Opini

Keselamatan bukan Sebuah Kebetulan

BENCANA bagi Indonesia adalah sebuah tragedi, sebab antara satu bencana dengan bencana lainnya tidak memberikan pelajaran bagi yang lain

Keselamatan bukan Sebuah Kebetulan
SERAMBINEWS.COM/IST
Masjid Rahmatullah di Lampuuk, Aceh Besar yang tetap berdiri tegak saat tsunami melanda Aceh, 2004 silam.

(Mengenang 14 Tahun Tsunami Aceh)

Oleh Teuku Dadek

BENCANA bagi Indonesia adalah sebuah tragedi, sebab antara satu bencana dengan bencana lainnya tidak memberikan pelajaran bagi yang lain. Artinya, kerugian dan korban semakin meningkat sesuai dengan intensitas bencana tersebut. Gempa dan tsunami yang terjadi pada 2004 misalnya, tidak memberikan pelajaran apa yang terjadi di gempa Gayo 2013 dan di gempa Pidie Jaya 2016. Bencana-bencana itu seakan berdiri sendiri dengan tragedi masing-masing.

Akan tetapi tidak demikian dengan Jepang. Bencana bagi Jepang adalah sebuah etos kerja dan laboratorium pembelajaran, banyak studi mengatakan bahwa bencana gempa dan tsunami yang sering terjadi di Jepang telah menempa kedisiplinan dan keuletan orang Jepang, serta antara satu bencana dengan bencana lainnya dengan intensitas yang sama telah berhasil menekan angka kerugian dan korban jiwa. Mengapa ini bisa terjadi? Sebab, keselamatan bagi orang Jepang bukanlah sebuah kebetulan, tetapi harus dilakukan mitigasi dan pengurangan risikonya.

Seperti bom waktu
Sejarah gempa dan tsunami Aceh menunjukan bahwa gempa, terutama tsunami bukan hanya terjadi satu kali seukuran 26 Desember 2004, tetapi paling tidak ada 11 kali. Diperkirakan Aceh sudah mengalami gempa dan tsunami sejak ribuan tahun yang lama. Gua Eek Lunttie di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhong, Aceh Besar memberikan petunjuk bahwa tsunami yang besar pernah terjadi 11 kali sejak 7.400 tahun yang lalu.

Gempa dan tsunami 2004 paling banyak menelan korban, sebab Aceh memang bertumbuh penduduknya, tsunami masa silam hanya meninggalkan nama seperti Ie Beuna (Aceh daratan), Goloro (Singkil), Pasie Karam (Meulaboh), Smong (Simeulue) dan berbagai ungkapan lainnya. Tsunami di Aceh memang dipicu oleh gempa besar di tengah dan lantai laut Aceh, seperti sebuah bom waktu yang pasti akan meledak, namun waktunya sudah ada. Ibarat kematian yang pasti, namun tanggalnya belum bisa dipastikan.

Yang menjadi pertanyaan mendasar, apakah Aceh dengan sejarah gempa dan tsunaminya yang panjang, sudah mampu mengurangi risiko bencana yang ada? Bencana demi bencana terus terjadi, namun tidak mengurangi jumlah korban dan kerugian harta benda. Gempa dan tsunami 2004 tidak memberikan pelajaran kepada apa yang terjadi di Gayo 2013 dan Pidie Raya di 2016.

Gempa mempunyai anak dan ikutannya, yaitu menimbulkan kebakaran, tsunami dan yang terbaru likuifaksi. Pada 2004, likuifaksi juga terjadi di Aceh, namun dalam skala kecil. Potensi likuifaksi di Aceh memang besar dan sebagian lagi akan sedang dikaji.

Sedangkan sesar gempa masih banyak yang belum terdata, terutama yang berada di darat yang daya hancurnya juga kuat walaupun bersifat lokal, Gayo dan Pidie sebagai contoh. Gempa tidak membunuh, bangunan dan perilaku manusialah yang membuat kita terbunuh. Tsunami bisa dihindari dengan mengenali cara dan jalur evakuasi yang harus dikuasai dan selamat dari likuifaksi dengan mengenal gejalanya dan mengambil tindakan.

Pada 2004, saat gempa berkekuatan 9,2 SR, tidak banyak bangunan yang runtuh, karena bangunan di Aceh tergolong bagus konstruksinya. Kerusakan bangunan lebih disebabkan tsunami. Sedangkan korban banyak meninggal, karena ketidaktahuan apa yang terjadi setelah gempa besar, kebakaran juga terjadi. Likuifaksi juga terjadi, tetapi dalam skala kecil.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved