Opini

Ibu Bijak Anti-Hoaks

KEDUDUKAN seorang ibu dalam Islam sangat istimewa, banyak disebut dalam Alquran dan hadis

Ibu Bijak Anti-Hoaks
Alquran kuno yang dipamerkan di Anjungan Gayo Lues 

Oleh Cut Zamharira

KEDUDUKAN seorang ibu dalam Islam sangat istimewa, banyak disebut dalam Alquran dan hadis. Satu di antaranya dalam Surat Luqman ayat 14, yang menjelaskan bahwa ibu mengalami tiga fase perjuangan penting, yaitu; mengandung, melahirkan dan menyusui. Sudah menjadi fitrahnya, bahwa ketiga fase tersebut tidak dapat diwakilkan kepada sang ayah. Maka pantaslah Baginda Rasul Muhammad saw menyebutkan “ibumu” sebanyak tiga kali, baru kemudian “ayahmu”, dalam rangka bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya.

Sentuhan yang pertama sekali dirasakan anak adalah dari ibunya, baik secara fisik maupun psikologis. Sembilan bulan sepuluh hari dalam satu badan, membuat ikatan batin antara ibu dan anak cukup kuat. Janin memperoleh asupan gizi dari apa yang ibunya konsumsi, melalui jalur plasenta. Demikian pula dalam hal emosi, ketika ibu merasa bahagia, maka janin juga akan ikut bahagia, demikian sebaliknya ketika ibu marah, sedih pun akan berpengaruh dan terekam di dalam alam bawah sadar janin yang dikandungnya.

Kemudian, pada tahap berikutnya adalah ketika bayi sudah dilahirkan. Seorang anak bahkan sudah mengenal wajah ibunya saat masih berusia di bawah satu tahun. Dapat membedakan antara ibu, ayah dan saudara dengan orang asing. Pada usia balita hingga batita (golden age), di mana anak sudah mampu menggunakan kelima inderanya untuk menyerap informasi apa pun yang diberikan ibu kepadanya, maka semakin besar pengaruh ibu dalam perkembangannya (Salami, Ibu sebagai hipnotist terhebat di dunia).

Anak adalah peniru ulung, mereka lebih mudah mengikuti apa yang dilihatnya, dari pada apa yang diperintahkan kepadanya. Karena anak-anak belum mampu menilai mana yang benar dan mana yang salah. Inilah proses belajar bagi anak, menduplikasi tingkah laku kedua orang tuanya, terutama ibu yang lebih sering berinteraksi dengannya, sehingga setiap hari adalah “Hari Ibu”.

Oleh sebab itu, penting bagi seorang ibu untuk terus menimba ilmu terkait bagaimana pola asuh anak yang benar. Sehingga anak lebih banyak menirukan hal-hal positif dari ibunya. Terkait peran ibu sebagai pendidik, pencetak generasi terbaik, menarik sebait syair Arab yang sudah sangat terkenal, Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq (Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik).

Butuh konsistensi
Proses panjang dari upaya mendidik anak, membutuhkan konsistensi kedua orang tua, di mana ayah adalah seorang kepala sekolah, sedangkan ibu sebagai gurunya. Pendidikan yang dimulai dari rumah, akan menjadi bekal ketika anak-anak pada usia tertentu nanti akan menghadapi dunia luar rumah. Anak-anak yang saleh, saleha, cerdas, peduli kepada orang lain adalah hasil dari didikan rumah tangga yang baik.

Memang tidak ada sekolah khusus untuk menjadi seorang ibu, namun seorang ibu hendaknya mempersiapkan dirinya dari sisi iman, adab dan ilmu. Sehingga amalnya merupakan cerminan kata dan perbuatan. Sebagai pendidik, tentu harus terdidik, sebagaimana penulis kutip ungkapan dari Dian Sastrowardoyo, “Entah akan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi, karena ia akan menjadi ibu”. Hanya orang-orang picik yang memojokkan, mengganggap remeh pada wanita yang berpendidikan tinggi, namun memilih menjadi ibu rumah tangga itu seolah suatu kerugian besar.

Wanita karier dan ibu rumah tangga sama-sama punya peluang untuk dapat mendidik anak-anak saleh/saleha. Manajemen waktu adalah kuncinya. Ibu rumah tangga yang lalai dengan smartphone, masih membahas memori-memori on keureusong pada grup-grup alumni sekolah yang sama sekali tidak ada manfaatnya, menonton infotaiment, bahkan ketika berada di rumah bersama anak-anaknya atau ibu pekerja yang ketika sampai di rumah juga tidak memanfaatkan waktu terbaik bersama anaknya, lalai dengan dunianya sendiri, sama-sama pula punya peluang gagal mendidik anak. Satu faktor yang melatar belakangi anak bermasalah adalah diacuhkan atau diabaikan oleh kedua orang tuanya (ToT Pemenuhan Hak Anak, 2018).

Tidak ada yang salah dengan penggunaan telepon pintar, bahkan ia sangat banyak membantu, memudahkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga sekalipun. Mencari resep makanan untuk keluarga, info kesehatan bagi keluarga, tips-tips moderen yang bermanfaat, bagaimana pola asuh yang benar, cara merawat bayi, bahkan belanja kebutuhan dapurpun dapat dilakukan lewat kecanggihan digital ini. Pemanfaatan yang pintar adalah kunci sukses menggunakan smartphone. Betapa banyak waktu yang bisa terpangkas lewat jalur internet, seberapa jauh jarak pun tidak mustahil untuk “didekatkan”.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved