Lilin Hati, Terompet Jiwa

HAMPIR setiap tahun baru, energi dan pikiran kita tergerus memolemikkan cara menyambut tahun baru. Saban awal tahun

Lilin Hati, Terompet Jiwa
Instagram Ustaz Abdul Somad/Youtube
Ustaz Abdul Somad soal Tahun Baru 2019 

Oleh Marah Halim

HAMPIR setiap tahun baru, energi dan pikiran kita tergerus memolemikkan cara menyambut tahun baru. Saban awal tahun, edaran dan seruan yang digaungkan adalah agar tidak euforia menyambut tahun; tanpa lilin, terompet, mercon, dan deru motor. Jauh-jauh hari pejabat pemerintah dan lembaga ulama telah mewanti-wanti dan sejauh ini efektif, tetapi agak tidak produktif; sikap itu semua masih bersIfat reaksi simbolik; simbol penolakan pada budaya dan tradisi masyarakat Barat. Dari perspektif pembinaan umat, edaran dan seruan itu seharusnya “diolesi” dengan krim substantif yang penuh daya didik.

Bentuk dari kurangnya daya didik dalam seruan dan edaran itu adalah verbatim-nya konsep yang mendasari seruan dengan konteks yang terkesan dipaksakan. Untuk membuat edaran dan seruan lebih “bergigi”, maka quote dari tokoh kondang hingga hadis Nabi dijadikan andalan. Yang cukup banyak beredar di media sosial (medsos) adalah quote dari seorang ustaz; “No bonceng, no bencong, no mabuk, jangan melalak, ada zikir ikut, tak ada tidur”.

Postingan lain yang ‘membonceng’ hadis misalnya, man tasyabbaha biqawmin fahuwa minhum (barangsiapa berprilaku menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari kaum itu). Secara semiotik, quote-quote yang disebarluaskan seperti ini adalah pesan bahwa cara seperti itu salah dan cara kita yang benar; benar yang sesungguhnya masih simbolik.

Meski seruan dan edaran itu intinya melarang ekspresi dan kegiatan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai syariat, adat dan budaya Aceh, namun tanpa disadari edaran dan seruan itu juga menawarkan alternatif lain untuk mengompensasi ekspresi dan kegiatan yang dianggap tidak islami tadi, yaitu zikir dan doa; sendiri atau bersama. Dari percakapan di medsos ada juga follower yang iseng menanyakan apa hukumnya zikir dan doa untuk mereaksi kehadiran tahun baru yang konon merupakan budaya Barat. Bukankah itu hanya pengalihan cara “merayakan”-nya, karena sebab yang melatari zikir dan doa itu adalah tahun baru itu juga?

Perbedaan metode
Pada titik inilah daya didik seruan dan edaran itu terhenti. Penyeru dan pembuat edaran tidak sadar bahwa sebagian orang memersepsikan bahwa yang tidak islami adalah tahunnya itu sendiri, karena tahun Masehi identik dengan Nasrani dan yang islami hanya tahun Hijriah. Merayakan malam tahun baru Masehi dengan lilin, terompet, mercon, dan motor adalah merayakan kelahiran Al-Masih. Tanpa sadar ranah budaya dibenturkan dengan agama, tentu saja pola-pola seperti ini tidak mendidik jika bukan menyesatkan. Perbedaan penghitungan tahun hakikatnya adalah perbedaan metode. Karena itu, ini adalah ranah budaya, bukan ranah agama.

Sama halnya dengan hari-hari lain yang menjadi tanggal merah dan hari libur dalam kalender, maka tahun baru adalah momen yang istimewa bagi seluruh penduduk dunia. Istimewanya sesungguhnya bukan karena 1 Januari-nya, tetapi karena kedudukannya sebagai hari atau tanggal yang disepakati sebagai tanggal resmi penghitungan waktu.

Banyak metode penanggalan hasil dari peradaban-peradaban besar yang pernah jaya; peradaban Islam memiliki penanggalan sendiri, peradaban Cina, peradaban Jawa, dan sebagainya. Islam mendapat inspirasi dari kitab suci Alquran (QS. At-Tawbah: 37) yang menegaskan bahwa satu tahun terdiri dari 12 bulan; tetapi bagaimana cara penghitungannya adalah masalah budaya; diserahkan pada pencapaian kebudayaan manusia.

Bahwa Umar Ibn Khattab kemudian menginovasi sistem penanggalan Hijriah dengan mengacu pada peredaran siklus sinodik bulan kalender lunar (qamariyah), itu adalah bentuk pencapaian kebudayaan Islam dalam menerjemahkan sinyal dari kitab suci Alquran, namun perlu ditegaskan sekali lagi ini bukan satu-satunya metode untuk menerjemahkan informasi 12 bulan dalam satu tahun tersebut.

Jadi, dengan cara pandang yang obyektif metode penanggalan semuanya harus dipandang sebagai metode; semua adalah upaya manusia untuk mencari satu cara yang dianggap tepat. Karena banyak bangsa yang melakukannya, pada gilirannya metode-metode itu berkompetisi sesuai dengan kompetisi peradaban bangsa-bangsa di dunia ini. Agar lebih obyektif lagi semua metode ini harus dianggap sebagai khazanah dalam Ilmu Astronomi, sehingga terbebas dari klaim-klasim teologis yang bersifat subyektif. Penisbahan yang tampak pada penamaan haruslah dipandang bukan sebagai doktrin teologisnya, tetapi sebagai penisbahan peradabannya.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved