Opini

Syariat di Awal Tahun

AWAL tahun baru identik dengan perayaan (celebration) dan peringatan (commemoration). Sejarah mencatat awal sekali perayaan tahun baru dimulai

Syariat di Awal Tahun
For Serambinews.com
Pemerintah Kota Sabang mengeluarkan Seruan bersama terkait malam tahun baru 

Oleh Mizaj Iskandar

AWAL tahun baru identik dengan perayaan (celebration) dan peringatan (commemoration). Sejarah mencatat awal sekali perayaan tahun baru dimulai pada tahun 2000 SM di Mesopotamia, pada saat matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa atau bertepatan dengan 20 Maret (Marshall, 2014). Perayaan tahun baru seperti ini masih terjadi di Iran dan mereka menyebutnya dengan perayaan Nowruz (Arab: niruz).

Untuk penanggalan Masehi sendiri, pertama sekali dirayakan pada 1 Januari 45 SM pada saat Julius Caesar menjabat sebagai Kaisar Romawi. Ia memutuskan untuk mengganti penanggalan Romawi kuno dengan membuat penanggalan baru. Dalam pengerjaannya, Julius Caesar dibantu oleh sosigenes, seorang sarjana astronomi dari Alexandria. Sosigenes berhasil meyakinkan Julius Caesar untuk menjadikan peredaran matahari sebagai acuan penanggalan baru sebagaimana yang pernah dilakukan oleh orang Mesir (Egyptian). Satu tahun dalam penanggalan tersebut terdiri dari 365 hari. Julius Caesar menambahkan 47 hari pada 45 M, Sehingga pada tahun berikutnya, tahun baru tepat jatuh pada 1 Januari (Richards, 2000).

Menurut Capdeville (1973) alasan di balik keputusan Julius Caesar menambah 47 hari pada tahun 45 M adalah dikarenakan orang-orang Romawi punya kebiasaan merayakan tanggal 1 Januari. Mereka mendedikasikan hari tersebut untuk dewa mereka yang bernama Janus. Dalam mitologi Romawi disebutkan bahwa Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang. Simbol dari masa depan dan masa lalu layaknya momen pergantian tahun. Dari nama dewa inilah terambil kata Januari. Tidak berlebihan kemudian dalam literatur berbahasa Inggris menyebut Janus sebagai The God of Gates, Doors and Beginnings.

Pada 1582, Aloysius Lilius, seorang sarjana dari Napoli mengusulkan pemodifikasian kalender Masehi versi Julius Caesar. Menurutnya kalender Julius Caesar dinilai kurang akurat, sebab permulaan musim semi (21 Maret) semakin maju. Sehingga berakibat kepada perayaan Paskah (Easter celebration) yang sudah disepakati dalam Konsili Nicea I sejak 325 M sudah tidak tepat lagi. Usulan ini akhirnya diterima oleh Paus Gregorius XIII, sehingga kalender Masehi hasil revisi ini juga dikenal dengan kalender Gregorius (Richards, 2000).

Penanggalan sendiri
Islam memiliki sistem penanggalan sendiri yang berbeda dengan sistem penanggalan yang lain. Dari aspek teologis dan sejarah, sistem penanggalan Islam berpangkal tolak dari peringatan hijrahnya Nabi saw dari Mekkah menuju Madinah. Sedangkan penanggalan Masehi dirayakan sebagai bentuk pemujaan kepada dewa Janus.

Dari segi instrumen acuan, kalender Hijriah mengacu pada revolusi bulan (lunar system) yang dinamis dalam gerak musim. Sedangkan kalendar Masehi bertumpu pada peredaran matahari (solar system) yang kaku mengikuti musim.

Perbedaan mencolok lainnya terletak pada perilaku (attitude) pemeluknya dalam menyambut dua sistem penanggalan tersebut. Dalam Islam tidak ada satu pun hari besar keagamaan yang dirayakan dalam pengertian selebrasi (celebration). Tetapi lebih kepada memperingatinya (commemoration) dengan sikap khidmat dan kontemplatif.

Maka tidak mengherankan jika pada setiap awal tahun Islam diperingati dengan memperbanyak ibadah dan mendengarkan ceramah agama, terutama yang berkaitan dengan peristiwa hijrah. Sedangkan dalam pergantian tahun Masehi dirayakan dengan berbagai selebrasi seperti tiup terompet, membakar petasan, dan lain-lain.

Dari penjelasan di atas muncul pemahaman dan kesadaran mengenai larangan Nabi untuk mengikuti tradisi perayaan hari besar umat lain (man tasyabaha biqawmin fahuwa minhum). Dalam sebuah petikan sabda Nabi saw mencela kebiasan orang Arab jahiliyah yang senang merayakan hari Niruz dan Mihrajan (Hari Raya Majusi).

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved