Citizen Reporter

Umrah Seru ala Mahasiswa Dhahran

Di Arab Saudi, libur akhir pekan jatuh pada hari Jumat dan Sabtu. Sedangkan hari Ahad penduduknya mulai masuk kerja

Umrah Seru ala Mahasiswa Dhahran
Zulkarnain Jalil

OLEH DR ZULKARNAIN JALIL MSi, Dosen Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Peneliti Tamu di King Fahd University of Petroleum & Minerals (KFUPM) Dhahran, melaporkan dari Arab Saudi

Di Arab Saudi, libur akhir pekan jatuh pada hari Jumat dan Sabtu. Sedangkan hari Ahad penduduknya mulai masuk kerja, layaknya di tempat kita hari Senin sebagai hari pertama kerja atau sekolah.

Nah, ada hal menarik yang saya pantau setiap menjelang hari libur ini. Kamis sore, umumnya bakda Asar, para mahasiswa KFUPM hingga pekerja kantoran dan industri di Kota Dhahran bergegas meninggalkan kampus dan lokasi kerja mereka seraya menenteng ransel dan aneka tas jinjing lainnya. Hendak ke mana mereka? Ya, mereka bergerak secara berombongan menuju kawasan King Fahd Road, pusat kota Al-Khobar. Di kawasan itulah aneka hamla (travel) umrah berjejeran menunggu pelanggan mereka yang umumnya adalah mahasiswa dan pekerja industri.

Travel umrah jalur darat ini memiliki armada bus yang cukup modern dan luks, persis seperti bus-bus Aceh layaknya. Rata-rata bus travel umrah jalur darat ini keluaran terbaru merek Mercedes Benz. Oh ya, Dhahran terletak di Provinsi Bagian Timur Arab Saudi yang berbatasan langsung dengan Negara Bahrain.

Biaya untuk transportasi umrah dipatok rata-rata 100 rial pp (sekitar Rp 400.000) per kepala. Sangat murah dan ramah di kantong. Satu bus bisa muat sekitar 40 penumpang. Ini tarif untuk hari biasa. Namun, bakal meningkat jika saat liburan, terutama pada bulan suci Ramadhan. Tarifnya naik sekitar 150-200 rial, bahkan bisa lebih tinggi lagi pada sepuluh terakhir Ramadhan.

Adapun biaya akomodasi hotel dan konsumsi, ditanggung pribadi masing-masing. Untuk menghemat biaya dua kebutuhan ini, para mahasiswa umumnya meuripee dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Jadi, nanti di Mekkah atau Madinah mereka tidur dan makan bareng-bareng. Biaya penginapan berkisar 50-100 rial semalam yang bisa digunakan untuk 3-5 orang. Opsi lain, ada juga yang tidak menyewa hotel, tapi menaruh tas di dalam bagasi bus dan membawa tas kecil berisi pakaian ganti. Selebihnya mereka manfaatkan area Masjidil Haram untuk beristirahat sehingga tak perlu mengeluarkan biaya akomodasi. Istilah kerennya, gaya backpacker.

“Ngapain hotel mewah, yang penting bisa buat rebahan dan bersih-bersih sudah cukup. Kita mau ibadah, bukannya mau bersenang-senang,” ujar Ariel, seorang mahasiswa KFUPM asal Bandung. “Makan juga satu nampan ramai-ramai, nikmat, asyik, dan berkah,” imbuhnya bersemangat.

Ada dua jenis paket yang ditawarkan, yakni Mekkah saja dan Mekkah-Madinah. Untuk yang Mekkah saja, jadwal keberangkatan setiap Kamis pukul 5 sore dan tiba di Mekkah pukul 9-10 pagi. Jadwal kembali adalah hari Sabtu. Bus akan menunggu jamaah umrah di lokasi yang sama ketika datang pada pukul 14 siang dan tiba di Khobar pada pukul 5 subuh. Sedangkan yang mengambil paket Mekkah-Madinah maka bus akan berangkat Madinah pada hari Jumat selepas shalat Isya. Tiba di Madinah pukul 3 dini hari. Jamaah langsung ke Masjid Nabawi untuk ibadah qiyamul lail, shalat Subuh, dan ziarah ke makam Nabi Muhammad. Pagi menjelang siang bisalah menunaikan hajat belanja kurma dan keperluan lainnya.

Jadi, rata-rata 16-17 jam durasi perjalanannya. Kendati lumayan panjang, tapi tak terasa capek, karena semua bus melewati jalur tol. Jalannya mulus dan lurus. Tol gratis, tidak bayar sepeser pun. Sepanjang perjalanan kita akan melintasi kegersangan padang pasir dan bukit batu. Sesekali terlihat pepohonan khas padang pasir tumbuh alami di antara bebatuan. Tak ada pemandangan indah khas Indonesia yang kaya dengan laut, gunung, sungai, air terjun, dan hutan menghijau. Terkadang, di kejauhan terlihat suku Badui membangun perkemahan di lokasi tertentu, sambil berternak unta atau kambing yang merupakan mata pencaharian mereka,

Setiap 3-4 jam bus berhenti di rest area (tempat istirahat) untuk shalat dan makan minum. Rata-rata tempat pemberhentian bus di tengah padang pasir ini memiliki fasilitas yang sama di setiap lokasi, yakni rumah makan, minimarket, masjid, dan SPBU. Jangan berharap ada ATM di sini, karenanya mesti bawa uang tunai yang cukup. Saya amati, para sopir bus sangat disiplin menjaga waktu-waktu shalat. Tak perlu diingatkan oleh penumpang untuk minta berhenti pas waktu shalat. Tempat shalat dan toilet di rest area pun sangat terjaga kebersihannya. Jauh dari kotoran dan bau pesing.

Sedikitnya ada empat kali pemberhentian selama perjalanan ke Mekkah. Selepas pemberhentian terakhir untuk shalat Subuh, selanjutnya bus akan berhenti di lokasi mengambil miqat (niat untuk umrah) yakni di Qarnul Manazil atau sekarang lebih dikenal As-Sail, terletak 94 km sebelah timur Kota Mekkah. As-Sail ini telah ditetapkan sebagai tempat miqat bagi penduduk Nejed atau Riyadh serta bagi para jamaah haji dan umrah yang datang dari arah timur kota Mekkah. Di sini jamaah akan mandi dan memakai pakaian ihram, sebelum masuk ke tanah suci Mekkah. Fasilitas kamar mandi dan air cukup banyak tersedia. Bagi yang kebetulan lupa membawa pakaian ihram, di lokasi ini juga ada lapak dagang menjual aneka kebutuhan ihram dan pernak-pernik lainnya.

Selain memakai jasa hamla atau travel, ada juga yang menggunakan bus milik pemerintah, yakni Saudi Public Transportation Corporation (SAPTCO), sebuah perusahaan transportasi antarkota milik Kerajaan Arab Saudi. Mirip seperti Damri kalau di kita. Bus SAPTCO menghubungkan antarprovinsi dalam kerajaan, bahkan hingga ke negeri tetangga seperti Mesir, Yordania, Bahrain, dan beberapa negara tetangga lainnya. Adapun jenis bus yang digunakan SAPTCO akhir-akhir banyak yang produk Tiongkok dengan merek seperti Kinglong dan Yutong. Nah, bagi mahasiswa ada keuntungan jika menggunakan jasa bus pelat merah ini, yakni bisa dapat potongan harga tiket pp sebesar 50%. Caranya, cukup menunjukkan kartu mahasiswa atau pun surat keterangan aktif dari kampus.

Nah, demikianlah sekilas kisah perjalanan umrah ala mahasiswa di Arab Saudi. Semoga ada manfaatnya, terutama bagi yang hendak bepergian untuk tugas/dinas atau pun sekolah ke Arab Saudi. Wallahu ‘alam bisshawab.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved