BNPB: Skenario Beda dengan Kenyataan

SEBELUM seismolog di University of Southampton, Stephen Hicks menyarankan Indonesia lebih banyak melakukan penelitian

BNPB: Skenario Beda  dengan Kenyataan
KALAK BPBA, T Ahmad Dadek didampingi Kasubdit Peran Organisasi Relawan BNPB, Wartono (baju batik) dan Ketua Forum PRB Aceh, Nasir Nurdin (kanan) memberikan masukan pada sosialisasi persiapan regulasi relawan oleh BNPB di Aula BPBA di Banda Aceh, Jumat (13/7). FOTO IST 

SEBELUM seismolog di University of Southampton, Stephen Hicks menyarankan Indonesia lebih banyak melakukan penelitian untuk memahami kejadian yang tidak terduga (seperti tsunami Selat Sunda), ternyata pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah terlebih dahulu memberikan penjelasan tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana, termasuk di pesisir Selat Sunda.

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, B Wisnu Widjaja, sebagiaman dilansir republika.co.id mengatakan, tsunami di Selat Sunda adalah bencana yang terjadi di luar skenario yang digambarkan.

Wisnu mengatakan, sudah ada pelatihan terkait kesiapsiagaan bencana yang dilakukan di kawasan Pantai Anyer, Provinsi Banten, baik dari BNPB maupun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Namun, katanya, hal itu bisa gagal jika skenario yang dibuat berbeda dengan kenyataan yang terjadi saat bencana. Faktanya, hampir tidak ada peringatan awal sebelum peristiwa tsunami di Selat Sunda terjadi.

Wisnu menyebut tsunami yang dibuat dalam skenario mereka adalah tsunami yang muncul setelah dirasakan gempa bumi terlebih dahulu. “Tapi yang terjadi (di Selat Sunda) adalah tsunami karena ada suatu longsoran yang tidak dilihat BNPB dan tiba-tiba ada gelombang yang bercampur ombak pasang muncul dan menerjang wilayah pesisir laut Selat Sunda. Itu selalu terjadi skenario di luar perkiraan,” kata Wisnu.

Ia lantas memberikan gambaran serupa pada peristiwa gempa bumi di Jepang pada 2011. Kala itu, otoritas di Jepang mendesain gempa berkekuatan 8,6 SR. Namun, gempa yang kemudian terjadi mencapai 9 SR.

“Ke depan, mestinya harus selalu belajar dari apa yang terjadi. Setelah latihan, tingkat keseriusan yang berlatih juga dipertanyakan,” ujarnya.

Peristiwa bencana alam yang terjadi di luar skenario menjadi tantangan bagi BNPB. Dalam pendidikan kebencanaan (disaster education), Wisnu menjelaskan ada beberapa hal yang ditekankan di antaranya memahami atau mengenal risiko bencana, tata kelola risiko, investasi, dan peningkatan kesiapsiagaan (preparedness). Setelah memahami risiko, ia mengatakan diperlukan tata kelola risiko (risk management).

Di dalam mengelola risiko, menurutnya, upaya dilakukan untuk untuk mengurangi risiko dengan berbagai tindakan (mitigasi). Misalnya dengan membangun tanggul, bendung, menambah early warning (peringatan dini), dan sebagainya. Selanjutnya, tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan meninggalkan atau menghindari tempat rawan bencana tersebut. Kemudian, perlu adanya asuransi, sehingga jika bencana terjadi akan ditanggung oleh asuransi.

Biasanya, menurut Wisnu, risiko tidak bisa dihilangkan sama sekali dan masih tersisa atau dinamakan acceptable risk (risiko yang bisa diterima). Ia menuturkan, setiap orang berbeda-beda dalam menghadapi risiko. Ada yang terlalu berani menghadapi risiko tinggi dan kebetulan terkena bencana.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved