Kupi Beungoh

Menakar Gedung Penyelamatan Tsunami, Berfungsikah?

Masyarakat rata-rata lebih memilih menjauh dari pantai ketimbang harus naik ke gedung tersebut.

Menakar Gedung Penyelamatan Tsunami, Berfungsikah?
SERAMBINEWS.COM/IST
Maghfirah dan gedung penyelamatan tsunami 

Oleh: Maghfirah*)

SETIAP bencana yang terjadi pastinya menimbulkan luka yang dalam baik bagi korban maupun masyarakat di wilayah tersebut.S

eperti halnya masyarakat Aceh yang dilanda tsunami tepat pada 26 Desember 2004 silam.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada tahun 2005 menyebutkan, bahwa gempa yang berkekuatan 9.1 skala richter (SR) di Samudera Indonesia, dengan pusat gempa berada pada 225 km di selatan Kota Banda Aceh pada kedalam 9-10 km ini, meninggalkan bekas yang amat dalam bagi seluruh masyarakat Aceh.

Bagaimana tidak, tsunami telah melululantakkan hampir seluruh Kota Banda Aceh, hingga disebut kota mati kala itu.

Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) tahun 2011 menyebutkan sekitar 126.915 jiwa meninggal, 37.063 jiwa hilang, kira-kira 100.000 jiwa menderita luka berat dan luka ringan disertai 517.000 unit rumah hilang akibat bencana yang terjadi tepat pukul 08.00 WIB itu.

Untuk mengembalikan jalannya roda pemerintahan, perekonomian, dan berbagai sektor lainnya, perlu adanya pembagunan kembali infrastruktur di Aceh.

Salah satu bantuan yang diterima masyarakat Aceh kala itu, berupa gedung Evakuasi Sementara (TES) atau kita sering menyebutnya sebagai gedung penyelamat dari pemerintah Jepang.

Negara Jepang membangun empat gedung evakuasi tsunami yang bernama “Tsunami Escape Building.”

Gedung-gedung ini bertujuan agar masyarakat Aceh mendapat evakuasi dini, sehingga dapat menekan kecilnya jumlah masyarakat yang akan menjadi korban akibat tsunami.

Halaman
1234
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved