Kecil Sekali untuk Pemberdayaan Ekonomi

PAKAR Ekonomi Unsyiah, Rustam Effendi menyatakan, pemborosan uang rakyat dalam APBA terus berlanjut dari tahun ke tahun

Kecil Sekali untuk Pemberdayaan Ekonomi
Rustam Efendi 

PAKAR Ekonomi Unsyiah, Rustam Effendi menyatakan, pemborosan uang rakyat dalam APBA terus berlanjut dari tahun ke tahun dan nilai pemborosannya semakin besar.

Dana perjalanan dinas 2019 sebesar Rp 448,6 miliar dinilai oleh Rustam sangat besar. Apakah Plt Gubernur, Sekda, Kepala Inspektorat, dan TAPA tidak menyadari angka perjalanan dinas yang sangat besar itu.

Rustam juga menyoroti belanja jasa penyelenggara acara (EO) tahun 2019 mencapai Rp 52,2 miliar dan pemeliharaan kendaraan Rp 50 miliar. “Uang yang telah dialokasikan tersebut tidak jatuh ke rakyat, melainkan kepada pejabat penyelenggara kegiatannya,” ujar Rustam menanggapi APBA 2019 yang dinilai boros.

Yang juga menjadi kejutan tahun ini, kata Rustam, belanja untuk pembayaran honor dan kontrak non-PNS melebihi angka setengah triliun atau sebesar Rp 568,5 miliar. Anggaran sebesar itu digunakan untuk bayar pegawai honor dan pegawai kontrak tidak tetap Rp 483 miliar, teknisi, operator, dan asistensi Rp 69,2 miliar, dan honor pelaksana kegiatan Rp 14,4 miliar.

Jadi, lanjut Rustam, khusus untuk perjalanan dinas dan membayar honor non-PNS saja sudah terkuras hampir Rp 1,16 triliun. Jika dikurangi belanja pagu tahun ini Rp 17,016 triliun, maka tersisa Rp 16 triliun lagi.

Belanja sebesar itu, kata Rustam Effendi, ditargetkan oleh Pemerintah Aceh, pertama untuk menurunkan angka kemiskinan dari 15,43 persen menjadi 14,43 persen, pengangguran dari 6,45 persen menjadi 6,30 persen, dan pertumbuhan ekonomi bisa naik dari 5 persen menjadi 5,25 persen.

“Dengan APBA sebesar Rp 17,016 trilliun itu tidak akan bisa mencapai indikator pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun nanti. Sebab, dari Rp 17,016 triliun itu hanya beberapa persen saja yang digunakan untuk pemberdayaan ekonomi rakyat,” ungkap Rustam Efendi.

Dijelaskan Rustam, pagu belanja APBA 2019 Rp 17,016 triliun dibagi dua, yaitu belanja tidak langsung Rp 6,5 triliun dan belanja langsung Rp 10,438 triliun.

Dalam belanja tidak langsung sudah ada belanja pegawai yang cukup besar yaitu Rp 2,5 triliun. Ternyata di luar itu, masih ada pos belanja langsung sebesar Rp 794 miliar yang juga untuk pegawai di antaranya untuk belanja pembayaran honortenaga kontrak non-PNS senilai Rp 568 miliar.

“Efisiensi dan efektifitas penggunaan anggaran pembangunan sangat penting. Namun yang dipertontonkan kepada kita justru lebih besar ongkos dari pada hasil yang dipersembahkan untuk rakyat,” kata Rustam Efendi.

Rustam menambahkan, daya serap APBA 2018 hanya 82 persen dari pagu Rp 15,08 triliun. Banyak proyek yang tak selesai harus putus kontrak. Kinerja APBA 2018, juah di bawah tahun 2017 yang daya serap keuangannya di atas 90 persen. Sedangkan belanja pegawai dan perjananan dinas yang digunakan tahun 2018 nilainya juga cukup besar, hampir sama dengan tahun 2019.(her)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved