Opini

Pergantian Tahun 2018-2019

SEBENTAR lagi, kita akan meninggalkan 2018 dan memasuki tahun baru 2019. Sebagai makhluk spiritual, manusia

Pergantian Tahun 2018-2019
For Serambinews.com
Pemerintah Kota Sabang mengeluarkan Seruan bersama terkait malam tahun baru 

(Refleksi dan Resolusi untuk Bangsa)

Oleh Yusniar

SEBENTAR lagi, kita akan meninggalkan 2018 dan memasuki tahun baru 2019. Sebagai makhluk spiritual, manusia bukan hanya menjalani dan membaca fakta kehidupan, tapi juga memaknainya. Untuk peristiwa yang sama, setiap orang bisa memaknainya dengan cara berbeda. Sebab, sikap dan aksi kita dipengaruhi oleh makna yang kita pilih terhadap fakta. Wadah berisi air setengah adalah fakta. Tetapi kita bisa memaknainya sebagai setengah kosong atau setengah isi, lengkap dengan konsekuensi mental yang menyertainya. Kuntum bunga yang mekar dan daun yang berguguran di halaman adalah sebuah fakta.

Sama hanya dengan pergantian tahun dari 31 Desember 2018 menjadi 1 Januari 2019. Sebagian orang memaknainya dengan penuh makna, sebagian lagi memaknainya hanya sekadar angka yang berubah. Namun demikian, pergantian tahun, pergantian bulan, dan pergantian hari adalah sunnatullah. Satu nilai penting di dalamnya adalah tentang konsep pergantian antarwaktu. Tidak kurang Allah mengabadikan pentingnya memaknai hal tersebut melalui representasi surat Al-Asr. Sunnatullah ini juga diabadikan dengan firman-Nya, “Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.” (QS. Ar-Ra’d: 2).

Berdasarkan ayat tersebut, kita dapat merefleksikan kembali bahwa banyak kisah yang telah mengisi lembaran hidup dengan berbagai kesan yang pada pengujung tahunnya ditutup kembali dan kemudian dibuka lagi, sehingga semua hal yang telah terlewati disebut dengan sejarah perjalanan hidup. Jika ditinjau dari perspektif Islam, sejarah adalah pelajaran.

Islam bukanlah sebuah agama yang semata-mata mengajarkan bahwa sejarah hanya untuk dikenang dan dipelajari, tapi pada level yang lebih tinggi, sejarah adalah suatu dokumen kehidupan yang harus dipertanggungjawabkan selama perjalanan hidup di dunia. Bukan hanya itu saja, dalam deretan panjang sejarah anak manusia, kebangkitan manusia disebabkan mereka yang banyak belajar dari sejarah masa lalu.

Makna resolusi
Pentingnya memaknai sejarah dan hal-hal yang telah berlalu, maka munculah kata yang sering kita dengar setiap menjelang akhir tahun yaitu resolusi. Kata resolusi ini sendiri ternyata telah digunakan sejak zaman Babilonia kuno sekitar 4.000 tahun silam. Tradisi kota tua di antara sungai Tigris dan Eufrat, Irak, dikenal sebagai bangsa pertama yang merayakan tahun baru. Saat itu jatuh pada pertengahan Maret, bukan 1 Januari.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), re-so-lu-si adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Jika kita kembali pada arti tersebut, resolusi adalah hasil rapat yang biasanya berisi tuntutan. Misalnya, ketika sekelompok orang akan melakukan aksi, terlebih dulu mereka merapatkan solusi dan tuntutan apa yang akan mereka tuntut.

Hasil dari rapat tersebut disebut resolusi. Namun kata resolusi tersebut sekarang telah mengalami perluasan makna. Makna dari resolusi bisa berarti harapan yang sungguh-sungguh dari pribadi seseorang, kelompok maupun bangsa dan negara yang maknanya diadaptasikan dalam ungakapan tahun baru, karena dalam menentukan harapan (resolusi) seseorang juga menentukan rapat dalam hatinya tentang apa saja yang mau diraih di tahun baru.

Pada masa kini, saat digunakan dalam konteks diri pribadi, kata resolusi merujuk pada ketetapan diri untuk berubah. Perubahan itu bisa dalam hal apa saja. Dalam hal hubungan cinta, karier, atau dalam kesehatan. Jika merujuk resolusi untuk konteks lebih besar yaitu pada tatanan kenegaraan, tentulah kita mengharapkan anak bangsa memiliki resolusi secara kolektif, sehingga 2019 menjadi momentum perubahan besar-besaran.

Bangsa ini harus mampu belajar dari sejarah. Bahkan jika kita kembali ke masa lalu, dapat kita bayangkan selama bertahun-tahun Indonesia ditindas oleh Negara lain dan akhirnya bisa bangkit dan membentuk sebuah Negara kesatuan yang kokoh. Sayangnya, kemerdekaan yang telah dianugerahkan oleh Allah Swt belumlah kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan pembangunan dari berbagai aspek.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved