Citizen Reporter

Dulu Menuntut Ilmu, Sekarang Berbagi Ilmu

SETELAH menghabiskan waktu tujuh tahun di negeri orang dan menyelesaikan studi doktor pada tahun 2017, akhirnya saya kembali diizinkan

Dulu Menuntut Ilmu,  Sekarang Berbagi Ilmu
FOTO/IST
DR KAHLIL MUCHTAR, Dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala dan Peneliti Kecerdasan Buatan, melaporkan dari Taiwan

DR KAHLIL MUCHTAR, Dosen Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala dan Peneliti Kecerdasan Buatan, melaporkan dari Taiwan

SETELAH menghabiskan waktu tujuh tahun di negeri orang dan menyelesaikan studi doktor pada tahun 2017, akhirnya saya kembali diizinkan untuk mengunjungi negeri kecil nan dinamis, Taiwan. Bertolak dari Kuala Lumpur dengan maskapai China Airlines Boeing 777-300ER dan diiringi syair Richard Marx berjudul “Right here waiting for you”, membuat hati bergetar bercampur rindu.

Perjalanan kali ini memiliki banyak misi, di antaranya mewakili Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) untuk menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dengan National Taiwan Normal University (NTNU), mempresentasikan hasil riset di ICS’18 (International Computer Symposium) dan kuliah tamu di Yuan Ze University (YZU) mengenai tantangan implementasi smart city (kota pintar) di Indonesia.

MoA dengan Kampus NTNU bertujuan untuk membuka kerja sama pertukaran mahasiswa dan tenaga pengajar di lingkungan fakultas teknik di kedua universitas. Hal ini dimaksudkan untuk memperluas wawasan mahasiswa di bidang teknik dan penelitian terkini. Sedangkan tenaga pengajar dapat pula memperluas jaringan dan kesempatan meraih gelar doktor di NTNU, Taiwan.

NTNU terletak di pusat Kota Taipei dan sangat strategis bagi mahasiswa muslim dikarenakan jarak yang sangat dekat dengan masjid besar Taipei, pusat studi dan persaudaraan Islam berada. Saya disambut hangat oleh Ketua Jurusan Teknik Elektro NTNU yang ternyata juga pecinta kopi. Ketika saya mengatakan lokasi Kampus Unsyiah, yang dia ingat adalah kualitas dunia dari kopi Aceh. Bahkan ia berseloroh kalau harus memilih ia lebih suka menikmati kopi daripada menulis tulisan ilmiah. Di akhir pertemuan saya selipkan satu bungkus kopi Beurawe yang sudah ada sejak 1945.

Capaian terdekat yang ingin dihasilkan dari perjanjian ini adalah mengirimkan sejumlah mahasiswa dan mengundang tenaga pengajar dari Unsyiah untuk memberikan kuliah singkat seputar teknologi deep learning (pembelajaran mendalam).

Selain berkunjung ke NTNU, saya turut diundang mempresentasikan hasil riset saya di bidang deteksi objek bergerak pada Seminar International Computer Symposium (ICS’18). Dihadiri oleh peserta dari sepuluh negara dan menghadirkan tiga peneliti ternama di bidang komputer, yakni Prof Reinhard Klette (Auckland University of Technology), Prof Hitoshi KIYA (IEEE Fellow, Tokyo Metropolitan University), dan Dr Raul Catena (Visiting Scientist, IBM Zurich).

Seminar internasional kali ini bagi saya sangat berbeda, karena menjadi salah satu tamu undangan dan mendapat fasilitas dari panitia, baik biaya penerbangan, hotel, maupun akomodasi selama di Taiwan. Alhamdulillah, tulisan ilmiah kami dikategorikan menjadi salah satu tulisan terbaik untuk tahun ini sehingga saya diundang ke forum bergengsi ini.

Agenda terakhir adalah mengunjungi dosen saya di Universitas Yuan-Ze di Kota Zhongli. Ia meminta saya memaparkan riset yang sedang dijalakankan sekaligus profil singkat Unsyiah. Pada kesempatan ini saya jelaskan peluang dan tantangan penerapan “kota pintar” di Indonesia. Seperti yang diketahui, saat ini CCTV (video pengawasan) di Jakarta hanya 7.000 unit sedangkan di Beijing mencapai 400.000 unit. Namun, dengan keterbatasan fasilitas, Indonesia memiliki potensi yang besar karena sebelum tahun 2025, 70% penduduk Indonesia akan berlokasi di wilayah perkotaan. Oleh karena itu, sistem kota pintar dengan bantuan teknologi visi komputer menjadi keniscayaan.

Saat ini, teknologi visi komputer telah dipasang pada sistem kepolisian dan analisis pasar di beberapa perusahaan swasta, khususnya di Jakarta.

Di sisi lain, kunjungan saya kali ini sangat berbeda, sebab dulunya saya sebagai mahasiswa yang menuntut ilmu di Taiwan, tapi kini berkolaborasi dan berbagi ilmu dengan akademisi Taiwan untuk memperkuat hubungan, khususnya di bidang pendidikan dan teknologi.

Taiwan, wo zhende xiang ni (Taiwan, aku rindu kamu).

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved