Opini

Memaknai Pergantian Tahun

WAKTU berjalan begitu cepat, tidak terasa saat ini kita telah berada di pengujung 2018 dan sesaat lagi akan memasuki tahun baru 2019

Memaknai Pergantian Tahun
SERAMBINEWS.COM/ BUDI FATRIA
MalamTahun Baru 2018 

Oleh Agustin Hanafi

WAKTU berjalan begitu cepat, tidak terasa saat ini kita telah berada di pengujung 2018 dan sesaat lagi akan memasuki tahun baru 2019. Rasanya baru saja kita memasuki 2018, namun ternyata sebentar lagi ia akan pergi meninggalkan kita. Begitulah siklus kehidupan ini, semuanya berjalan begitu cepat. Jika kita tidak menyadarinya, maka bersiap-siaplah tergilas oleh waktu. Jika kita tidak memanfaatkannya sebaik mungkin, maka hilanglah peluang emas dan kesempatan berharga untuk selamanya. Waktu, kehadirannya tak pernah berulang. Jika telah berlalu, ia tidak akan pernah kembali lagi, seperti jarum jam yang tak bisa diputar kembali ke belakang.

Pergantian tahun merupakan peristiwa biasa, tak ubahnya seperti pergantian siang dengan malam. Bagi sebagian orang, fenomena tersebut membuat mereka sadar bahwa segala sesuatu pasti akan berakhir. Orang-orang yang demikian akan mempergunakan waktu dan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin, hingga mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menyongsong hari esok. Maka sungguh aneh jika ada sebagian saudara kita yang larut dalam euforia ketika menyambut pergantian tahun, hanya lantaran ingin melihat jarum jam berada di angka 00:00.

Lalu, beramai-ramai menyalakan kembang api, hingga rela menempuh perjalanan jauh untuk berkumpul di suatu tempat yang tanpa peduli bercampurnya laki-laki dengan perempuan. Mendatangi pantai-pantai dan tertawa bergembira hingga memakai narkoba. Berjingkrak-jingkrak sambil meniup terompet dan berpesta pora. Rela mengantre dan berdesakan di tengah lautan manusia, hingga pingsan akibat kehabisan oksigen. Dan, rela melakukan apa saja hanya karena ingin disebut “anak gaul” dan mengikuti “trend zaman”. Nauzubillah.

Anehnya lagi, hal ini diapresiasi oleh sebagian orang tua, bahkan di antara mereka ada yang merestui dan berpartisipasi di dalamnya. Sementara itu, jika ada orang tua yang melarang anaknya untuk ikut dalam euforia pergantian tahun, maka mereka akan mendapat ejekan dan cemoohan. Bahkan tak jarang mereka dilabeli sebagai orang tua yang kolot dan ndeso, sehingga anaknya di-bully dan tidak mendapat tempat di hati kawan-kawannya. Inilah zaman edan!

Tidak bermakna
Pergantian tahun bukanlah sesuatu yang krusial yang secara magis dapat mengubah begitu saja kehidupan para penyambutnya. Jika ia tidak diisi dengan niat dan gebrakan baru, semangat baru, perilaku baik, budi pekerti yang luhur dan amal saleh, serta wawasan baru dan perubahan positif dalam usaha mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya, maka pergantian tahun baru tersebut tidak bermakna apa-apa kecuali hanya sekadar berpesta-pora, melakukan perilaku mubazir yang jauh dari tuntunan agama.

Kalau kita renungi secara akal sehat, merayakan pergantian tahun tidak banyak mendatangkan manfaat buat diri kita kecuali hanya perilaku mubazir, boros, hura-hura, menghabiskan waktu dan energi, mengundang perbuatan maksiat, dapat mengganggu waktu istirahat dan kenyamanan orang lain yang dicela oleh agama, karena dapat membentuk pribadi boros, lupa diri dan mengabaikan rasa syukur kepada Allah atas segala karunia-Nya.

Islam mengecam keras pekerjaan yang tidak bermanfaat dan sia-sia seperti itu, jika memiliki dana, lebih baik dihibahkan kepada orang yang tidak mampu sehingga akan lebih banyak mendatangkan manfaat, terlebih saat ini banyak saudara kita yang sangat membutuhkan uluran tangan akibat musibah tsunami di Pandeglang, Banten dan Lampung. Mereka hidup di kamp pengungsian, di bawah tenda darurat, bahkan air matanya pun belum kering akibat kehilangan orang yang sangat dicintainya.

Jadi, tidak pantas rasanya jika kita merayakan pergantian tahun. Lagi pula, perilaku ini bisa dianggap sebagai perilaku yang menyerupai tradisi agama lain yang tentu saja bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, Yahudi menggunakan terompet untuk memanggil jamaahnya ketika beribadah, sedangkan Nasrani menggunakan lonceng, adapun Majusi menggunakan api. Maka jika ada sebagian umat Islam menggunakannya pada jam 00.00 WIB untuk menyambut malam pergantian tahun, sungguh aib rasanya, karena Rasulullah saw telah mengingatkan umatnya, “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.”

Sebagian orang menilai bahwa pergantian tahun menandakan bertambahnya usia seseorang, namun pada hakikatnya jatah hidup menjadi berkurang dan semakin dekat dengan yang namanya “kematian”. Dalam artian, kalau ada yang memiliki jatah hidup 62 tahun kemudian telah menjalaninya selama 40 tahun, maka dengan pergantian tahun seperti ini, berarti jatah hidupnya menjadi berkurang satu tahun, sehingga sisa hidupnya hanya 22 tahun lagi. Itu pun jika dianugerahkan Allah panjang usianya demikian. Sedangkan panjang pendeknya usia hidup hanya hak preogratif Allah semata dan manusia tidak ada yang tahu akan rahasia-Nya.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved