Citizen Reporter

Rantai Kebaikan yang Ajaib

SETIAP manusia dimana pun ia terlahir sejatinya punya fitrah untuk melakukan dan menyukai kebaikan

Rantai Kebaikan yang Ajaib
FOTO/IST
CUT SRI MULYANI, Mahasiswi Informatika Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala, pengajar di Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh, melaporkan dari Isparta, Turki

CUT SRI MULYANI, Mahasiswi Informatika Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala, pengajar di Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh, melaporkan dari Isparta, Turki

SETIAP manusia dimana pun ia terlahir sejatinya punya fitrah untuk melakukan dan menyukai kebaikan. Sering kali prasangkalah yang merusak keharusan ini. Saat bertemu orang dari belahan dunia lain, terlebih dengan wajah dan bentuk tubuh yang berbeda, kita telanjur sering lebih dahulu waswas di awal, sampai akhirnya orang dimaksud nyatanya malah menawarkan kebaikan yang bahkan sangat kita butuhkan saat itu.

Hal ini pula yang saya rasakan saat berada jauh ribuan kilometer dari Tanah Rencong, di sebuah negeri yang terkenal dengan sejarah kekhalifahan Utsmaniyyah-nya yang pernah amat sangat gemilang. Ya, Turki. Siapa yang tidak kenal dengan Turki? Negara dengan dua benua yang ketenaran kebabnya telah menjalar ke gerobak-gerobak jajanan pinggir jalan di Aceh, walau dengan rasa yang sebenarnya berbeda.

Saya sangat bersyukur bisa merasakan kehidupan di Turki saat ini, walau hanya satu semester dalam rangka program pertukaran mahasiswa. Mevlana Exchange Program telah membawa saya ke sini beserta seorang teman lainnya yang juga berasal dari Unsyiah. Nama program ini diambil dari nama seorang tokoh sufi yang telah mendunia, Mevlana Jelaludin Rumi (atau dalam bahasa kita sering ditulis Maulana). Program ini pula yang telah mengantarkan kami ke Süleyman Demirel Universitesi yang terletak di Kota Isparta.

Isparta adalah kota yang dikenal dengan julukan “Kota Mawar”. Pengunjung akan menemukan bunga mawar dengan berbagai macam warna di setiap sudut kota dan sepanjang ruas jalanan Isparta. Selain ikon kotanya yang juga mawar, Isparta adalah penghasil produk berbahan baku mawar terbesar di Turki. Ada beragam produk yang dihasilkan, di antaranya sampo, sabun, krim, parfum, bahan kosmetik lainnya, bahkan makanan seperti cokelat pun ada. Sayangnya, kami tiba di Isparta saat Fall Semester, yaitu musim gugur. Jika sempat merasakan musim semi, selain mawar, kami pasti akan menyaksikan hamparan padang bunga tulip, lavender, dan berbagai jenis bunga lainnya yang memang sengaja dibudidayakan oleh penduduk setempat.

Salah satu kesulitan yang saya hadapi saat pertama kali sampai di Turki adalah susahnya menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris. Saya akui orang-orang Turki punya sifat nasionalisme yang tinggi. Namun demikian, mereka umumnya sangat ramah bagi para pendatang, termasuk orang asing. Walaupun baru pertama kali kenal, mereka bisa saja menjamu kita bak menjamu raja.

Sering kali selama di Turki saya mendapat perlakuan baik yang amat tak terduga dari orang yang bahkan belum pernah saya kenal. Pernah seorang ibu tiba-tiba menghampiri dan menawarkan dua plastik besar berisi roti saat kami sedang berjalan. Pernah pula saat ingin berbelanja buah sang bapak penjual malah memberikan dua kantong anggur dan apel, tak ingin dibayar, hanya ingin doa dari kami. Banyak lagi hal-hal serupa yang saya bahkan tidak bisa mengingatnya lagi.

Saya juga teringat akan cerita teman-teman yang sedang kuliah di Turki tentang keramahan orang-orang yang mereka rasakan saat berada di Bumi Al-Fatih ini, salah satunya saat ia mendapat pertolongan tak terduga dari seseorang yang benar-benar ingin membantu sekalipun dengan seluruh apa yang ia punya lantaran mengetahui bahwa teman saya ini berasal dari Indonesia. Saat ditanya mengapa, alasannya ia banyak mendengar kisah tentang kebaikan orang-orang Indonesia yang sedang berhaji di Tanah Suci Mekkah. Nah, begitulah adanya.

Kisah-kisah itu mengantarnya untuk melakukan hal terbaik. Bagi saya, itu adalah rantai kebaikan yang ajaib. Kebaikan orang-orang dari belahan dunia lain pun tak disangka dapat pula mengantar kebaikan bagi dirinya saat itu. Saya yakin bahwa satu senyum ikhlas pun dapat mendatangkan kebaikan lainnya kepada orang lain dan untuk diri kita sendiri. Lantas, apa lagi yang membuat kita ragu untuk berbuat baik?

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved