Sensasi Arunika Pulau Panjang Membuka Lembar Tahun Baru

PASIR putih yang dipenuhi jejak kaki para pengujung kembali mulus terbasuh air laut. Suasana teramat tenang di tepi pantai

Sensasi Arunika Pulau Panjang Membuka Lembar Tahun Baru
SERAMBI/DEDE ROSADI
Sunrise di Pulau Panjang, Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil, Selasa (1/1)SERAMBI/DEDE ROSADI 

PASIR putih yang dipenuhi jejak kaki para pengujung kembali mulus terbasuh air laut. Suasana teramat tenang di tepi pantai Pulau Panjang, Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil, Senin (31/12/2018) malam itu.

Semilir angin malam sesekali meriakkan ari laut biru tosca. Sesaat ikan kecil berlompatan mengejar kilat blitz kamera telepon genggam yang mengarah ke permukaan laut. Pulau tak berpenghuni itu mendadak gaduh ketika pemberitahuan lembar tahun baru tepat pukul 00.00 datang. Setelahnya, pengunjung Pulau Panjang serempak menyantap hidangan ikan bakar segar yang disediakan Kepala Desa Pulau Baguk, Hardi.

Selesai menyantap ikan bakar, Serambi yang datang ke Pulau Panjang bersama Kepala Dinas Pariwisata Aceh Singkil, Faisal dan anggota DPRK Aceh Singkil, Jafriadi memutuskan untuk bergadang sepanjang malam. Rugi rasanya meninggalkan kerlap kelip bintang yang menghiasi bulan sabit di ujung penghabisan malam.

Tak terasa hening malam telah berganti riang siulan burung ditangkahi dendang arus air laut memilin pasir pantai. Sejurus kemudian matahari berwarna merah terlihat keluar dari laut. Tanpa komando, pengunjung yang sedang menghangatkan badan dengan menikmati segelas kopi buatan Pak Itama, pemilik warung di Pulau Panjang, langsung mengabadikan panorama itu menggunakan telepon pintar masing-masing. Fenomena sunrise atau arunika keluar dari dalam laut hanya berlangsung dalam hitungan menit, sayang jika tak diabadikan.

Arunika pada Selasa (1/1) itu, menjadi pembuka lembar tahun baru 2019 di Pulau Panjang. Kemunculan matahari di atas horizon timur itu sungguh sempurna menerangi semesta membawa semangat baru di tahun baru.

Bukan hanya sensasi kemunculan arunika yang bisa dinikmati pengunjung Pulau Panjang. Di sebelah barat pulau yang berjarak sekitar 15 menit dari Pulau Balai, ibu kota Kecamatan Pulau Banyak itu, wisatawan dapat menikmati sunset (matahari terbenam) di pucuk lambai daun kelapa yang memenuhi gugusan Kepulauan Banyak. “Di Pulau Panjang, tidak hanya sunrise, kita juga dapat melihat sunset,” kata dr Syahyuril, wisatawan asal Subulussalam saat dijumpai Serambi di Pulau Panjang.

Pulau Panjang memang sangat cocok menjadi tempat wisata keluarga. Memiliki pasir putih sepanjang mata memandang, air laut berwarna biru tosca sangat tenang dan di dekat pantai kedalamannya kurang dari satu meter sehingga aman untuk mandi anak-anak.

Bergeser ke kedalaman 2 sampai 5 meter, pengunjung bisa melakukan snorkeling (selam permukaan) atau selam dangkal (skin diving) untuk menyaksikan terumbu karang dan aneka jenis ikan saling bekejaran.

Satu lagi yang tak boleh dilupakan adalah kuliner ikan bakar segar. Pengelola destinasi wisata yang berkembang sejak setahun terakhir menyajikan menu ikan bakar segar yang langsung dipasok oleh nelayan setempat ketika pulang melaut manakala ada pesanan. “Pulau Panjang selain indah dan alami, kuliner ikannya pun segar,” kata Muslim Ayub, anggota DPR RI yang berlibur ke Pulau Panjang bersama keluarga besarnya.

Pulau Panjang dari Singkil bisa ditempuh sekitar 1 jam menggunakan speedboat. Sedangkan dari Pulau Balai, hanya 15 menit. Di sana telah tersedia cottage kantin yang dikelola Badan Usaha Milik Desa Pulau Baguk dan perorangan. Tunggu apalagi, berliburlah ke Pulau Panjang untuk menikmati sensasi arunika keluar dari laut.(dede rosadi)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved