Opini

Misteri Usia Manusia

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, kata ‘misteri’ diartikan sesuatu yang masih belum jelas, menjadi teka-teki

Misteri Usia Manusia
BBC
Ilustrasi 

Oleh Adnan

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, kata ‘misteri’ diartikan sesuatu yang masih belum jelas, menjadi teka-teki, dan belum terbuka rahasianya. Misteri sering dihubungkan dengan setiap kejadian diluar batas kemampuan logika manusia (adikodrati, supranatural). Maka sesuatu yang masih belum jelas dan penuh teka-teki keberadaannya dianggap suatu misteri. Semisal, seseorang meninggal mendadak, fenomena aneh tentang hantu atau maob, benda terbang yang sering disebut UFO, jatuhnya beberapa pesawat terbang yang belum ditemukan hingga saat ini, semisal Adam Air 574 dan Malaysia Airlines MH370, tanah tetiba meleleh (likuifaksi), dan keberadaan usia. Usia dianggap suatu misteri karena perkara gaib tapi nyata.

Misteri usia manusia menarik diungkap karena: Pertama, penelitian ilmiah tentang usia bersifat spekulatif dan masih simpang siur kebenarannya. Semisal, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 mengungkapkan bahwa angka harapan hidup penduduk Indonesia sekitar 71 tahun. Tapi di sisi lain, ada penduduk Indonesia yang berusia lebih pendek dan panjang dari itu. Dan, kedua, agar manusia mawas diri dan dapat mempersiapkan bekal kebaikan dengan sebaik-baiknya. Karena Allah Subhanahu wata’ala menciptakan kehidupan dan kematian untuk melihat siapa yang paling baik amalannya (QS. Al-Mulk: 2). Sebaik-baik bekal adalah ketakwaan kepada-Nya (QS. Al-Baqarah: 197). Dan, profetik berpesan bahwa amalan yang paling dicintai Allah Subhanahu wata’ala adalah amalan yang terus-menerus meskipun sedikit (HR. Muslim).

Penuh teka-teki
Usia manusia penuh teka-teki dan misteri yakni: Pertama, usia biologis dan psikologis. Usia psikologis (psikis, mental) manusia berkembang seiring pertumbuhan usia biologis (berat dan tinggi badan). Maka perlakuan (treatment) para ahli, semisal psikolog, konselor, dan pendidik, dalam layanan kejiwaan dan pendidikan relevan dengan usia biologis dan psikologis seseorang. Semisal, Hurlock (1978) mengungkapkan bahwa manusia yang berusia 2-6 tahun disebut sebagai periode sensitif atau masa peka, di mana fungsi-fungsi tertentu perlu dirangsang dan diarahkan agar tidak menghambat perkembangan. Jika masa peka berbicara terlewati dan tidak dimanfaatkan dengan baik akan menghambat kemampuan berbicara atau komunikasi verbal (Susanto, 2015: 44).

Selain itu, dalam Alquran diungkap bahwa anak berusia 0-2 tahun diperintahkan untuk diberikan ASI (QS. Al-Baqarah: 233, Luqman: 14, dan Ath-Thalaq: 6). Usia 7 tahun diperintahkan untuk diajarkan shalat dan usia 10 tahun disuruh pukul (edukasi) apabila enggan mengerjakan shalat (HR. Abu Dawud). Maka orang tua berkewajiban memperkenalkan shalat pada anak (Adnan, 2018: 33). Usia 30 atau 33 tahun merupakan usia penduduk surga (HR. Ahmad). Usia 40 tahun merupakan usia kesempurnaan (QS. Al-Ahqaf: 15), dan usia 60 tahun gerbang udzur dan tanda menuju kematian (HR. Bukhari).

Sebagaimana firman-Nya, “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir, dan apakah tidak datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah azab Kami dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (Qs. Al-Fathir: 37).

Kedua, usia telah ditetapkan sejak dalam kandungan. Profetik berpesan bahwa pada usia janin 120 hari dalam kandungan, Allah Subhanahu wata’ala mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh dan menetapkan empat perkara, yaitu rezeki, ajal, amal, kebahagiaan atau kesengsaraan. Sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama 40 hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama 40 hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan 4 perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Ketiga, perjalanan usia akan diminta pertanggungjawaban. Nabi saw bersabda, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanyakan lima perkara kepadanya; yakni tentang umurnya kemana ia gunakan, masa mudanya kemana ia habiskan, ilmunya kemana ia manfaatkan, dan hartanya darimana ia peroleh serta kemana ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi).

Ini petunjuk bahwa usia merupakan satu nikmat yang diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Maka Rasulullah Shallallahu‘alaihi Wasallam berpesan agar “memanfaatkan 5 perkara sebelum 5 perkara, yakni: usia mudamu sebelum datang usia tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang kefakiranmu, luangmu sebelum datang sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Hakim).

Dan, keempat, usia tidak dapat diperlambat atau dipercepat. Dalam Alquran Allah swt menegaskan bahwa setiap makhluk hidup telah ditentukan usianya. Batas usia tidak dapat dipercepat atau diperlambat sesaatpun. Semisal firman-Nya, “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 11). Senada dengan itu juga diungkap dalam Alquran, yakni: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (QS. Ali Imran: 145). Akibatnya, seseorang tidak dapat mengetahui kapan ia akan mati dan bagaimana kondisi saat mati.

Sebab itu, bisa saja manusia hidup dalam kondisi iman, tapi mati dalam kekafiran. Sebaliknya, bisa saja manusia menghabiskan usianya dalam kekafiran dan kekufuran, tapi mati dalam keimanan karena memperoleh hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana firman-Nya, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka ia yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka ia tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17). Bahkan, Rasulullah saw saja tidak mampu memberikan hidayah kepada pamannya, Abu Thalib (QS. Al-Qashash: 56). Maka manusia beriman diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala agar menjaga keimanan dan keislamannya hingga akhir usianya (QS. Ali Imran: 102).

Usia kematangan
Dalam Alquran, usia 40 tahun disebut sebagai usia kesempurnaan, kematangan, dan spiritualitas sebagaimana firman-Nya, “Apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai 40 tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku dan agar aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15). Para mufassirin, semisal Ibnu Katsir menyebutkan bahwa usia 40 tahun merupakan usia kesempurnaan akal, pemahaman dan pengendalian diri. Pada fase usia ini jika seseorang memiliki kebiasaan tertentu maka sulit untuk dirubah kembali.

Sebab itu, usia akan terus melaju seiring pergantian hari, minggu, bulan, dan tahun. Usia akan berakhir sesuai waktu yang telah ditetapkan (limited edition). Usia yang telah berlalu tidak dapat diulang kembali. Hidup di dunia ini hanya sekali berupa; hidup dalam kemuliaan atau kehinaan. Maka nikmat usia pada 2019 ini harus diupayakan agar menjadi tahun terbaik dari tahun-tahun yang pernah dilalui (QS. Al-Hasyr: 18).

Agar bertambahnya usia hendaknya semakin meningkatkan kematangan akal dalam berpikir, pengendalian diri dan emosi, serta spiritual. “Jika hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Jika hari ini sama seperti kemarin, maka ia merugi. Dan, jika hari ini lebih jelek dari kemarin, maka ia celaka.” Mari!

Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Prodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam, IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved