Salam

Selamat Atas Tindakan Terukur dan Profesional

Terukur dan profesional! Itulah kata yang tepat untuk sukses yang diraih tim gabungan dari Subdit III Jatanras Polda Aceh

Selamat Atas Tindakan Terukur dan Profesional
SERAMBI/SENI HENDRI.
Personel Polres Aceh Timur, menggiring tiga pelaku penculikan sekeluarga saat konferensi pers di Mapolres Aceh Timur, Rabu (2/12). SERAMBI/SENI HENDRI. 

Terukur dan profesional! Itulah kata yang tepat untuk sukses yang diraih tim gabungan dari Subdit III Jatanras Polda Aceh, Polres Aceh Timur, Polres Bireun, dan Polres Lhokseumawe yang dipimpin Kompol Suwalto, Senin (31/12), saat membekuk komplotan penculik satu keluarga dari Kota Langsa.

Label itu pantas disematkan, karena operasi senyap lintas kesatuan tersebut berhasil mulus, karena semua sandera selamat tanpa cedera, serta keluarga juga tak berhasil ‘diperas’ oleh para begundal yang menculik. Sementara tiga orang--dari lima orang--penculik berhasil dibekuk. Satu orang diantara mereka harus dilumpuhkan dengan timah panas, selaku otak komplotan dan disebut-sebut memiliki senjata api. “Kita lakukan tindakan keras kepada mereka, karena di antara mereka ada yang menggunakan senjata api. Namun dua pelaku masih dalam pengejaran,” kata Kapolres Aceh Timur, AKBP Wahyu Kuncoro didampingii Wakapolres Kompol Warosidi, dan Kasat Reskrim AKP Satrio Erwin Wilogo, melalui media ini, edisi kemarin.

Komplotan itu diberangus di Gampong Cot Rusep, Kecamatan Peusangan, Bireuen, masing-masing, Sofyan alias Abu Yan, warga Banda Aceh, Lala Sopia, dan Dika keduanya warga Kota Langsa. Abu Yan yang disebut-sebut sebagai otak pelaku dilumpuhkan dengan tembakan di kaki kirinya.

Kepada polisi, para begundal itu mengaku motif dari penculikan tersebut adalah sakit hati. Dan mereka memeras keluarga korban dengan permintaan tebusan Rp 100 juta. Tebusan itu belum dipenuhi keluarga, ketika petualangan komplotan tersebut dihentikan tim gabungan kepolisian.

Korban penculikan adalah suami istri, Irwan Syahpurtra dan Meta Isna beserta dua anak mereka, Naila Zahratul Sifa (2 tahun) dan M Abizar Harun (7 bulan). Mereka disekap sejak tanggal 26 Desember penghujung tahun lalu.

Apapun dalihnya, penculikan itu hanya membuat masyarakat kembali mencium trauma aroma konflik masa lalu di Aceh. Dan bukan tak mungkin ‘gaya’ seperti itu akan memancing libido yang sama pada masa mendatang. Konon lagi kondisi ekonomi masyarakat yang sedang terpuruk, serta tuntutan kebutuhan--termasuk untuk urusan narkoba--semakin mengemuka saja.

Lebih dari itu, tindakan penculikan tersebut seakan menguak lorong waktu untuk terbukanya peluang konflik horizontal antara sesama masyarakat, karena merasa harus membela diri dan keluarga.

Namun polisi yang bertindak cepat--sekali lagi--terukur dan profesional, membuat masyarakat kembali tenang. Mereka melihat polisi siap berada di garda depan untuk penegakan hukum dan Kamtibmas,

Lebih dari itu, masyarakat juga secara penuh mendukung tindakan tegas dan keras pihak kepolisian kepada para ‘pemancing konflik’ tersebut. Karena akan menjadi pelajaran bagi pihak lain yang mencoba coba untuk melakukan hal serupa. Kita juga mendukung imbauan polisi kepada dua orang tersangka penculik yang telah masuk daftar pencarian orang (DPO) untuk segera menyerah. Karena sesuai janji Kapolres Aceh Timur, tindakan keras akan menanti para petualang kriminal itu. Sekali lagi, selamat atas sukses kinerja, dan terimakasih dari rakyat untuk Pak Polisi.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved