Opini

Hidup Harmoni Bersama Bencana

INDONESIA menjadi daerah rawan bencana alam geologi seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api

Hidup Harmoni Bersama Bencana
TSUNAMI ACEH 

Oleh Faizal Adriansyah

INDONESIA menjadi daerah rawan bencana alam geologi seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan gerakan tanah/longsor disebabkan oleh posisi tektonik wilayah Indonesia yang sangat rumit karena dijepit oleh tiga lempeng bumi besar dan aktif bergerak dengan kecepatan 1-13 cm/tahun, yaitu lempeng Samudera Hindia Australia yang bergerak ke Utara, lempeng Pasifik yang bergerak ke Barat, dan lempeng Asia Tenggara yang bergerak ke Selatan. Dalam tataran tektonik dunia, wilayah Indonesia merupakan bagian dari cincin api (ring of fire).

Pada Sabtu, 22 Desember 2018 sekitar pukul 21.30 WIB, Indonesia kembali berduka. Masyarakat Pandeglang di sekitar Pantai Anyer di Provinsi Banten dan Lampung Selatan di Provinsi Lampung, dikagetkan dengan air laut yang naik dan menerjang bangunan di sekitar pantai, kejadian tersebut bersamaan dengan angin kencang yang lagi berhembus.

Tidak ada isyarat alam berupa gempa bumi, yang umumnya kita ketahui penyebab utama terjadinya tsunami. Itu sebabnya pada awalnya beberapa kalangan menganggap peristiwa ini hanya air pasang, apalagi bertepatan dengan bulan purnama (15 Rabiul Akhir 1440 H). Namun kalau air pasang, tentu tidak sedahsyat yang terjadi. Gelombang datang demikian kuat dan menghancurkan bangunan, bahkan menimbulkan korban jiwa.

Mengumpulkan data
Para ahli kebumian berupaya mengumpulkan data untuk menjawab apa yang sebenarnya telah terjadi. Kesimpulan mereka bencana tersebut adalah tsunami, penyebabnya bukan gempa tektonik. Lalu apa? Dugaan sementara karena adanya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Diperkirakan erupsi/letusan Gunung Anak Krakatau tersebut yang menimbulkan getaran, sehingga ada bagian batuan di Selat Sunda runtuh atau longsor, inilah yang menimbulkan gelombang tsunami.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau tercatat terus meningkat sejak 18 Juni 2018 hingga berlanjut di bulan Juli sampai November, intensitasnya terus bertambah dengan seringnya terjadi erupsi/letusan. Tercatat pada 22 Desember 2018, telah terjadi erupsi dan inilah diduga menyebabkan tsunami yang menghantam Pandeglang di Banten dan Lampung Selatan.

Pelajaran apa yang kita dapat dari peristiwa ini ? ternyata masih banyak hal yang tidak kita ketahui tentang bencana alam geologi khususnya gempa dan tsunami. Ilmu manusia masih sangat sedikit. Kalau kita runut mulai gempa Aceh 14 tahun lalu, tepatnya 26 Desember 2004, kita dikejutkan dengan adanya gelombang tsunami terdahsyat dalam 100 tahun terakhir.

Tsunami Aceh tidak hanya memporak porandakan Aceh tetapi gelombang maut tersebut terus merambat keberbagai negara di Asia bahkan sampai ke Afrika. Setelah meluluh-lantakkan Aceh dengan masuk kedaratan hampir 8 km dari bibir pantai dengan ketinggian gelombang 30 meter, bahkan di Lhoknga tercatat mencapai 51 meter, gelombang tsunami bergerak menghantam pesisir Darul Aman di Penang, Phuket di Thailand.

Tidak berhenti sampai di situ, gelombang maut tersebut terus merambah ke Bangladesh, India, Maladewa, Myanmar hingga ke pesisir pantai Timur benua Afrika meliputi wilayah Tanzania, Kenya, Somalia, Madagaskar dan sebagian wilayah Afrika Selatan juga diterjang tsunami.

Gempa Aceh seakan membangunkn gempa-gempa lainya, maka intensitas bencana terus meningkat, tercatat; Gempa Nias 28 Maret 2005 8,7 Skala Richter (SR), Yogya 27 Mei 2006 5,9 SR, Padang 6 Maret 2007 6,4 SR, Padang 30 September 2009 7,6 SR, Pidie Jaya (Aceh) 7 Desember 2016 6,5 SR, Lombok (Nusa tenggara Barat - NTB) 29 Juli 2018 (6,4 SR) 5 Agustus (7 SR), dan 19 Agustus (6,5 SR), Palu 28 September 2018 7,7 SR, dan yang baru saja terjadi di Pandeglang (Banten) 23 Desember 2018 tanpa gempa tektonik tiba-tiba tsunami datang.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved