Perempuan Bercadar Melapor ke YARA

SEORANG perempuan muda yang mengenakan cadar bersama seorang ibu mendatangi Kantor Yayasan Advokasi Rakyat Aceh

Perempuan Bercadar Melapor ke YARA
SERAMBI/M ANSHAR
DIREKTUR YARA, Safaruddin (kiri) mendengarkan penjelasan dari seorang warga yang mendatangi kantornya di Banda Aceh, Rabu (19/12) sore. Wanita berinisial R yang mengenakan cadar itu melaporkan kehilangan suaminya. 

SEORANG perempuan muda yang mengenakan cadar bersama seorang ibu mendatangi Kantor Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) di Gampong Keuramat, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Rabu (19/12) siang. Kepada Ketua YARA, Safaruddin SH mereka melapor kehilangan anggota keluarganya yang diyakini diciduk Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror terkait isu teroris.

Perempuan bercadar itu berinsial R, dia tak mau namanya ditulis lengkap. Kepada Safaruddin, perempuan yang sedang hamil enam bulan ini melaporkan, suaminya berinisial WS tak pulang ke rumah sejak 13 Desember lalu. Selama ini mereka berdomisili di Sawang, Aceh Utara.

Sementara ibu yang bernama Chadijah, dia melaporkan kehilangan anaknya berinisial HS yang juga hilang pada tanggal yang sama. Dia adalah warga Krueng Mane, Aceh Utara sedangkan anaknya yang ditangkap berdomisili di Kecamatan Kota Juang, Bireuen.

Usut punya usut, antara WS dan HS adalah sahabat. Menurut R, suaminya dan HS adalah sahabat, mereka sama-sama berkebun di kawasan Sawang, Aceh Utara. “Beberapa hari ini, suami saya nggak ada kabar, jadi saya mau cari kepastian suami saya di mana, keberadaan di mana. Kabarnya nggak jelas ada yang katanya dibawa ke Jawa, ada yang bilang di Polda,” kata R saat ditemui Serambi di Kantor YARA.

Awalnya, R tidak tahu bahwa suaminya WS ditangkap Densus. Dia baru mengetahui hal itu dari suaminya HS (anak Chadijah) yang memberi tahu bahwa HS dan WS ditangkap Densus 88 pada Kamis 13 Desember secara terpisah. Namun, R tidak menerima surat pemberitahuan penangkapan suaminya, sedangkan HS diakui ibunya ada surat penangkapan dari Densus yang diterima oleh menantunya (istri HS).

“Saya tidak menerima surat pemberitahuan penangkapan suami saya, lihat langsung ditangkap juga tidak ada. Hanya info-info saja bahwa suami saya sudah ditangkap, kami tahu beberapa hari setelah ditangkap, itu pun diberi tahu oleh istrinya bang HS,” kata R.

Berdasarkan laporan R dan Chadijah diketahui, ternyata bukan hanya HS dan WS yang ditangkap. Keduanya juga menyebutkan empat nama lainnya yang hilang bersamaan, temasuk DA warga Langsa, yang diakui oleh R ditangkap bersamaan dengan suaminya, WS. Kemudian DW dari Pulau Jawa, MRS dan Ih dari Binjai, Sumatera Utara. Namun, yang ada surat pemberitahuan penangkapan yang berhasil diperoleh Serambi hanya RS dan WS.

Kepada Serambi, R mengaku mengenal semua orang tersebut. Menurutnya, keenam orang itu selama ini sama-sama beraktivitas di kebun termasuk suaminya. “Saya kenal semuanya, tapi belum terlalu lama,” sebutnya.

Ditanya Serambi apa aktivitas suaminya selain berkebun, R mengaku, bersama suami juga mengajari anak-anak belajar mengaji dan menghafal Alquran. Untuk diketahui, R dan suaminya selama ini tinggal di kebun tempat mereka beraktivitas di Kecamatan Sawang, Aceh Utara.

“Kami punya ladang, kayak biasa sih, aktivitasnya. Kalau pengajian kita setiap magrib kita ngaji biasa, bahas agama, kalau saya guru di kebun. Ada anak kecil-kecil kita targetnya anak-anak itu bisa hafal Quran,” katanya.

R berharap bisa segera bertemu dengan suaminya WS, begitu juga Chadijah yang ingin sekali mengetahui kabar dan keberadaan anaknya WS. “Kita berharap bisa segera bertemu, tahu kondisi, karena sudah sepekan tidak ada kabar, dengar suara saja boleh juga atau dibawalah untuk bertemu,” harap R.

Sementara itu, Ketua YARA, Safaruddin SH mengatakan, pihaknya menghormati penengakan hukum yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror. Namun dia mengatakan, cara yang dilakukan seperti itu meresahkan orang. “Ini sudah seminggu tidak ada kabar, setidaknya kan diberitahukan, ada surat penangkapan, surat penahanan. Dan diberi tahu juga ditahan di mana, tapi ini apapun tidak ada,” kata Safaruddin.

Oleh sebab itu, YARA berjanji akan menelusuri penangkapan enam warga tersebut dalam waktu dekat. Safaruddin juga mengaku akan melaporkan hal itu ke Komnas HAM. “Kita akan kaji dulu dan bisa jadi nanti akan kita laporkan ke Komnas HAM tentang cara-cara pengkapan atau penegakan hukum seperti ini,” pungkas Ketua Tim Pengacara Muslim Provinsi Aceh tersebut.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved