Opini

Bukan Wanita Biasa

MENJADI ibu, bisa dipastikan adalah anugerah terindah bagi semua wanita. Saat kecil dulu, saya selalu tak bisa membanyangkan betapa repotnya

Bukan Wanita Biasa
google/net
Ilustrasi 

Oleh Muazzah

MENJADI ibu, bisa dipastikan adalah anugerah terindah bagi semua wanita. Saat kecil dulu, saya selalu tak bisa membanyangkan betapa repotnya ibu saya mengurusi tujuh orang anak sekaligus. Beliau selalu bangun paling awal, menyiapkan semua kebutuhan kami sekeluarga, dan semua dilakukan nyaris tanpa cela. Bahkan terkadang saya merasa bingung sendiri, dari mana kekuatannya untuk melakukan semua pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya.

Kini, saat saya telah menjadi ibu untuk tiga orang puteri, saya mulai paham tentang perjuangan ibu saya terhadap anak-anaknya. Rasa cinta benar-benar mengalahkan lelah seberat apa pun. Bahkan alam bawah sadar seakan menyugesti agar tubuh ini tak boleh sakit. Karena jika ibu sakit, rumah menjadi lumpuh total, karena tak akan ada yang bisa menggantikan peran ibu secara sempurna.

Ibu adalah sosok yang paling berperan dalam kehidupan setiap anak. Jelas bahwa jasa ibu sangat besar hingga Allah meletakkan ridha-Nya untuk anak-anak pada ridha ibunya. Bahkan dengan tegas Rasul memerintahkan pada anak untuk berbakti kepada ibu, sebelum ayah.

Sekolah pertama
Tepat sesudah kelahiran, bau yang pertama kali dikenali oleh seorang bayi ialah feromon ibunya. Begitu juga dengan suara, lalu wajah, hingga semua yang apa pada ibu akan menjadi memori pertama anak. Ia belajar berkomunikasi dari sang ibu. Sehingga yang ada hanyalah istilah “bahasa ibu” sebagai alat komunikasi utama yang digunakan oleh setiap individu.

Tak hanya itu, ibu juga menjadi sekolah pertama dan utama bagi setiap anak. Dari ibulah anak belajar mengenali berbagi hal di sekitarnya. Mana yang bisa ia gunakan sebagai mainan, mana yang berbahaya untuknya. Ibu juga yang mengajarinya makan, berpaikan, hingga bergaul dengan orang lain. Ibu adalah pendidik utama anak sejak ia lahir dan seharusnya hingga anak beranjak dewasa.

Ibu yang paling mengenali anaknya, sehingga yang mampu membaca kebutuhannya juga ibu. Namun, seiring bertambahnya usia anak, ibu mulai membagi perannya dengan orang lain. Pada umumnya peran tersebut terbagi pada pengasuh atau guru. Ibu pekerja yang mengharuskannya menitipkan anaknya pada pengasuh atau pada lembaga baby care, jelas memercayakan perannya diambil alih orang orang-orang tersebut. Selanjutnya, saat anak mulai bersekolah, perannya juga terbagi kepada guru di sekolah anaknya.

Membagi peran tidaklah salah, yang keliru ialah mendelegasikan seluruh peran ibu pada orang lain. Karena sehebat apa pun pihak ketiga tersebut, yang dibutuhkan anak ialah kasih sayang dan rasa cinta dari orang yang telah melahirkannya. Ikatan emosional ibu dan anak jelas tidak akan bisa digantikan oleh siapa pun. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Zarman (2018), bahwa Allah telah mengaruniakan fitrah kasih sayang kepada ibu yang nantikan akan ia curahkan pada keluarganya.

Guru yang paling fleksibel hanyalah ibu. Karena idealnya, ibu harus mampu menerapkan pola asuh yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Ibu benar-benar harus tahu kapan ia memilih mengalah, kapan ia harus tegas. Karena membesarkan anak adalah permasalahan yang tergolong kompleks. Tidak ada formula baku yang bisa dipakai oleh semua ibu dalam mengasuh anak. Menurut Mustaien (2018), membesarkan anak tidak ada rumusnya dan cara untuk satu anak tidak dapat direplikasikan untuk anak lainnya, meski dalam satu keluarga.

Tak sekadar harus mampu membesarkan anak, ibu juga dituntut mengikuti perkembangan zaman. Karena anak-anak yang mereka besarkan hakikatnya disiapkan untuk zaman yang jelas berbeda dengan zaman orang tuanya. Maka ibu juga dituntut untuk mampu up to date, mengikuti perkembangan zaman untuk bekalnya mendidik anak. Jika dulu wajar ibu hanya tau urusan dapur, namun sekarang ibu harus paham apa yang namanya media sosial. Karena jika ibu terlalu awam, ia akan buta akan manfaat serta mudharat yang bisa menyapa anaknya.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved