Citizen Reporter

Hidup Toleran ala Malaysia

KERJA SAMA yang terbina antara Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Fakulti Kejuruteraan Kimia

Hidup Toleran ala Malaysia
IST
AUZA AMRINA

OLEH AUZA AMRINA, Mahasiswi Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala, sedang ikut Program Pertukaran Pelajar di Fakulti Kejuruteraan Kimia Universiti Teknologi MARA, melaporkan dari Kuala Lumpur, Malaysia

KERJA SAMA yang terbina antara Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Fakulti Kejuruteraan Kimia Universiti Teknologi MARA (FKK UiTM), serta dana hibah yang diberikan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI-lah yang membuat saya bisa mengikuti program pertukaran pelajar ke Malaysia.

Hubungan Indonesia dengan negeri jiran serumpun ini sejak dahulu sangatlah kuat, terutama dengan Aceh. Bahkan di sini sangat banyak ditemukan orang Indonesia, baik yang sedang menempuh pendidikan maupun yang sedang bekerja untuk mengharapkan derajat kehidupan yang lebih baik.

Sangat besar apresiasi yang saya berikan untuk Jurusan Teknik Kimia Unsyiah karena mampu membina kerja sama dengan universitas terbesar di Malaysia yang memiliki 30 cabang kampus di seluruh Malaysia ini. Kampus utamanya terletak di Shah Alam, yaitu kampus tempat saya kini menempuh pendidikan. Universitas ini dibangun khusus untuk bumiputera, yaitu etnis Melayu, termasuk juga pribumi Sabah dan Sarawak.
Biaya iuran kuliah setiap semesternya juga bisa dibilang paling murah karena sebagian biaya dibantu oleh Kerajaan Malaysia. Pihak kerajaan melakukan ini dengan harapan taraf kehidupan bangsa Melayu yang saat ini tertinggal jauh dari etnis Cina dapat mengatasi ketertinggalannya.

Di sini, saya mendapat banyak kelebihan yang tak akan bisa saya dapatkan jika memilih untuk tidak mengikuti program ini. Perbedaan sistem pembelajaran, budaya, cara pemikiran, pergaulan, dan banyak hal membuat saya lebih “open-minded”.

Tapi di sisi lain saat ini sering kita baca komentar-komentar netizen di media sosial memicu perselisihan antara Indonesia dan Malaysia, bahkan banyak netizen mengeluarkan kata-kata yang tak pantas untuk menghina pihak lain. Tetapi, setelah saya berada di sini, pada kenyataannya saya tidak merasakan adanya situasi panas seperti tercermin di media sosial saat ini. Awak Malaysia justru sangat “welcome” kepada pendatang, bahkan tertarik jika kita bercerita kepada mereka tentang sejarah Indonesia, terutama Aceh yang memiliki hubungan kuat sejak masa lampau. Mereka juga tidak segan-segan berbagi ilmu dan excited menceritakan tentang sejarah bangsanya kepada kita.

Menarik juga untuk saya ceritakan pengalaman saya menimba ilmu di negeri jiran ini. Selama perkuliahan, materi kuliah sangat mudah diakses secara online melalui “i-learn” sehingga mahasiswa mudah mendapatkan materi, tanpa harus meminta kepada dosen bersangkutan.

Dalam portal ini juga tersedia soal ujian akhir dari tahun-tahun sebelumnya yang dapat digunakan mahasiswa sebagai panduan belajar dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir. Yang namanya ujian akhir merupakan hal yang paling ditakuti oleh mahasiswa di sini karena persentasenya yang sangat besar dalam menentukan nilai akhir, yaitu mencapai 60%.

Jadi, tidak boleh ada mahasiswa yang bermain-main dalam menghadapi ujian final. Pihak universitas bahkan menskors mahasiswa jika dipergoki berlaku curang dalam ujian atau minimal diberikan label FD (Failed Discipline) pada hasil akhir ujiannya. Hal ini sungguh membuat saya sangat tersanjung karena mereka sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran.

Para pelajar di sini juga cenderung tertutup dalam pergaulan. Meski satu jurusan mereka kerap tak saling mengenal, bahkan satu angkatan pun tidak mengenal satu sama lain jika berbeda kelas. Ini semua dikarenakan sistem pembelajaran yang teman sekelas kita akan selalu sama dari awal kuliah sampai tamat kuliah.
Namun, pada dasarnya mereka tetap ramah dan menjunjung tinggi nilai toleransi, terutama terhadap pendatang. Bahkan karena penasaran, saya coba cari tahu reaksi mereka terhadap panasnya situasi di media sosial yang membuat hubungan Indonesia-Malaysia terkesan tidak harmonis. Tapi setelah saya tanyakan pendapat beberapa di antara mereka, ternyata mereka sangat tenang dalam menyikapinya. Beberapa orang mengatakan bahwa tak ada gunanya saling menghujat dan memprovokasi di sosial media. Mereka berpandangan justru akan lebih baik jika membuat suatu inovasi hingga kedua negara bisa saling menguntungkan daripada ribut di media sosial yang tak memberikan pengaruh positif atau manfaat apa-apa terhadap warga kedua negara.

Sejauh yang saya amati, orang Malaysia sangat memahami arti penting dari toleransi. Hidup mereka sangat toleran di tengah beragamnya suku atau subetnis bangsa ini. Mereka bahkan tak terlalu ambil pusing dengan panasnya situasi di media sosial sehingga tak sampai memicu konflik antarsesama mereka. Inilah hal baik yang patut kita contoh dari negara jiran ini. Bersikap toleran atau berlapang dada sehingga benih perselisihan atau pergesekan tak sampai berkecambah menjadi konflik terbuka.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved