Ekonomi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved