Opini

Siaga Bencana ala ‘Indatu’

ACEH, 26 Desember 2004. Tak lama, jika Allah Ta’ala Berkehendak, sesuatu yang dibangun oleh manusia dalam sekian kurun waktu, bisa hancur

Siaga Bencana ala ‘Indatu’
Kolase/Kompas.com
Gempa tsunami aceh dan palu 

Oleh Dian Rubianty

ACEH, 26 Desember 2004. Tak lama, jika Allah Ta’ala Berkehendak, sesuatu yang dibangun oleh manusia dalam sekian kurun waktu, bisa hancur dalam seketika. Aceh kehilangan demikian banyak. Kehilangan yang wujud, sekaligus kehilangan banyak hal yang sulit diukur dengan satuan hitungan tertentu, untuk menggambarkan besarannilainya. Bak komputer raksasa, pascagempa dan tsunami 2004, Aceh seakan di-rebooth ulang.

Alhamdulillah (setelah 14 tahun berlalu, red.) banyak capaian yang sudah kita raih dalam upaya membangun Aceh yang lebih baik. Namun selain capaian pembangunan fisik dan infrastruktur, kita tentunya tak boleh berhenti belajar dari sejarah kehilangan yang demikian banyak itu.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online mendefinisikan bencana sebagai “sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, penderitaan; kecelakaan; bahaya”. Jika bencana disebabkan oleh alam (gempa bumi, angin besar, dan bajir), maka kita menyebutnya bencana alam. Lantas mengapa masyarakat perlu membangun kepedulian dan melatih kesiagaan dalam menghadapi bencana? Bukankah saat Allah Ta’ala berkehendak, bencana bisa menimpa siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, seperti musibah yang baru saja menimpa saudara-saudara kita di Lampung dan Banten?

Wajib ikhtiar
Kita perlu peduli dan siaga bencana karena yakin dan percaya, selain perintah untuk bertawakkal, Allah Ta’ala juga mewajibkan ikhtiar. Ghassani (2017) membagi ikhtiar ini menjadi tiga tahapan, yaitu: Pertama, tahap pra bencana. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, harus belajar tentang bencana dan mitigasinya. Proses pembelajaran ini bukan sekadar untuk memperoleh pengetahuan saja, yang di negeri kita kerap dijejalkan dengan model pembelajaran catat-hafal. Jelas model pembelajaran ala persiapan menghadapi CAT test untuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) menjadi tidak relevan, tidak sesuai.

Satu model yang dapat kita gunakan adalah melalui pendekatan budaya. Hasil pembelajaran bersama ini akan melahirkan “tindak sosial membentuk hingga melakukan mitigasi bencana berbasis kearifan lokal”, di mana kearifan lokal di sini diartikan sebagai “pemahaman kolektif, pengetahuan dan kebijaksanaan yang mempengaruhi keputusan penyelesaian suatu masalah kehidupan” (Ghassani, 2017).

Satu contoh pendekatan budaya yang sudah dilakukan dan terbukti bermanfaat adalah budaya hikayat dan senandung Smong masyarakat Simeulue, dalam menanamkan kewaspadaan dan kesiagaan jika terjadi gempa besar yang berkemungkinan disusul dengan bencana smong (tsunami). Budaya ini membentuk “tindak sosial berbasis kearifan lokal” pada masyarakat Simeulue, sehingga banyak nyawa bisa diselamatkan dalam tsunami 2004 lalu. Tentu setiap daerah perlu mengembangkan model yang sesuai dengan budaya dan keistimewaan daerah masing-masing.

Mengapa pendekatan budaya bisa menjadi alternatif yang terbukti efektif? Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah yang masyarakatnya menerapkan pendekatan ini, mampu mengurangi dampak bencana secara lebih signifikan, dibandingkan dengan masyarakat yang belum menerapkannya (Suparmini, 2013; Zamzami, 2014; Ghassani, 2017; dan Triana, 2018).

Selain itu, pendekatan budaya mungkin lebih sesuai saat berhadapan dengan “budaya baru”. Perkembangan teknologi, secara tak sadar, telah mengubah banyak kebiasaan kita dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kadang kita merasa begitu dekat dengan persahabatan dunia maya, dan tak lagi akrab dengan dunia sekitar. Bangun pagi hari, mungkin kita lebih sering menyapa teman-teman di media sosial, dibanding membuka jendela dan menikmati segarnya udara pagi.

Demikian juga anak-anak kita, yang nun terlahir sebagai generasi digital. Maka bila ingin membangun kepedulian dan kebiasaan serta membentuk pola perilaku sesuai dengan “budaya baru” masyarakat yang sudah memasuki era berteknologi, pendekatan budaya dengan menerapkan berbagai kearifan lokal adalah satu cara yang bisa kita lakukan.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved