Kupi Beungoh

Tsunami Aceh, Penjara Keudah, dan 'Amnesti' dari Allah untuk Saya

Saya selamat dari tsunami atas takdir Allah SWT. Allah membebaskan saya dari Penjara Keudah dengan tsunami. Ini adalah amnesti Allah untuk saya.

Tsunami Aceh, Penjara Keudah, dan 'Amnesti' dari Allah untuk Saya
FOR SERAMBINEWS.COM
Kolase foto M Rizal Falevi Kirani saat menjadi tahanan politik Aceh di Penjara Keudah, Kota Banda Aceh. Falevi selamat dari terjangan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004. 

Oleh: M Rizal Falevi Kirani*)

BICARA Tsunami yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 tak akan ada habisnya. Setiap orang yang selamat memiliki kisah masing-masing untuk mereka ceritakan kepada anak cucu.

Bahwa pada Minggu pagi itu, Allah SWT menunjukkan kuasanya, mengguncang bumi dan menumpahkan air laut ke daratan. Air laut menghantam, menjadikan bumi ini seperti hamparan luas.

Sekitar 250 ribu masyarakat Aceh menjadi korban gelombang mahadahsyat bernama tsunami. Di Kota Banda Aceh, tidak banyak yang selamat.

Saya, yang saat itu sedang menjalani hukuman di Penjara Keudah atas tuduhan melawan dan menyebar kebencian terhadap pemerintah (makar), termasuk salah satu yang Allah selamatkan dari bencana itu.

Pagi itu, tembok penjara berhamburan diterjang air. Semua tahanan berlarian sambil melafalkan takbir. Ya, hanya takbir, tak ada kata yang lain.

Dalam seketika, penjara dipenuhi air tsunami. Saya melihat Bang Wandi (Irwandi Yusuf) naik ke atas. Beliau memanggil saya dan tahanan yang lain.

"Ka euk laju u ateuh, nyoe ie tsunami (naik terus ke atas, ini tsunami,)" katanya. Tapi bagi saya, ini adalah tanda kiamat.

Update Terbaru Tsunami di Selat Sunda, BNPB: 430 Orang Meninggal Dunia dan 159 Orang Masih Hilang

Mengenang 14 Tahun Tsunami Aceh, 240 Ribu Jiwa Melayang,Truk Serta Helikopter Jadi Saksi Bisu

Bersama Anak di Gendongan, Berkali-kali Diseret Gelombang Hingga Tersangkut di Pohon Kelapa

Setelah sampai di atas, saya juga meminta para tahanan lain untuk segera naik. Ada yang sempat naik, ada juga yang tidak. Dari atas mushalla, kami diseret air air yang cukup kencang hingga baju dan celana jean yang saya kenakan terlepas dari tubuh.

Saya dan beberapa orang terdampar ke atas ruko di terminal Keudah. Dari atas ruko terminal itu saya masih bisa melihat sebagian tahanan berada di atas mushalla dan atap kantor Kalapas.

Halaman
1234
Editor: Safriadi Syahbuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved