Citizen Reporter

Pesona Wisata Negeri Al-Magrib

MAROKO merupakan negara yang memiliki garis pantai yang sangat panjang di Samudera Atlantik dan terdiri atas gurun dan pegunungan

Pesona Wisata  Negeri Al-Magrib
FOTO/IST
FAUZIAH AIDA FITRI, alumnus Universitas Syiah Kuala, Penerima Beasiswa S2 Chevening di Kampus Ekonomi De Montfort University, Leicester, United Kingdom, melaporkan dari Maroko

FAUZIAH AIDA FITRI, alumnus Universitas Syiah Kuala, Penerima Beasiswa S2 Chevening di Kampus Ekonomi De Montfort University, Leicester, United Kingdom, melaporkan dari Maroko

MAROKO merupakan negara yang memiliki garis pantai yang sangat panjang di Samudera Atlantik dan terdiri atas gurun dan pegunungan. Maroko juga dikenal dengan julukan “Al-Magrib”, destinasi yang sangat menarik untuk dikunjungi. Dua negara tetangganya pun punya pesona wisata luar biasa, yakni Spanyol dan Prancis.

Maroko memiliki sejarah yang berbeda, di mana kebudayaannya merupakan campuran antara kebudayaan Arab, Eropa, dan Berber. Saya berkesempatan mengunjungi beberapa kota di Maroko, yaitu Kota Fez, Chefchaouen, Rabat, Casablanca, dan Marrakesh. Di setiap kota, banyak saya temukan hal yang menarik dan unik.

Bagi wanita yang gemar berbelanja, khususnya yang menyukai barang-barang unik seperti pernak-pernik, lampu hias ala Maroko, baju gamis, dan keramik hias khas nya Maroko, Old Medina--tepatnya di Kota Fez–merupakan tempat terbaik untuk berbelanja. Kita juga dapat menemukan kerajinan tangan yang menjadi andalan wisata, seperti jaket dan tas yang terbuat dari kulit, merupakan kerajinan tangan paling terkenal dari Kota Fez.

Selain itu kita juga akan diajak melihat proses pembuatan pewarnaan jaket dan tas kulit dari tiap toko yang menjualnya. Jika hendak berbelanja di pasar, cobalah untuk menawar harga terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli karena harga yang ditawarkan masih bisa turun, tergantung kepandaian Anda menawar. Ada sedikit trik yang dapat Anda lakukan untuk mendapat harga miring, yakni berbicaralah dalam bahasa Arab atau anda bisa mengajak teman yang pintar berbahasa Arab, Spanyol, atau pun Prancis untuk bertanya harga dan menawar karena tidak banyak orang Maroko yang mahir berbahasa Inggris.

Selain itu, Fez adalah salah satu kota termurah di Maroko untuk berbelanja dibandingkan dengan kota-kota lainnya.

Saya pun melanjutkan perjalanan ke Kota Chefchaouen atau lebih dikenal dengan sebutan “Kota Biru”, terletak di jantung Maroko Rif Mountains. Keunikan yang dimiliki kota ini adalah karena suasana serbabiru yang terlukis pada keseluruhan kota, mulai dari bangunan rumah hingga dinding-
dinding kota. Saya juga coba memakai pakaian suku Amazigh di kota biru ini. Namun, Anda tetap harus waspada ketika mengelilingi kota turis kecil ini. Banyak anak-anak Maroko yang menggemaskan menawarkan diri untuk menjadi pemandu, namun ini bisa jadi modus karena mereka akan meminta bayaran mahal, begitu pula dengan orang Maroko lainnya.

Anda tetap diharuskan berhati-hati terhadap sekitar dan jangan sesekali mengambil foto mereka karena bisa jadi mereka akan minta bayaran. Banyak trik yang akan mereka lakukan terhadap pendatang untuk mendapatkan uang. Seperti yang saya alami, ketika duduk dan beristirahat sejenak untuk menikmati pemandangan, datang seorang anak kecil mengajak saya berbicara dan menawarkan dirinya untuk mengajak saya berkeliling. Namun, karena saya ditemani oleh teman yang menempuh pendidikan di Maroko, dia jelaskan bahwa itu modus si anak untuk mencari uang dan akan meminta bayaran.

Selanjutnya, saya juga berkesempatan mengunjungi dua kota sekaligus, yaitu Rabat dan Casablanca. Kedua kota tersebut merupakan ibu kota negara, yaitu Rabat sebagai ibu kota administrasi dan Casablanca sebagai ibu kota industri di Maroko. Di kedua kota ini terdapat keunikan tersendiri. Salahsatu peninggalan yang populer di Rabat adalah Kasbah des Oudaias, benteng yang didirikan di tempat strategis menghadap ke Laut Atlantik. Bangunan di tempat ini juga mempunyai kesamaan dengan yang ada di Santorini, Yunani, yakni khas berwarna putih biru.

Akan tetapi, berhati-hatilah dengan anak-anak yang menjual bunga mawar. Jangan sampai tertipu karena terkadang itu modus ketika mereka ingin berjualan, tapi ada aksi lain yang mereka rencanakan. Misalnya, mencuri dompet di kantong jaket ataupun barang lainnya. Seperti yang dialami teman saya, salah satu dari anak-anak penjual bunga mawar memaksa teman saya membeli hingga mendekatinya dan ternyata dia menaruh tangannya ke dalam kantong jaket teman saya itu. Tanpa teman saya sadari, ternyata dia kehilangan paspor yang berbentuk seperti dompet. Tapi alhamdulillah, ada orang Maroko yang berbaik hati menemukan paspornya di tengah jalan dan mengembalikannya dan orang tersebut pun mengejar anak yang menjual bunga tadi.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved