Opini

Dinamika Polkam 2019

SUHU politik di Tanah Air tampak merambat naik. Kita proyeksikan klimaksnya akan terjadi pada hari pesta demokrasi

Dinamika Polkam 2019
Kolase Tribun Jabar
Joko Widodo dan Prabowo Subianto 

Oleh Aryos Nivada

SUHU politik di Tanah Air tampak merambat naik. Kita proyeksikan klimaksnya akan terjadi pada hari pesta demokrasi pemilihan anggota legislatif (Pileg) dan pemilihan presiden (Pilpres), 17 April 2019 mendatang. Naiknya suhu politik acap berbanding terbalik dengan stabilitas sosial dan keamanan suatu wilayah, meski tensinya berbeda-beda.

Politik dan keamanan laksana sekeping uang logam yang digelindingkan. Dinamika politik dan keamanan di setiap lokus (provinsi) berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh pada kondisi geografis dan sosial budaya, termasuk aktor politik dan para pendukungnya, yang ikut bertarung atau sekadar meramaikan pentas demokrasi itu.

Barry Buzan mendefinisikan kaitan politik dan keamanan sebagai pola esensial relasi antaraktor politik dan dinamika di antara mereka. Beranjak dari pelbagai riset politik, Buzan merincikan ada lima faktor yang mempengaruhi keamanan, yakni militer, politik, sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Tulisan ini mencoba proyeksikan aspek politik dan keamanan, serta relasinya dengan dinamika politik lokal dalam pesta demokrasi Pileg dan Pilpres di Aceh pada 2019 mendatang. Analisis proyektif ini berbasis bukti (evidance-base) dari informasi dan data penyelenggaraan pesta demokrasi yang sudah berlangsung. Aceh memiliki dinamika politik dan keamanan yang unik, acap memunculkan anomali politik (realitas politik), dan selalu menyedot perhatian.

Dinamika pemilu
Meski proses politik sering kali memantik was-was sosial dan keamanan, namun pesta demokrasi ini --pileg dan pilpres-- mesti digelar. Secara praktik elektoral di Aceh di 2019 akan menjadi pertarungan sengit antara partai lokal (etno-nasionalisme) dan partai nasional (nasionalisme).

Kita ketahui bersama pelaksanaan pemilu pascadamai telah berlangsung dua kali, yakni pada 2009 dan 2014. Hasilnya mengejutkan porsi kursi masih dominan partai lokal, yakni Partai Aceh (PA). Detailnya Pileg 2009 mendapatkan 33 kursi dari 64 kursi tersedia di DPRA, selebihnya partai nasional dan partai lokal lainnya. Sedangkan pada 2014 masih PA mendominasi perolehan kursi sebanyak 29 kursi dari 81 kursi yang tersedia di DPRA.

Sebenarnya eksistensi partai nasional pada hasil Pileg 2014 sudah memiliki nilai tawar, hanya saja masih dipengaruhi oleh partai lokal di parlemen Aceh. Jika solid dan kuat partai nasional memiliki bargaining dan posisi politik yang kuat di internal parlemen. Faktanya tidak demikian, PA pandai melakukan manuver politik dengan membuat Koalisi Aceh Bermartabat (KAB), sehingga magnet parnas tertarik, seperti Gerindra, PKS, dan PAN, dll. (https://en.wikipedia.org/wiki/Bargaining).

Ke depan nanti, komposisi partai politik (parpol) mendapatkan kursi di parlemen Aceh akan berubah. Prediksi saya partai lokal yakni Partai Aceh akan mengalami penurunan suara, perkiraan akan bertahan jumlah kursinya sebesar 10-15 kursi. Pertimbangannya jelas, tokoh penting PA sudah keluar, seperti Zaini Abdullah dan Zakaria Saman. Ditambahkan tokoh berpengaruh (kader) di partai sudah hijrah ke partai nasional.

Saat ini kader PA tidak lagi berkuasa setidaknya mempengaruhi modalitas politik. Terakhir di kabupaten/kota banyak sudah kader dari PA tidak berkuasa lagi. Jika kita identifikasikan hanya Pidie Jaya, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Sabang, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Gayo Lues. Itu pun sebagian tidak murni kader PA harus berkolaborasi dengan partai nasional. Masyarakat mampu memberikan penilaian tersendiri selama keberadaan PA dalam memperjuangkan kebutuhan dasar konsistuen/masyarakat Aceh. Di sinilah pengurangan suara Partai Aceh direduksi oleh partai nasional. Apalagi trend pemilih sudah semakin memberikan ruang kepercayaan kembali kepada partai nasional. Catatannya partai nasional yang mendapatkan pergeseran kursi (suara) dari parlok sangat tergantung dari kerja-kerja politik dalam mempengaruhi pemilih juga.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved