Penguasa Fasik

Sedapat mungkin, kita harus menghindari dari memilih orang fasik sebagai pemimpin

Penguasa Fasik
Tafakur

Oleh: Jarjani Usman

 “Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan” (QS. As-Sajdah: 18-19).

Sedapat mungkin, kita harus menghindari dari memilih orang fasik sebagai pemimpin. Seseorang disebut fasik dapat dibedakan dengan orang yang beriman. Bila seseorang beriman taat kepada Allah, orang fasik tidak mau beriman dan mengerjakan amal salih. Makanya tidak dibolehkan untuk memilih orang fasik sebagai pemimpin.

Seseorang yang tidak taat kepada Allah berarti tidak takut kepada segala dosa dan azab yang akan ditimpakan kepadanya. Mereka tidak takut ancaman yang diberikan Allah, seperti yang disebutkan dalam ayat Alquran: “Dan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: ‘Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.’” (QS. As-Sajdah: 20). Bila kepada Allah mereka tidak takut, kepada manusia lebih-lebih lagi. Makanya percuma saja orang fasik disumpah untuk menjadi penguasa yang amanah, karena tidak ada yang ditakuti bila melanggar sumpahnya.

Negeri yang dikelola oleh orang fasik akan cenderung menguasai dibandingkan memimpin rakyatnya. Memilihnya sama artinya memberinya kesempatan untuk menguasai negeri sesuai hawa nafsunya.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved