Salam

Mafia Bola Harus Diberantas Habis

Satuan Tugas Khusus Kepolisian untuk memberantas mafia pengaturan skor dalam kompetisi sepakbola di Tanah Air

Mafia Bola Harus Diberantas Habis
TRIBUN JATENG/LITA FEBRIANI
Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah, Johar Lin Eng ketika diwawancarai seusai Kongres PSSI Jateng. 

Satuan Tugas Khusus Kepolisian untuk memberantas mafia pengaturan skor dalam kompetisi sepakbola di Tanah Air, dalam dua pekan terakhir mulai menciduk orang-orang yang diduga masuk dalam sindikat kejahatan itu. Dua hari lalu, Satgas Antimafia Bola ini meringkus Johar Lin Eng yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka pengaturan skor (match fixing) sepakbola Indonesia.

Johar merupakan satu dari sebelas anggota Executive Comite (Exco) PSSI periode 2017-2021. Posisi Exco ini tepat ada di bawah jajaran ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, Wakil Ketua Umum Joko Driyono, dan Kepala Staf Ketua Umum Iwan Budianto.

Pada masa pengurusan ini, bukan cuma jabatan Exco PSSI yang dipegang Johar. Diketahui, Johar juga menjabat Ketua Komite Futsal dan Ketua Komite Sepakbola. Johar juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Tengah selama dua periode yakni 2013-2017 dan 2017-2021. Pada tahun 2017 Johar juga ditunjuk Ketum PSSI Edy Rahmayadi menjadi Plt Ketua Asprov PSSI Kepulauan Riau dan Plt Ketua Asprov PSSI Aceh dan sempat jadi kontroversi.

Tapi, “kepiawaian” Johar bisa jadi segera berakhir setelah polisi menangkapnya di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Dia ditangkap setelah turun pesawat penerbangan Solo dan langsung dibawa ke Polda Metro Jaya, walau dalam penerbangan itu Johar sempat mengganti namanya di boarding pass dengan nama “Jasmani”. Itu mengindikasikan Johar memang licik.

Sebelumnya, Satgas Anti Mafia Bola juga menangkap seorang mantan anggota komisi wasit beserta seorang putrinya. Bersamaan dengan itu, ada belasan saksi yang dimintai keterangan oleh polisi terkait pengaturan skor dalam kompetisi sepakbola di tanah ar.

Isu mafia bola di negeri ini sudah tercium sejak bertahun-tahun lalu. Pernah berkali-kali polisi didesak untuk mengungkapkannya, tapi belum pernah berhasil. Baru di era Kapolri Jenderal Tito Karnavian inilah “bau busuk” dalam persepakbolaan kita mulai diungkap. Dan harapan kita tentu sampai sehabis-habisnya.

Dari isu yang berkembang, kecurangan dalam sepakbola kita terjadi dengan berbagai modus. Ada antara klub dengan klub. Ada antara wasit dengan klub. Ada juga antara klub dengan pemain-pemain kunci. Jadi, macam-macam model suap dalam sepakbola kita.

Jika sekarang yang dikejar pemberi suap atau “pengatur”, maka pada gilirannya yang akan menjadi sasaran kepolisian adalah para penerima suap atau orang-orang yang “diatur”, mulai dari oknum wasit, oknum pemain, oknum ofisial klub, dan lain-lain. Jadi, untuk mengungkap kasus ini, polisi memang harus kerja keras, sebab akan banyak pihak yang akan terikut di dalamnya.

Dan, kita sebagai publik sepakbola sangat mendukung kepolisian dalam pengungkapan kasus tersebut. Sebab, jika mafia bola bisa diberantas, maka kita yakin prestasi sepakbola Indonesia pasti akan lebih baik. Pemain-pamain dan klub-klub yang seharusnya berprestasi juga tak akan terkendala oleh “rayuan” para mafia.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved