Opini

Pelayanan Prima ASN kepada Masyarakat

HARI lahir Kementerian Agama (Kemenag) RI yang biasa disebut Hari Amal Bakti (HAB), tahun ini memasuki usia ke-73

Pelayanan Prima ASN kepada Masyarakat
SERAMBINEWS.COM/Foto Humas Kemenag Aceh
Kakanwil Kemenag Aceh, Drs H M Daud Pakeh menerima penghargaan dari Menteri Agama RI yang diserahkan oleh Wakil Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT, pada upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Rabu (2/5/2017). 

Oleh Murni

HARI lahir Kementerian Agama (Kemenag) RI yang biasa disebut Hari Amal Bakti (HAB), tahun ini memasuki usia ke-73. Usia yang tidak muda lagi tentunya. Sudah banyak yang dilakukan oleh segenap aparatur sipil negara (ASN) Kemenang dalam mengabdi kepada negara dan masyarakat; beramal bakti, menciptakan inovasi, lalu menghasilkan produksi, melakukan penilaian reformasi birokrasi, pelayanan di daerah dan pusat sudah telah dilakukan secara digital dan terintegrasi, menaikkan standar mutu pendidikan agama dan keagamaan baik di tingkat dasar, menengah maupun perguruan tinggi.

Namun masih banyak pula, tentunya yang mesti dibenahi dan dilakukan dalam upaya meningkatkan kinerja dan profesionalisme. Sebab, tantangan di masa yang akan datang jauh lebih berat dan menantang dibandingkan masa-masa sebelumnya. Sekarang bagaimana upaya ASN memiliki motivasi dan berkontribusi secara berarti terhadap organisasi serta meningkatkan produktivitas kerja untuk melayani masyarakat dengan lebih baik lagi.

Nilai budaya kerja
Budaya kerja adalah suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan pendorong yang telah membudaya dalam kehidupan suatu organisasi atau pemerintahan. Sebagai ASN di lingkungan Kementerian Agama harus disambut baik lima nilai budaya kerja yang telah diluncurkan oleh Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, yaitu; integritas, profesional, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan (Kementerian Agama RI, 2014).

Kelima nilai budaya di Kemenag RI itu dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama, integritas. Integritas dimaknai sebagai keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar. Indikator positif integritas ini dapat dilihat: 1). Bertekad dan berkemauan untuk berbuat yang baik dan benar; 2). Berpikiran positif, arif dan bijaksana dalam melaksanakan tugas dan fungsi; 3). Mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan 4). Menolak korupsi, suap, atau gratifikasi. Sedangkan indikator negatif: 1). Melanggar sumpah dan janji pegawai/jabatan; 2). Melakukan perbuatan rekayasa atau manipulasi; dan 3). Menerima pemberian dalam bentuk apa pun di luar ketentuan.

Merujuk pada ajaran Islam, cukup banyak ayat Alquran yang menuntun manusia agar memiliki perilaku yang berintegritas (berbuat baik). Allah Swt berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasash: 77).

Kedua, profesional. Profesional diartikan bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik. Profesionalitas mencerminkan kompetensi dan keahlian. Dengan demikian, ASN di lingkungan Kemenag bisa terus meningkatkan profesionalitas mereka, sehingga dapat mengemban amanahnya dengan baik guna memperoleh proses dan hasil yang optimal.

Indikator positifnya: 1). Melakukan pekerjaan sesuai kompetensi jabatan; 2). Disiplin dan bersungguh- sungguh dalam bekerja; 3). Melakukan pekerjaan secara terukur; 4). Melaksanakan dan menyelesaikan tugas tepat waktu; dan 5). Menerima reward and punishment sesuai dengan ketentuan. Indikator negatif: 1). Melakukan pekerjaan tanpa perencanaan yang matang; 2). Melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan tugas dan fungsi; 3). Malas dalam bekerja; dan 4). Melakukan pekerjaan dengan hasil yang tidak sesuai dengan standar. Dalam Alquran, profesionalisme (kerja keras) sebagai nilai budaya kerja telah pula dijelaskan. Allah Swt berfirman, “Katakanlah: Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya Aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 39).

Ketiga, inovasi. Inovasi dapat diartikan menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Dalam praktiknya terkadang dalam bekerja kita terjebak pada rutinitas; datang, absen, kerja, dan pulang. Akibatnya banyak pegawai yang kerjanya monoton. Maka nilai inovasi diperlukan untuk melakukan hal-hal baru yang bermanfaat bagi masyarakat.

Indikasi positif inovasi: 1). Selalu melakukan penyempurnaan dan perbaikan berkala dan berkelanjutan; 2). Bersikap terbuka dalam menerima ide-ide baru yang konstruktif; 3). Meningkatkan kompetensi dan kapasitas pribadi; 4). Berani mengambil terobosan dan solusi dalam memecahkan masalah; 5). Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam bekerja secara efektif dan efisien. Indikasi negatif: 1). Merasa cepat puas dengan hasil yang dicapai; 2). Bersikap apatis dalam merespons kebutuhan stakeholder dan user; 3). Malas belajar, bertanya, dan berdiskusi; dan 4). Bersikap tertutup terhadap ide-ide pengembangan.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved